nusabali

Terhenti Saat Pandemi, Festival Budaya Delod Peken, Tabanan Kembali Digelar Tahun Ini

Tampilkan Hasil Rekonstruksi Tari Pendet Pangkung yang Sudah Punah

  • www.nusabali.com-terhenti-saat-pandemi-festival-budaya-delod-peken-tabanan-kembali-digelar-tahun-ini
  • www.nusabali.com-terhenti-saat-pandemi-festival-budaya-delod-peken-tabanan-kembali-digelar-tahun-ini
  • www.nusabali.com-terhenti-saat-pandemi-festival-budaya-delod-peken-tabanan-kembali-digelar-tahun-ini

Eksistensi Tari Pendet Pangkung redup padahal tarian ini sempat dibawa tour ke Batavia (Jakarta) hingga dikenalkan ke Eropa dan Amerika pada masanya.

TABANAN, NusaBali
Desa Delod Peken, Kecamatan/Kabupaten Tabanan menggelar Festival Budaya Delod Peken V. Festival yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria ini akan berlangsung pada 14-15 Juli 2023. Menariknya Festival dengan tema Campuhaning Rasa Mahajnana Sandhi yang dibuat kali ini adalah bagian dari merekonstruksi kesenian Desa Delod Peken, yakni Tari Pendet Pangkung yang sudah punah.

Tari Pendet Pangkung adalah salah satu garapan dari penari kenamaan I Ketut Maria bersama dengan muridnya. Namun seiring berkembangnya generasi baru, eksistensi Tari Pendet Pangkung redup padahal tarian ini sempat dibawa tour ke Batavia (Jakarta) hingga dikenalkan ke Eropa dan Amerika pada masanya.

Perbekel Delod Peken, I Gede Komang Restan Wisnawa mengatakan Festival Budaya Desa Delod Peken V bukan pertama. Digelar setiap dua tahun sekali. Pertama pada tahun 2012. "Sekarang digelar yang kelima, harusnya pada tahun 2020, namun dilanda pandemi Covid-19 dan dilanjutkan tahun ini," ungkap Restan Wisnawa, Rabu (12/7).


Disebutkan untuk festival budaya kali ini memang dikemas berbeda. Lebih tepatnya bagian dari tanggung jawab Desa Delod Peken melestarikan budaya. Apalagi Puri Agung Tabanan sebagai naungan I Ketut Maria berkiprah di bidang seni berada di kawasan Desa Delod Peken. Secara singkat Restan Wisnawa menuturkan latar belakang dibuatnya Festival Budaya Delod Peken ini pada tahun 1890 Puri Agung Tabanan membangun gong pangkung atau gong asli dari Banjar Pangkung, Desa Delod Peken Kecamatan Tabanan.

Saat itu gong yang dibentuk belum dalam wujud gong kebyar, namun sudah dalam bentuk gong yadnya. Nah, di tahun 1915 barulah dibentuk atau dikembangkan menjadi Gong Kebyar dan dari sanalah tumbuh Mario kecil (I Ketut Maria, Red) bersama Gong Pangkung yang dibina Puri Agung Tabanan. "Dari sinilah lahir sejumlah tarian mulai dari Kebyar Duduk, Tari Terompong dan lainnya dan juga berkembang generasi Mario seperti I Wayan Gejir dan I Nengah Ngayi," tuturnya.

Selain dua generasi tersebut hasil dari penggalian yang dilakukan turut serta tumbuh generasi Mario baru, yakni I Wayan Sukra di tahun 1920. Kemudian berkembang pesat muncul generasi penggiat seni baru Mario, seperti I Wayan Begeg atau Pantini bersama I Nengah Rita. "Hanya saja di tahun 1942, I Wayan Gejir dan I Nengah Ngayi meninggal kemudian pelestarian Gong Pangkung ini diteruskan oleh I Wayan Sukra, I Wayan Begeg dan I Nengah Rita," jelas Wisnawa.

Setelah gong pangkung beken pada zamannya sekaa ini sempat diundang ke Jepang dan karena undangan tersebut akhirnya terbentuk Tari Pendet Pangkung. Hanya saja karena adanya perang kemerdekaan zaman itu, Tari Pendet Pangkung sempat redup. Namun di tahun 1950 sempat diajak tour atau bagian dari pengenalan seni ke Eropa dan Amerika.


"Karena tanggung jawab itulah akhirnya kami mulai menggali, melestarikan, dan mengembangkan kesenian budaya Delod Peken. Salah satunya menggali Tari Pendet Pangkung yang sekarang hampir punah. Sehingga Festival budaya pertama digelar di tahun 2012," tutur Wisnawa. Dia menerangkan dari hasil penggalian data itu penari Pendet Pangkung berjumlah enam orang. Dari segi koreografi memang berbeda dengan dari pendet pada umumnya.

Salah satunya di bagian penaburan bunga tari pendet pada umumnya berdiri sementara Tari Pendet Pangkung dalam posisi bersimpuh. Kemudian dari komposisi gerak juga berbeda. "Tari Pendet Pangkung ini nanti pada saat pembukaan festival akan tampil dibawakan oleh anak-anak Desa Delod Peken di bawah binaan sanggar yang sudah kita bentuk," ungkapnya.

Disebutkan tak hanya penampilan seni galian saja yang dipentaskan. Dalam festival tersebut turut dimeriahkan pementasan kesenian lima lintas budaya mengingat penduduk di Desa Delod Peken beragam. "Festival Budaya yang kita buat juga mengedepankan sikap toleransi. Termasuk stand kuliner khas Desa Delod Peken hingga pentas mebarungan sekaa gong anak bersama delapan banjar adat di Desa Delod Peken turut memeriahkan acara," terangnya.

Perbekel Restan Wisnawa berharap dengan digelarnya festival budaya ini kesenian khususnya Tari Pendet Pangkung tidak punah dan bisa dipentaskan pada kegiatan di sekolah, kecamatan hingga di kabupaten dan tingkat Provinsi Bali. "Festival untuk pembukaan akan dimulai sore pukul 18.00 Wita dan hari kedua dimulai sejak pagi sampai sore," tandasnya. 7 des

Komentar