nusabali

Samyasa dan Tyaga, untuk Siapa?

  • www.nusabali.com-samyasa-dan-tyaga-untuk-siapa

Kāmyānām karmanām nyāsam sāmnyāsam kavayo viduh, Sarva karma phala tyāgam prāhus tyāgam vicaksanāh. (Bhagavad-gita, 18.2)

Meninggalkan semua tindakan yang didorong oleh keinginan adalah samyasa menurut para bijak. Ketika para bijak itu bicara tentang pelepasan atas buah dari seluruh tindakannya disebut tyaga.

SECARA prinsip antara samyasa dan tyaga sama-sama berarti pelepasan atau pembebasan. Samyasa membebaskan diri dari tindakan yang didorong oleh keinginan, sementara tyaga membebaskan diri dari buah semua tindakan. Orang yang sukses melepaskan diri dari tindakan yang berasal dari keinginan disebut samyasin. Orang yang sukses tidak terikat dengan hasil tindakannya disebut tyagi. Apa bedanya? Dalam hal capaian mungkin sama, namun dalam praktik bisa berbeda. State seorang samnyasin dan tyagi sama, keduanya telah terbebas secara sempurna. Namun, saat samnyasa dan tyaga dijadikan sebagai metode atau alat di mana orang sedang berproses menuju state tersebut, ditemukan perbedaan.

Seorang samyasin fokus pada keinginan-keinginan. Samyasin tidak menolak tindakan karena secara alami ia harus bertindak. Hal yang diwaspadai adalah niat atau keinginan yang mendasari tindakan itu. Mengapa? Tindakan yang dilakukan karena keinginan akan membekas, menyisakan imprint atau memori atau vasana yang menjadi cikal-bakal samsara (tunimbal lahir). Tindakan yang terbebas dari keinginan tidak akan menimbulkan jejak. Samyasin berupaya melakukan tindakan dengan tanpa diikuti jejak. Seperti berjalan di pinggir laut, jejak-jejak secara langsung disapu ombak.

Seorang tyagi concern pada hasil tindakannya. Membebaskan diri dari hasil tindakan tidaklah mudah. Diinginkan atau tidak, hasil tindakan akan tetap ada. Ini ketentuan alam bahwa setiap tindakan akan mengarah pada hasil. Bagaimana mungkin bisa terbebas dari hasil sementara tindakan terus ada? Di sini, tindakan dan hasil adalah satu paket. Kalau bertindak tanpa didasari keinginan-keinginan mungkin lebih mudah, sementara bertindak tanpa ada hasil itu mustahil. Namun, di sinilah seni seorang tyagi. Dia mesti mampu tidak mengikatkan dirinya meskipun hasil itu tetap ada. 

Jadi, tyaga mungkin bisa dipraktikkan hanya ketika samyasa telah sampai final. Artinya, setelah sukses melakukan sesuatu semata-mata dorongan semesta, bukan dari keinginan dirinya, maka dia bisa mempraktikkan tyaga. Berakhirnya samyasa bukan berarti selesai, sebab vasana dari sisi lain bisa hadir dan mementahkan capaian awal. Ketika ada hasil dari tindakan, meskipun tindakan itu dilakukan bukan karena keinginan, tetap hasil itu bisa mengikat kita. Keterikatan inilah yang membuat vasana kembali ada. Makanya, samyasa harus diikuti dengan tyaga agar capaian menjadi sempurna. 

Bagaimana mempraktikkan tyaga? Satu-satunya yang memungkinkan adalah dengan mengenal diri. Ini persoalan identitas. Selama ini kita mengidentifikasi diri sebagai tubuh, sebagai pikiran, sebagai ahamkara. Ketika ‘diri’ ini sebagai tubuh, maka hasil tindakan, apapun bentuknya akan mengikat kita. Mengapa? Karena by nature identitas ‘diri’ sebagai tubuh itu bertalian langsung dengan tindakan dan hasilnya. Tubuh dan tindakannya adalah satu kesatuan, begitu juga hasilnya. Jadi, seorang tyagi mesti sukses memisahkan identitas ‘diri’ sejatinya dengan ‘diri-tubuh’. Bisa dikatakan bahwa praktik tyaga itu seirama dengan praktik vairagya, mengenal mana nyata dan mana falsu. Saat yang nyata dikenali, maka seluruh hasil tindakan tidak lagi mengikatnya.

Maka, saat secara bersamaan orang mampu melepaskan diri dari tindakan dan hasilnya, ialah disebut yogi. Samyasa dan tyaga mesti dipraktikkan secara berantai. Di mana orang bisa mempraktikkan itu? Di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya? Ini adalah upaya individu, dan sangat baik jika ada seorang guru yang menuntunnya. Jalan ini sederhana, tetapi pikiran hampir tidak mampu melacaknya. Guide yang memahami peta jalan ini sangat diperlukan. Mengapa? Karena pikiran tidak pernah sederhana. Pikiran by nature ruwet dan akhirnya bingung sendiri, berputar-putar sendiri. Praktik samyasa dan tyaga pada tahap awal sebenarnya untuk melatih pikiran. Semakin sederhana cara berpikir seseorang, semakin dia memahami tentang pentingnya praktik ini. Tanpa kesederhanaan itu, meskipun dibaca seribu kali, pikiran tidak akan memahaminya apalagi ide untuk mempraktikkannya. But, no other way, dua kata ini bermakna hanya kepada mereka yang telah sesak dengan kusutnya pikiran. 7

I Gede Suwantana
Bali Vedanta Society

Komentar