nusabali

Properti 2016 Lebih Bergairah

  • www.nusabali.com-properti-2016-lebih-bergairah

Properti 2016 diproyeksikan lebih bergairah. Salah satu pemicunya adalah masuknya investasi asing. Beberapa kawasan sudah dibidik. Sejumlah proyek pun telah direncanakan. Kapan terealisasi? 

Dedy memperkirakan hotel akan meniadakan tarif flat guna menarik tamu lebih banyak. “Intinya, tarif bisa dibicarakan dengan konsumen. Yang penting volume tercapai, dan akhirnya mendongkrak okupansi,” jelas Dedy.

Sejalan dengan penghapusan tarif flat, hotel juga akan memperhatikan fluktuasi rate. Dari fluktuasi tersebut akan terbaca pada periode apa hotel kebanjiran tamu (peak season). Pada periode tersebut, menurut Dedy, hotel akan memaksimalkan volume tamu. “Saya percaya, naiknya volume akan menaikkan okupansi, dan akan berdampak kepada pendapatan,” tegas Dedy.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit memprediksi pertumbuhan properti pada 2016 akan lebih bergairah, sebagai imbas pertumbuhan ekonomi yang juga bakal meningkat tahun depan. Pertumbuhan bisnis properti akan meningkat 10–12 persen dari  tahun ini.Tahun 2015 adalah tahun terburuk dalam penjualan properti. Bisnis properti mengalami penurunan yang cukup dalam pada triwulan I dan II lalu. Dibanding tahun lalu, bisnis properti mengalami penurunan hingga 30 persen.

Tahun ini, Panangian mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7 persen. Berdasarkan keterangan dari International Monetary Fund (IMF), Bank Indonesia (BI), dan Bank Dunia, disebutkan pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 5,2 hingga 5,5 persen. "Jadi diperkirakan ada pertumbuhan ekonomi hingga sepuluh persen," katanya seperti dilansir Tempo.

Tak hanya peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi gairah bisnis properti juga ditentukan oleh tingkat suku bunga. Untuk itu, pemerintah harus menurunkan suku bunga hingga di bawah tujuh persen. Kenyataannya, suku bunga belum turun. “Namun prediksi saya tahun depan suku bunga pasti turun." 

Sebetulnya pada Juli lalu, Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan kelonggaran down payment dan loan to value yang sempat diperketat. Namun efeknya tidak dirasakan masyarakat karena daya beli sudah terlanjur merosot, terutama dalam bisnis properti. "Kebijakannya sudah terlalu terlambat sehingga efeknya akan terlihat pada 2016 saat suku bunga turun, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan daya beli masyarakat naik," katanya. 7 beragam sumber

Komentar