nusabali

Spirit Ubud Penebar Kebahagiaan Bersama

  • www.nusabali.com-spirit-ubud-penebar-kebahagiaan-bersama
  • www.nusabali.com-spirit-ubud-penebar-kebahagiaan-bersama

Kegiatan budaya ini merupakan persembahan tulus suci kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, alam semesta, dan manusia, dan bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis maupun pariwisata.

GIANYAR, NusaBali
Desa/Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud, Gianyar, sebuah desa budaya yang unik dan desa wisata dengan beragam prestasi skala dunia. Oleh karena itu, Ubud bukan saja rumah bagi krama (warga setempat), namun juga destinasi yang tak sebatas memuaskan indra, namun juga membahagiakan batin warga dunia.

Kondisi tersirat dari riset doktoral dosen Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud) Tjokorda Gde Raka Sukawati alias Cok De, berjudul ‘Marketing Dalam Perspektif Tri Hita Karana Melampaui Kepuasan Berorientasi Kebahagiaan’. Hasil riset ini diorasikannya dalam upacara Pengukuhan Guru Besar Tetap secara hybrid (kombinasi daring-luring) dari Gedung Auditorium Widya Sabha Kampus Jimbaran, Badung, Sabtu (29/1).

‘’Sederhananya, bahwa orang puas belum tentu bahagia. Tetapi orang bahagia sudah pasti puas,’’ jelas Cok De, mempertegas kajiannya tersebut, Jumat (4/2).

Keunggulan dari riset etnografi tersebut, yakni Cok De tak hanya menempatkan diri sebagai peneliti, namun juga pelaku dan lahir di objek penelitian, di Desa Ubud. Cok De lahir di Puri Agung Ubud, 16 Juli 1960, dikukuhkan menjadi guru besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi (FE) Unud. Dosen FE Unud yang arsitek Bade ageng ini menyelesaikan pendidikan S3 Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Dia salah seorang putra dari Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978) yang merupakan panglingsir Puri Agung Ubud (1930-1978). Ibunya, Anak Agung Niang Rai (1933-2011), dari Puri Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Cok De menyebut, Ubud mengalami masa transformasi dari desa agraris menuju desa pariwisata, berkat peran sentral Ida Tjokorda Gde Agung Sukawati, ayahanda bersama sejumlah tokoh Ubud di masanya. Mereka menginisiasi perubahan tersebut dengan ‘membuka diri’ serta membangun kolaborasi dengan beberapa seniman barat, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Antonio Blanco.

Sejak tahun 800 oleh Rsi Markandya memberikan nama ‘Ubud’ berasal dari kata Ubad (obat) dari kisah pertemuan dua sungai, yakni Wos Lanang dan Wos Wadon. Dengan mengutip pendapat Koentjaraningrat, bahwa budaya terdiri atas sistem nilai yang identik dengan parhyangan, sistem sosial identik dengan pawongan, dan sistem kebendaan atau artefak identik dengan palemahan. Pada sistem ini, keberadaan Puri Ubud sebagai warisan leluhur tidak saja merupakan pusat budaya dan tujuan utama wisatawan datang ke Ubud. Namun kesakralan dan warisan artefaknya masih dijaga dan terawat dengan baik. Puri berperan menjaga simbol-simbol sakral seperti arca dan barong. Sebagai sangging, Cok De juga banyak terlibat membuat, merawat, dan melestarikan simbol-simbol Tuhan berupa arca dan barong itu.

Terkait itu pula, Pura Gunung Lebah Ubud merupakan spirit Ubud, sekaligus tempat menstanakan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Pura ini telah dua kali diperbaiki oleh Puri Ubud, dilanjutkan upacara tahun 1991 dan 2014 dengan karya Padudusan Agung dan Pedanaan, serta Panca Wali Krama yang bermakna korban kelima penjuru mata angin.


Penerapan sistem nilai selanjutnya dalam konsep keseimbangan tiga dimensi, yaitu Dharma, Artha, Kama, sebagai media untuk penerimaan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widhi Wasa berupa usaha akomodasi The Royal Pita Maha. Kondisi ini didukung oleh hasil penelitian dimana diferensiasi destinasi berdasarkan keunikan akomodasi di tepian jurang. Pembangunannya tanpa menggunakan gambar karena berinteraksi langsung dengan alam. Pekerja menggunakan materi setempat dengan manajemen profesional berbasis tradisi babanjaran dan gotong royong dengan pembagian ruang.

Selain itu, Cok De membangun Taman Dedari di The Royal Pita Maha, Desa Kedewatan, Ubud. Destinasi wisata yang baru dibuka sekitar setahun lalu itu, pembangunannya menganut nilai-nilai kearifan lokal Tri Hita Karana (THK). Brand atau simbol Taman Dedari diangkat dari sejarah Desa Kedewatan, berkisah perjalanan Maha Rsi Markandya, setelah dari Desa Taro hingga tiba di Kedewatan. Desa ini adalah tempat yang indah dan damai serta terlihat banyak bidadari di sungai bernama Tukad Ayu (Ayung).

Cok De menjelaskan, berkah manfaat ekonomi dari pariwisata di Ubud tersebut dipersembahkan kembali dalam wujud Panca yadnya. Salah satunya, upacara palebon yaitu bhakti kepada leluhur. Palebon ini juga sebagai perekat persatuan dan kesatuan sameton, dengan Bade buatan Cok De tinggi sekitar 30 meter hingga mendapatkan pengakuan Muri sebagai bade tertinggi dan penghargaan dari Gubernur Bali tahun 2008. 

Sebagian dari kegiatan budaya ini merupakan persembahan tulus suci kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, alam semesta, dan manusia, dan bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis maupun pariwisata. Ketulusan dan keyakinan masyarakat Ubud dalam lakon THK ini secara tidak langsung menjadi strategi pemasaran yang memunculkan konsep kebahagiaan bersama.

‘’Keunikan inilah yang menjadi pembeda dalam merumuskan model pemasaran baru yang berorientasi kebahagiaan Tri Hita Karana (THK),’’ jelas suami dari Dra Tjokorda Istri Nilawati, dan berputra Tjokorda Gde Mandhara Putra Sukawati SE ini.

Menurut Cok De, tingkatan upacara baik utama, madya dan nista, adalah persembahan sarat dengan rasa dan makna. Upacara ini memberikan vibrasi energi positif, di Bali dikenal dengan taksu yang menyebar ke seluruh dunia. Ini pula menjadikan Ubud destinasi unik, langka, dan tidak bisa ditiru hingga meraih penghargaan sebagai kota wisata terbaik keempat di dunia. 7lsa

Komentar