nusabali

Petani Stroberi akan Dibantu Alat Pasca Panen

  • www.nusabali.com-petani-stroberi-akan-dibantu-alat-pasca-panen

SINGARAJA, NusaBali
Kelompok Tani Segening, kelompok petani stroberi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, bakal mendapatkan bantuan alat pengolahan stroberi.

Bantuan sarana dan prasarana pasca panen dan pengolahan hortikultura senilai Rp 400 juta itu akan disalurkan tahun ini. Bantuan ini ditujukan mendorong para anggota kelompok tani memproduksi olahan stroberi.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng, I Gede Subudi mengatakan, sebagian besar para petani stoberi di Desa Pancasari, hanya memasarkan stroberi dalam bentuk yang masih segar. Mereka juga membuka wisata petik stroberi di lahannya. Sementara petani yang memproduksi olahan stroberi masih sangat minim.

Kata Subudi, di Desa Pancasari dari puluhan petani baru satu yang membentuk kelompok tani yakni, kelompok Tani Segening. Saat ini ini kelompok tani tersebut, sudah melakukan pengolahan stroberi dalam skala kecil. Hanya saja belum maksimal karena belum memiliki alat pengolahan stroberi yang memadai, sehingga pihaknya akan salurkan bantuan.

"Di sana ada Kelompok Tani Segening yang beranggotakan sekitar 56 petani. Mereka mulai berusaha tidak hanya menjual dalam bentuk buah segar. Mereka mengolah menjadi sari buah, hingga olahan jajanan kering untuk nilai tambah. Mereka yang paling siap. Kami beri bantuan alat pengolahan senilai 400 juta," kata Subudi, Rabu (18/1).

Ia mengungkapkan, saat pandemi Covid-19 penghasilan petani dari pariwisata sempat anjlok karena sepi pengunjung. Di sisi lain, mereka belum maksimal memproduksi dan memasarkan hasil olahan stroberi. Padahal pertanian stoberi di desa paling selatan Buleleng ini, menjadi yang terbesar di Bali. Pada tahun 2022 lalu saja, panen stroberi di Desa Pancasari mencapai sekitar 231 ton.

Namun, persaingan antar petani cukup ketat. Sedangkan sebagian besar petani belum bisa mengolah hasil panennya dan hanya menjual dalam bentuk buah segar. "Mudah-mudahan dengan bantuan ini par petani di kelompok ini punya produk olahan yang bernilai ekonomi dan bisa bersaing," harapnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan lahan pertanian stroberi semakin berkurang. Pada tahun 2019 lalu produksi pertanian stoberi di desa setempat mencapai 11 hektare. Namun pada tahun 2022 produksi pertanian stoberi turun menjadi 6 hektare.

Subudi menyebut, sejatinya harga jual stroberi saat ini masih tinggi. Dimana harga di petani bisa mencapai Rp 25.000-30.000 per kilogram. Namun, karena pengembangan stroberi yang membutuhkan biaya tinggi. Petani banyak yang memilih untuk menanami lahannya untuk komoditas lain. Hal itulah yang membuat lahan pertanian stroberi semakin berkurang.

Kendati demikian, produksi stroberi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, tetap banyak diminati bahkan oleh perusahaan di luar Bali. Stroberi ini dibeli dengan kondisi beku oleh perusahaan minuman kemasan dari Jawa.

Kata Subudi, pertanian stroberi di Buleleng akan terus eksis. Bahkan pertanian stroberi ini mulai dikembangkan di daerah lain, seperti di Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng. Petani di desa setempat, sudah melakukan penanaman stroberi sejak pertengahan tahun 2022 lalu seluas sekitar 2 hektare. *mz

Komentar