nusabali

Pemulung Dapat Berkah dari Tumpukan Sampah Plastik di Pantai Kedonganan

  • www.nusabali.com-pemulung-dapat-berkah-dari-tumpukan-sampah-plastik-di-pantai-kedonganan

MANGUPURA, NusaBali - Sampah kiriman yang menerjang Pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta, ternyata membawa berkah bagi sejumlah pemulung. Salah satunya adalah Ahmad Beseri, seorang pemulung botol plastik asli Jember, Jawa Timur, yang telah 6 tahun menetap dan bekerja di Bali.

Setiap hari, Ahmad menghabiskan waktu berjam-jam di pantai, mengumpulkan botol plastik yang terbawa arus. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan hingga 20 kilogram botol plastik, yang kemudian dikumpulkannya dalam enam karung besar. “Hampir 6 tahun ambil sampah-sampah plastik,” ujar Ahmad saat ditemui di Pantai Kedonganan, Kamis (21/3).

Kerja keras Ahmad tidak sia-sia. Dari menjual botol-botol plastik yang dikumpulkannya, dia bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, pekerjaan ini jauh lebih baik daripada menganggur.

“Ini akan saya jual, berkah daripada keluyuran ke mana-mana. Mending cari botol sampah di sini. Daripada jadi pengangguran mending cari rongsokan. Alhamdulillah dapat berkah, bisa makan dari sini, buat kasih anak uang dan lainnya,” kata Ahmad dengan rasa syukur.

Penghasilan Ahmad dari mengumpulkan botol plastik memang tidak tetap. Kadang, bisa mendapatkan Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tetapi itu untuk penghasilan selama dua atau tiga hari. Meski tidak besar, penghasilan tersebut cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Kisah harapan yang muncul dari pemulung botol plastik di Pantai Kedonganan berbanding terbalik dengan nasib para nelayan setempat. Salah satu nelayan dari Banjar Tapang, Sudarpa mengungkapkan kesulitannya untuk melaut dan mendapatkan ikan akibat kondisi sampah plastik yang menerjang pantai tersebut.

Sudarpa, seperti nelayan lainnya di daerah itu, merasakan langsung dampak negatif dari sampah plastik terhadap kehidupan sehari-harinya. “Nelayan bingung kalau kerja, jalan pun tidak bisa,” keluhnya.

Menurut Sudarpa, masalah sampah ini mulai menjadi serius setelah perayaan Nyepi, ketika angin barat membawa serta tumpukan sampah ke pantai. Sampah tersebut tidak hanya menumpuk di pantai tetapi juga tersebar di dalam air, membuat tangkapan ikan berkurang drastis hingga hampir tidak mendapatkan ikan sama sekali.

Fenomena ini tidak hanya mengurangi pendapatan mereka dari hasil tangkapan ikan, tetapi juga menyebabkan beberapa perahu nelayan, atau jukung, rusak akibat dihantam oleh ombak yang membawa sampah. Sudarpa juga mencoba mencari lobster sebagai alternatif, namun hasilnya sangat minim dan tidak menentu.

“Satu pun ikan tidak kami dapatkan, kami coba cari lobster kadang dapat kadang tidak, kalau dapat paling hanya dapat dua ekor sekitar dua ons. Pernah dapat ikan dua kilo tapi busuk, dijual pun tidak bisa,” imbuhnya.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, tidak hanya bagi para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut, tetapi juga bagi ekosistem maritim secara keseluruhan. Para nelayan berharap masalah sampah ini dapat segera diatasi, sehingga mereka bisa kembali melaut dan beraktivitas seperti biasa.

Dia juga menilai, kebersihan pantai tidak hanya penting bagi nelayan, tetapi juga untuk para wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pantai Kedonganan tanpa terganggu oleh sampah. “Kami harap sampah ini bisa cepat bersih, agar kami para nelayan bisa cepat bekerja. Tidak hanya untuk kami, tetapi para wisatawan juga bisa enak berwisata ke sini,” ucap Sudarpa. 7 ol3

Komentar