nusabali

Ibu Angkat Cok Ace Lebar di Usia 96 Tahun

  • www.nusabali.com-ibu-angkat-cok-ace-lebar-di-usia-96-tahun

Keluarga Puri Agung Ubud, Gianyar kembali akan menggelar palebon agung pada Sukra Umanis Kelau, Jumat, 2 Maret 2018 mendatang.

GIANYAR, NusaBali

Palebon agung kali ini adalah untuk jenazah Anak Agung Niyang Agung, 96, ibu angkat mantan Bupati Gianyar 2008-2013 Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, yang lebar (meninggal dunia) dalam perawatan di RS Bros Niti Mandala Denpasar, Minggu (14/1) subuh.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Minggu subuh sekitar pukul 05.00 Wita, AA Niyang Agung sempat selama tiga hari dirawat di RS Bros, sejak Jumat (12/1) lalu. Perempuan sepuh berusia 96 tahun ini dilarikan ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas.

Jenazah almarhum AA Niyang Agung sudah dibawa pulang ke rumah duka di Puri Agung Ubud, Desa Pakraman Ubud, Kecamatan Ubud, Minggu pagi sekitar pukul 09.00 Wita. Jenazah almarhum langsung disemayamkan di Gedong Rata, Puri Saren Agung Ubud. Pantauan NusaBali, ratusan kerabat dan prajuru adat Desa Pakraman Ubud menghadiri prosesi pesemayaman jenazah kemarin.

Siapa AA Niyang Agung? Menurut Cok Ace, almarhum AA Niyang Agung adalah kakak kandung dari Panglingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Agung Suyasa (almarhum) dari Puri Saren Kawan Ubud. AA Niyang Agung kemudian menjadi istri kedua dari ayahnda Cok Ace, yakni Tjokorda Gde Agung Sukawati---tokoh perintis pariwisata Ubud.

Sedangkan istri pertama sang ayah adalah AA Niyang Rai Mengwi, namun tak punya anak. Almarhum AA Niyang Rai Mengwi sendiri lebar tahun 2000. Karena tak punya anak dari istri pertamanya, kata Cok Ace, maka ayahnya menikah lagi dengan AA Niyang Agung sekitar tahun 1940.

Pernikahan Cok Agung Sukawati dan AA Niyang Agung dikaruniai seorang anak perempuan, yakni Tjokorda Istri Atun Sukawati alias Cok Atun, 75, yang menikah ke Puri Singapadu, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar. “Karena kakak saya, Cok Atun bersekolah SR (setingkat SD, Red) di  Singaraja, maka saya diangkat jadi anaknya oleh almarhum AA Niyang Agung,” jelas Cok Ace kepada NusaBali di sela upacara menyemayamkan jenazah ibu angkatnya di Puri Agung Ubud, Minggu kemarin.

Cok Ace sendiri lahir dari istri ayahnya yang ketiga, AA Niyang Rai Bungbungan, asal Puri Bungbungan, Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Selain Cok Ace, AA Niyang Rai Bungbungan juga memiliki dua anak lagi, yakni Tjokorda Gde Putra Sukawati alias Cok Putra yang kini menjadi Panglingsir Puri Agung Ubud dan Tjokorda Gde Raka Sukawati alias Cok De (yang dikenal sebagai arsitek bade). AA Niyang Rai Bungbungan meninggal tahun 2011, saat Cok Ace masih menjabat Bupati Gianyar (2008-2013).

Cok Ace mengaku sangat terkenang dengan ketulusan ibu angkatnya, almarhum AA Niyang Agung. Almarhum dengan telaten merawat Cok Ace seperti anak kandung sendiri. Hal ini juga salah satu bentuk kebesaran hari ibu kandung Cok Ace, AA Niyang Rai Bungbungan, yang memberikan anak kandungnya kepada almarhum.

“Makanya, begitu ada ucapan dukacita di facebook yang menyatakan ‘Ibu Tiri Cok Ace meninggal’, saya agak terganggu dengan istilah ‘ibu tiri’ itu. Pasalnya, almarhum sudah saya anggap ibu kandung sendiri,” jelas Cok Ace yang juga Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Bali pendamping Wayan Koster yang diusung PDIP-Hanura-PKPI-PAN-PKB-PPP di Pilgub Bali 2018.

Cok Ace menambahkan, ayahnya dulu memberikan hak pengasuhan kakaknya, Cok Putra, dan adiknya, Cok De, kepada ibu yang melahirkannya, AA Niyang Rai Bungbungan. Sedangkan hak pengasuhan untuk Cok Ace sejak kecil diberikan untuk almarhum AA Niyang Agung.

“Pembagian pengasuhan ini karena kebesaran hati ibu kandung dan peran bijak bapak dalam menjaga kerukunan tiga istrinya,” jelas Cok Ace. Almarhum AA Niyang Agung sendiri berpulang buat selamanya meninggalkan 1 anak kandung, 5 cucu, dan satu cicit.

Sementara itu, adik kandung Cok Ace, yakni Cok De, mengatakan sejauh ini belum ditentukan hari H upacara palebon almarhum AA Niyang Agung. Namun, sesuai jadwal, palebon direncanakan sekitar awal Maret 2018 mendatang.

Menurut Cok De, pihaknya segera akan nunas baos (petunjuk) kepada sulinggih untuk dewasa ayu (hari baik) palebon almarhum. “Perkiraannya, palebon akan digelar sekitar awal Maret 2018, sehingga tidak terburu-buru saat pembuatan piranti pelebon, terutama bade tumpang sia (tingkat sembilan) dan lembu,” papar arsitek bade ini. Informasi terakhir tadi malam, berdasarkan hasil nunasang, palebon almarhum akan dilaksanakan 2 Maret 2018 mendatang.

Keluarga Puri Agung Ubud sebelumnya terakhir kali menggelar upacara palebon agung untuk jenazah Cokorda Putra Widura, 32, pada Radite Pon Prangbakat, Rabu, 8 Mei 2016 silam. Palebon agung kala itu menggunakan ba-de tumpang sia setinggi 21 meter dengan berat hampir 8 ton. Selain itu, juga menggunakan Lembu Selem seberat 1 ton.

Almarhum Cokorda Putra Widura meninggal dunia di RS Bros, Niti Mandala Denpasar, 7 Maret 2016 malam. Almarhum adalah putra dari pasangan Cokorda Gede Indrayana dan Cokorda Istri Rai Darma Wati. Dia notabene merupakan cucu tertua dari mantan Panglingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Agung Suyasa. *lsa

Komentar