nusabali

Ubud Writers and Readers Festival Kembali Hadir Wadahi Emerging Writers Indonesia

  • www.nusabali.com-ubud-writers-and-readers-festival-kembali-hadir-wadahi-emerging-writers-indonesia
  • www.nusabali.com-ubud-writers-and-readers-festival-kembali-hadir-wadahi-emerging-writers-indonesia
  • www.nusabali.com-ubud-writers-and-readers-festival-kembali-hadir-wadahi-emerging-writers-indonesia
  • www.nusabali.com-ubud-writers-and-readers-festival-kembali-hadir-wadahi-emerging-writers-indonesia
  • www.nusabali.com-ubud-writers-and-readers-festival-kembali-hadir-wadahi-emerging-writers-indonesia

DENPASAR, NusaBali.com – Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) kembali hadir untuk kali ke-19. Hampir dua dekade membawa semangat pemulihan Bali pasca Bom Bali I, UWRF konsisten jadi wahana penulis berkembang tanah air sejak 2008.

Festival yang dinaungi lembaga nirlaba Yayasan Mudra Swari Saraswati ini didirikan oleh seorang perempuan asal Australia Janet DeNeefe. Janet yang awalnya hanya berwisata ke Bali mulai tahun 1975 kemudian jatuh cinta dengan Bali dan salah satu pemudanya yakni Ketut Suardana.

Ketut Suardana adalah salah satu sosok pendiri dan pembina Yayasan Mudra Swari Saraswati. Yayasan dari tanah para pujangga Bali, Ubud, yang memiliki misi untuk mengenalkan karya-karya anak bangsa ke kancah global.

Menurut pendiri UWRF, Janet DeNeefe, festival ini ia dirikan dengan dukungan sang suami, Ketut Suardana, sebagai respons atas kejadian menguras emosi bagi masyarakat Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2022.

Melalui UWRF yang ia dirikan pada tahun 2004, setahun sebelum Bom Bali II, ibu Puteri Indonesia 2022 Laksmi Shari DeNeefe Suardana ini memiliki cita-cita mulia untuk mewarnai kehidupan masyarakat dan pariwisata Bali agar lebih bergairah di saat situasi yang sedang kelabu pada waktu itu.

“UWRF didirikan sebagai respons atas Bom Bali I. Pasca kejadian itu, situasinya mirip seperti hari ini di mana pariwisata anjlok dan sangat menguras emosi. Tidak ada yang menyangka itu akan terjadi di tanah kita,” ujar Janet pada jumpa pers UWRF 2022 di The Ambengan Tenten, Jalan Imam Bonjol Gang Rahayu 16A Denpasar, Selasa (18/10/2022) siang.

Kata Janet, menyuarakan gagasan dan pemikiran lewat karya-karya literatur merupakan salah satu senjata paling ampuh dalam melawan ketidakadilan. Oleh karena itu, UWRF hadir sebagai tempat yang netral dan menyambut siapa pun bagi orang yang ingin menceritakan pemikirannya.

Berselang empat tahun setelah didirikan, tepatnya pada tahun 2008, UWRF mulai menjadikan dirinya sebagai batu loncatan bagi emerging writers tanah air. Emerging writers adalah penulis potensial yang sedang berkembang namun belum memiliki publikasi memadai bagi karya-karya yang mereka hasilkan.

Tahun ini, sepuluh emerging writers dengan karya cerita pendek yang lolos seleksi diberikan kesempatan untuk mendapatkan pelatihan intensif dari IOWA Institute dengan mentor-mentor internasional. Hasil karya emerging writers yang dipertajam kemampuan menulisnya dalam program ini akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi dwi-bahasa.

Menurut salah satu kurator Emerging Indonesia UWRF 2022, Adnyana Ole, 262 penulis potensial dari seluruh Indonesia dengan 1.310 karya tersebut rata-rata mengedepankan nilai-nilai lokalitas berkaitan dengan kebudayaan asal masing-masing penulis.

“Kalau berbicara genre cukup sulit ditentukan karena cara pencarian mereka itu beragam. Ada penemuan-penemuan baru yang mereka buat. Tetapi menurut saya, yang paling banyak adalah lokalitas. Nilai-nilai tradisi, adat, dan kebiasaan di suatu tempat,” terang Adnyana Ole di kesempatan yang sama.

Selain perihal lokalitas, karya-karya penulis berkembang ini pun dikatakan eksperimental lantaran gemar menggabungkan beberapa aspek tema dalam satu cerita. Namun, kata penulis senior Bali ini, pada akhirnya yang dinilai adalah seberapa berhasil para penulis meyakinkan kurator bahwa mereka membawa sesuatu hal yang baru.

Lewat UWRF, para emerging writers yang terpilih ini difasilitasi untuk bertukar pikiran dan gagasan dengan para tokoh internasional. Kata Janet selaku pendiri UWRF, festival tahun ini, tokoh tersebut bukan hanya berasal dari kalangan penulis, melainkan juga aktivis, seniman, dan sineas dari sedikitnya 15 negara.

Mengangkat tema yang terinspirasi dari filosofi Jawa kuna yakni ‘Memayu Hayuning Bawana’ yang secara prinsip bermakna memuliakan semesta. Tema ini kemudian diejawantahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi ‘Uniting Humanity’ dengan maksud menyatukan kemanusiaan (semesta) setelah pandemi dan di tengah peperangan yang terjadi saat ini.

Festival yang berlangsung di Taman Baca, Jalan Raya Sanggingan Ubud pada 27-30 Oktober 2022 ini pun akan dimeriahkan oleh beberapa tokoh kenamaan dalam negeri seperti Rara Sekar, Kamila Andini, Ahmad Faudi, Robi Navicula, Putu Oka Sukanta, dan beberapa tokoh lain.

Dapat dikatakan festival ini juga menjadi wadah bagi sastra dalam bentuk teks berupa peluncuran buku dan alihmedianya yakni pertunjukan musik, pemutaran film, workshop, dan diskusi dengan berbagai topik yang dibawakan oleh pembicara dalam dan luar negeri.

Tokoh-tokoh luar seperti Carla Power, Tim Baker, Eric Weiner, Audrey Megae, dan sedikitnya 150 pembicara lain direncanakan akan membagikan pemikiran mereka dalam acara sastra fiksi dan non-fiksi ini.

Untuk kunjungan selama empat hari, pengunjung lokal dikenakan tiket senilai Rp 750.000 dalam acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 Wita ini. Setiap workshop yang ingin diikuti peserta lokal perlu merogoh kocek sebesar Rp 250.000. Namun, pengunjung tidak akan dikenakan biaya sepeser pun apabila berkunjung pada pukul 17.00 Wita ke atas.

Selama pukul 17.00 Wita ke atas ini, festival akan diramaikan dengan pemutaran film, pertunjukan musik, diskusi sastra malam, dan tenant kuliner. *rat

Komentar