nusabali

Beli Beras Petani, PD Swatantra Siapkan Rp 1 Miliar

  • www.nusabali.com-beli-beras-petani-pd-swatantra-siapkan-rp-1-miliar

Gabah petani pada musim panen pertama di tahun 2020, tidak laku sebagai imbas pandemi Covid-19.

SINGARAJA, NusaBali

PD Swatantra, salah satu perusahaan milik Pemkab Buleleng menyiapkan modal sekitar Rp 1 miliar, guna membeli gabah maupun beras lokal petani yang kurang laku akibat pandemi Covid-19. Rencananya, PD Swatantra mulai bergerak menyambangi usaha penyosohan beras yang ada di Buleleng, Kamis (14/5) ini.

Dirut PD Swatantra, Gede Bobi Suryanto yang dikonfirmasi Rabu (13/5) mengatakan, modal usaha yang disiapkan untuk pembelian gabah maupun beras petani lokal sekitar Rp 1 miliar, bersumber dari hasil sewa mobil dinas kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkab Buleleng. Total ada 70 unit kendaraan yang disewa oleh seluruh OPD sebagai kendaraan dinas. “Dari perhitungan kami, dari hasil sewa kendaraan dinas sampai akhirnya Mei, kami punya modal sekitar Rp 1 miliar. Tetapi biasanya sewa kendaraan dinas itu baru full masuk pada Juni. Mudah-mudahan pada April ini sudah ada masuk sekitar Rp 500 juta, sehingga itu yang kami manfaatkan dulu membeli gabah maupun beras lokal,” terang Gede Bobi yang baru menjabat Dirut PD Swatantra sejak Februari 2020.

Menurut Gede Bobi, rencananya pihaknya mulai menyambangi usaha penyosohan beras yang ada di beberapa tempat, Kamis ini. Langkah itu guna memastikan usaha penyosohan beras kelebihan stok, sehingga pihaknya bisa membeli kelebihan produksi beras tersebut. Selain beras, bila ada kelebihan gabah, pihaknya juga siap membeli gabah petani. “Kalau ada penyosoh beras yang kelebihan produksi, kami bisa langsung beli, termasuk juga gabahnya. Kami akan mengutamakan produksi pertanian lokal dulu, kalau yang di luar biarkan Bulog yang menangani,” kata pria asal Desa Tista, Kecamatan Busungbiu ini.

Secara teknis, Gede Bobi menjelaskan, gabah yang dibeli akan dibawa ke penyosoh beras yang sudah bekerjasama dengan PD Swatantra. Sedangkan untuk berasnya, untuk sementara akan disimpan di tempat penyosohan, hingga dijual kembali kepada Aparatur Sipil Negara  (ASN) di lingkup Pemkab Buleleng, atau didistribusikan kepada Koperasi dan BUMDes yang membutuhkan. “Ke depannya kami memang harus menyiapkan gudang sendiri, untuk sementara kami sudah memiliki tempat sementara, atau dititip dulu di penyosoh, kan ini untuk menangani kelebihan produksi di bulan Mei saja,” jelasnya.

Masih kata Gede Bobi, modal usaha sebesar Rp 1 miliar  akan diputar terus, untuk menjadikan PD Swatantra sebagai perusahaan yang menampung hasil bumi di Buleleng. “Ke depannya, PD Swatantra akan selalu menjaga harga dasar hasil pertanian dan perkebunan di Buleleng. Sehingga petani tidak dirugikan,” ujarnya.

Sebelumnya, gabah petani pada musim panen pertama di tahun 2020, ternyata tidak laku sebagai imbas pandemi Covid-19. Dalam situasi itu, Pemkab Buleleng langsung mengambil kebijakan menyiapkan stimulus kepada Lumbung Pangan Masyarakat (LPM), agar gabah patani bisa dibeli. Sedangkan untuk berasnya, Pemkab telah menunjuk PD Swatantra untuk membeli.

Informasinya, sektor pertanian ikut terimbas Covid-19. Pada musim panen pertama (Kerta Masa) periode April-Mei, petani kesulitan menjual gabah mereka. Biasanya, petani sudah bisa menjual ketika padi masih menguning. Namun, situasi Covid-19, tidak ada saudagar yang datang menawar padi milik petani. Alhasil, petani terpaksa memanen padi mereka, dengan biaya yang tidak sedikit. Setelah diolah menjadi gabah pun, petani masih sulit menjualnya.

Di Buleleng sendiri, pada produksi gabah kering giling hingga Mei 2020, tercatat 18 ribu ton lebih, dari luas lahan 35 hektar.  “Ini bisa dimaklumi, karena mereka (Saudagar,Red) juga takut keluar dalam situasi Covid-19 ini. Sehingga tidak banyak petani bisa menjual langsung padinya. Petani terpaksa memanen sendiri padi mereka,” terang Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta.

Keluhan para petani itu langsung disikapi dengan memberikan stimulus kepada Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) untuk membeli gabah petani. LPM ini merupakan kelompok petani dengan kapasitas penggilingan teratas hingga 500 kilogram per jam, dan hanya bisa beroperasi 4-5 jam. Total ada 16 LPM yang akan diberikan stimulus antara Rp 20 juta sampai Rp 25 juta. Keputusan pemberian stimulus, diambil dalam rangka penguatan ekonomi di Kabupaten Buleleng. *k19

Komentar