nusabali

Raka Kusuma, Lebih Guru dari Guru

  • www.nusabali.com-raka-kusuma-lebih-guru-dari-guru

JIKA seniman berkumpul pasti riuh oleh gonjakan: senda gurau dan canda tawa. Gunjingan berseliweran, nyaris tidak ada omongan pasti.

Yang serius jadi bahan tertawaan. Tak peduli yang ngumpul itu penari, penabuh, perupa atau penyair. Raka Kusuma tentu sering hadir dalam obrolan tidak karuan itu, omong-omong tanpa ujung pangkal, tapi acap menjadi sumber inspirasi untuk menulis cerita atau syair.

Suatu hari Raka hadir di antara sobatnya kaum penyair di sebuah warung kopi dan tipat santok, juga menjual daluman berteman gula aren dan santan. Seorang penyajak berujar, “Kalau kita teratur makan tipat santok, lalu menyeruput kopi, berimbuh daluman, itu bisa menjadi obat kuat.”

Yang hadir terperanjat, menegakkan badan, menghentikan suapan, bahu terangkat, mata mendelik, pendengaran ditajamkan, walau sendok sudah di depan mulut, tipat siap masuk.

“Ah, yang bener saja. Memangnya bisa?” tanya seorang penyair yang suka menulis puisi mistis.
“Sungguh.... obat kuat makan.”

Tawa pun berderai, ada yang misuh-misuh terkecoh, tapi Raka tidak. Dia tetap makan mengunyah sayur tipat santok. Tersenyum pun tidak, apalagi tertawa, ogah. Baginya itu sepotong kelucuan, lewat begitu saja, tak perlu disambut derai tawa.

Raka Kusuma dikenal tak pernah tersenyum, tertawa apalagi. Baginya seakan dua hal utama yang membahagiakan banyak orang itu urusan pribadi, tak usah diumbar. Mungkin itu sebabnya dia tak banyak omong, jadi sosok santun, pendiam, jauh dari perilaku berapi-api kendati rekan-rekan sesama pengarang mempersoalkan dan menggugat karya-karyanya. Dia tetap kalem, mencoba terus teduh, tak mencak-mencak karena karyanya diobok-obok rekan pesaing, sahabat berseterunya dalam menulis puisi.

Keteduhan itu menjadi ciri Raka. Banyak yang berniat sungguh-sungguh menulis puisi dan cerpen datang berguru atau menimba pengalaman. Raka memberi arahan, ajakan, tidak perintah. Dia menyampaikan kesan, bukan penilaian. Wajar jika mereka berpendapat, Raka tak hanya mengajar, lebih terasa mendidik. Raka Kusuma itu bukan sekadar guru, dia lebih guru dari guru.

Lahir dan dibesarkan di Klungkung, menggenapkan hidup di Karangasem, menjadikan bahasa Bali Raka prima dan bermutu. Misalnya, ‘lakar kija’ (hendak ke mana) ditulis lengkap dan benar, tidak ‘kar kijo’ seperti pengucapan di Badung, Denpasar atau Gianyar. Maka beruntunglah Raka, terbiasa menggunakan bahasa Bali langgam Klungkung dan irama Karangasem, yang lengkap, baik, dan benar. Jika kita hendak menggunakan bahasa Bali dengan tertib, disiplin, dan teratur, sepantasnya membaca puisi dan cerpen Raka Kusuma.

Dalam penulisan cerpen, dia punya banyak pengikut, terutama dalam teknis penulisan di awal kisah dan tempo bercerita. Dalam cerpen berbahasa Bali yang berkiblat pada gaya Raka akan mudah kita temui cara bertutur yang pelan, mencoba ritmik, teratur, dan rapi. Ini kita kenal sebagai gaya bercerita yang belad, bahasa Bali yang berarti pelan, lamban, lambat. Kebanyakan cerita Bali memang belad, tenang-tenang saja, segawat apa pun yang diceritakan, tak pernah tergopoh-gopoh, ibarat gaya bertutur dongeng zaman lampau: tak perlu menggebu-gebu.

Ini gaya bertutur khas Raka Kusuma yang digugat sahabatnya, karena dianggap tak membawa pembaharuan dalam bercerita, kuno, kolot, kentara jelas dalam kumpulan cerpennya Bégal (2012) yang memperoleh penghargaan Widya Pataka dari Pemprov Bali. Namun, Raka cuma manggut-manggut. Si sahabat tak puas cuma menerima tanggapan angguk-angguk, dia menyerang sengit, betapa Raka mewariskan gaya bertutur lamban dalam bercerita. Padahal cerpen berbahasa Bali bisa diramu menjadi gaya berkisah yang dinamik, hidup, bersemangat, sehingga tampil cerdas dan penuh vitalitas. Raka cuma menjawab lirih, “Ampunang anaké kéntenanga tiyang.” (Jangan dong saya diperlakukan seperti itu). Dia melontarkan ucapan itu dengan melengos, mata berkedip-kedip perlahan.

Si penggugat tertawa kecil mendengar tanggapan memelas itu. Raka diam saja, tersenyum tidak, sewot juga tidak. Entahlah, dia kemudian berterus terang, jika menulis cerpen berbahasa Indonesia, dia tak cukup percaya diri bersaing dengan pengarang-pengarang lain. Lain waktu Raka menunggu kedatangan si sahabat, atau bertandang menemuinya, sembari berujar, “Tiyang kangen sareng kritik ragané,” (Saya kangen sama kritikmu) sembari membawa oleh-oleh buku.

Dia sering memberi hadiah buku kepada siapa saja. Tak cuma buku karangannya, juga buku-buku penulis lain, khusus dibeli untuk dibagikan. Kepada seorang teman dia bertandang usai belanja di toko buku, memperlihatkan kalau dia membeli beberapa buku terbitan terbaru. “Yén ragane kayun, durusang ambil.” (Kalau kamu mau, silakan ambil). Dia sampaikan itu dengan kalem, seakan memberi hadiah buku menjadi cita-cita hidupnya.

Karena kalem, Raka jadi sosok paling santun di antara pengarang Bali. Namun, dia selalu serius, selalu siap, dan suntuk kalau diajak berdebat. Ketika sekelompok orang hendak mengumpulkan dan berencana menerbitkan antologi cerpen terpilih berbahasa Bali untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Raka langsung menyodorkan pengarang dan karya-karyanya yang pantas dipertimbangkan. Siapa pun yang hendak mengetahui dan mendalami perkembangan sastra Bali modern memang harus datang ke Raka. Dia pintu gerbang sastra Bali modern.

Pintu gerbang itu tertutup sudah kini. Raka Kusuma, lahir 21 November 1957, berpulang 5 Agustus 2023. Para sahabat dan kerabat yang mengantarkan keberangkatannya kembali ke asal, ketika dia diperabukan di krematorium Desa Sulang nan rindang, 8 Agustus 2023, sangat terkesan akan perannya sebagai perawat sastra.

Selamat jalan, Raka, lelaki langsing sepanjang hidup (teman-teman tak pernah melihat Raka gemuk), dengan rambut sosoh selalu tersisir rapi. Maafkan kami yang lancang mengajakmu bergurau ngobrol ngalor-ngidul, berolok-olok kangin-kauh, untuk melupakan himpitan beban ekonomi sebagai pengarang dan penekun sastra. Semoga kita bertemu lagi, bisa tetap riuh magonjakan. 7

Pengarang
Aryantha Soethama

Komentar