nusabali

Astindo Sebut Dewi Butuh Pendampingan

Minim Kunjungan

  • www.nusabali.com-astindo-sebut-dewi-butuh-pendampingan

JAKARTA, NusaBali - Ketua Bidang Tour Inbound & Domestic Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Heben Ezer menuturkan, desa wisata (dewi) saat ini minim kunjungan wisatawan. Desa wisata yang dimaksud termasuk yang jadi nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), ajang tahunan yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Desa wisata yang jadi pemenang ADWI pun saat ini miskin kunjungan," kata Heben saat ditemui di Artotel Suites Mangkuluhur di Jakarta Selatan, Jumat (26/4) seperti dilansir kompas.com.

Menurutnya, ada beragam faktor yang menyebabkan kondisi ini bisa terjadi. Salah satunya karena minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga menurutnya desa wisata butuh pendampingan. Ia mencontohkan, Desa Wisata Cibuntu di Kuningan, Jawa Barat, mendapat pendampingan dari Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta.

Dikutip dari laman resmi Jadesta Kemenparekraf, pada 2010 diadakan Nota Kesepahaman Kerjasama antara Pemerintah Kuningan dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta.

Kerja sama ini berkaitan dengan pengembangan agroecotourism berbasis organik untuk meningkatkan daya saing Kabupaten Kuningan.

“Dari kerja sama ini, diadakanlah pendampingan serta pelatihan, seperti memasak, pengembangan kuliner, pengembangan homestay, pemandu wisata, penyusunan paket wisata, dan pelatihan dasar ilmu kepariwisataan. Namun, kata Heben, tidak banyak desa yang mendapatkan hal yanng serupa dengan Desa Wisata Cibuntu.

"Jadi desa wisata ini perlu mendapatkan dana pendampingan, misalnya Kementerian menunjuk apapun asosiasinya untuk mendampingi desa wisata tersebut," kata Heben.

Pendampingan yang dimaksud mulai dari pengelolaan itinerary, membuat paket akomodasi, hingga pemasaran dan mendatangkan wisatawan ke desa tersebut.
lain kebutuhan dana, Heben mengatakan bahwa kolaborasi antara desa wisata dengan stakeholder (pemangku kepentingan) terkait bisa membantu mengembangkan desa wisata.

Ia mencontohkan kolaborasi yang dilakukan oleh Desa Wisata Bilebante di Lombok, Nusa Tenggara Barat, bersama jenama kecantikan lokal, Mustika Ratu. Pada kolaborasi ini, ucapnya, terdapat pelayanan spa yang sumber dayanya menggunakan produk Mustika Ratu.

"Buat Mustika Ratu untung, karena setiap ada wisatawan yang spa, semua sumber dayanya itu dari produknya Mustika Ratu, jadi bisa untuk branding juga," katanya.

Menurut Heben, kolaborasi seperti ini juga bisa dilakukan bersama pihak bank terkait untuk membangun desa wisata. Dengan demikian, desa wisata di Indonesia tidak hanya populer pada saat meraih kemenangan dalam suatu kompetisi semata. 7

Komentar