nusabali

Menteri PPN: Ada Struktur Baru dalam Transformasi Ekonomi Bali

Peluncuran Bali–Kerthi Development Fund

  • www.nusabali.com-menteri-ppn-ada-struktur-baru-dalam-transformasi-ekonomi-bali

DENPASAR, NusaBali - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa menilai ada struktur baru dalam transformasi ekonomi Kerthi Bali yang sebelumnya banyak bergantung kepada sektor pariwisata.

“Secara perlahan ada perubahan struktur ekonomi di Bali yang tidak saja bergantung kepada pariwisata. Meskipun dengan jumlah wisatawan yang ada (di bawah jumlah tahun 2019), tetapi pertumbuhan ekonominya luar biasa,” kata Suharso saat peluncuran Bali-Kerthi Development Fund di Denpasar, Sabtu (19/8/2023).

“Itu menunjukkan bahwa ada sumber-sumber lain yang tidak hanya bergantung kepada kedatangan para wisatawan asing maupun domestik. Jadi penting pergeseran struktur ini,” imbuh Suharso.

Struktur baru yang dimaksud salah satunya dari kemunculan sektor pertanian, yaitu Bali yang mampu meningkatkan kemampuan produksi pangan hingga pemerataan lahan-lahan pertanian penghasil sumber pangan.

Selain itu Menteri PPN/Bappenas juga menyanjung perkembangan ekonomi kreatif dari UMKM di Bali, serta perkembangan digitalisasi yang pesat ditandai dengan berlangsungnya Bali Digifest.

Ditambah, tak lama lagi Bali akan memiliki kawasan ekonomi khusus yaitu KEK Sanur dan KEK Kura-kura Bali, sehingga akan menunjang ekonomi dari sektor kesehatan dan pendidikan.

Transformasi Ekonomi Kerthi Bali sendiri merupakan program transformasi ekonomi yang diluncurkan perdana di Indonesia pada 3 Desember 2021, di mana transformasi nasional peluncurannya baru dilakukan pada 17 Juni 2023.

Gubernur Bali Wayan Koster menambahkan bahwa perubahan struktur dalam Transformasi Ekonomi Kerthi Bali sendiri telah dirasakan, di mana setelah membandingkan kondisi pariwisata hari ini dengan tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhannya tak selaras dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

“Tahun 2023 ini sudah tidak ada pandemi, pertumbuhan ekonomi triwulan I dan II digabung jadi 5,6 persen dan Bali posisi keenam di atas pertumbuhan nasional. Tahun 2019 ketika belum pandemi 5,4 persen, padahal sekarang wisatawannya belum balik 100 persen baru 80 persen mancanegara dan domestik belum 60 persen, tapi ekonominya tumbuh lebih,” kata gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng, ini.

Adapun struktur baru selain pariwisata ini terdiri dari sektor pertanian, kelautan dan perikanan, industri manufaktur dan industri berbasis budaya Bali, IKM UMKM koperasi, ekonomi kreatif digital.

“Pertama yang sangat cepat pelaksanaannya yaitu sektor pertanian. Kita menuntaskan pertanian organik untuk sawah, di mana dari 71 ribu hektare sawah di Bali tahun ini sudah mencapai 77 persen organik dan tuntas tahun 2024,” kata Gubernur Koster di hadapan Suharso.

Dengan terbentuknya pertanian organik maka produktivitas dan kualitas pangan akan meningkat, pun ekosistem alam karena tanah dan keanekaragaman sekitar akan terjaga.

Kemudian di sektor kelautan dan perikanan saat ini mulai memberikan hasil untuk Bali, yaitu masuknya retribusi dari wisatawan yang melakukan aktivitas bahari. Retribusi ini berguna untuk mengelola kawasan laut Bali.

“Kemudian sektor industri manufaktur dalam waktu cepat minggu ini akan tanda tangan MoU pembangunan industri yang memproduksi solar dan baterai sebagai ekosistem energi baru terbarukan dari hulu sampai hilir. Jadi akan dibangun di kawasan industri Jembrana dengan luas 50 hektare. Ini sudah mulai berjalan,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali tersebut.

Pada sektor IKM, UMKM, dan koperasi juga muncul potensi baru setelah dibuatnya kebijakan soal penggunaan produk lokal yang akhirnya mengharuskan masyarakat, hotel, dan restoran menaatinya.

Sementara pada sektor ekonomi kreatif dan digital, orang nomor satu di Pemprov Bali itu melihat semakin banyak munculnya pegiat ekonomi kreatif dan talenta dari komunitas-komunitas di dalamnya. 7 ant

Komentar