nusabali

PHDI Bali Ajak Umat Hindu Berrefleksi

Kasus Penodaan Tempat Suci Makin Berkurang

  • www.nusabali.com-phdi-bali-ajak-umat-hindu-berrefleksi

Salah satu yang disayangkan PHDI Bali tahun ini, yakni kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oknum warga saat Hari Raya Nyepi di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

DENPASAR, NusaBali
Kasus penodaan pura maupun tempat suci lainnya di Bali disebut jauh menurun pada tahun 2023. Pada tahun-tahun sebelumnya, dengan dibukanya Bali seluas-luasnya bagi turis asing pasca pandemi, ada saja ulah para turis mancanegara yang viral di media sosial.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Nyoman Kenak bersyukur dengan berkurangnya kasus-kasus terkait penodaan pura maupun tempat-tempat yang disucikan lainnya oleh umat Hindu di Bali. Meskipun saat ini jumlah wisatawan termasuk wisatawan mancanegara yang datang ke Bali terus mengalami peningkatan.

“Dalam beberapa bulan terakhir sudah tidak ada lagi masalah-masalah terkait dengan penodaan agama, tempat suci,” ujarnya kepada NusaBali, Jumat (29/12).

Menurut Kenak, hal itu merupakan hasil dari upaya bersama seluruh pihak dalam menjaga taksu Bali. Diketahui, Dinas Pariwisata Bali pada tahun ini menerbitkan panduan baru untuk wisatawan asing di Bali. Salah satunya mengenai larangan memasuki pura sebagai tempat suci kecuali untuk keperluan sembahyang, saat sembahyang pun diwajibkan menggunakan pakaian adat Bali atau pakaian persembahyangan.

Dalam panduan tersebut wisatawan dilarang memasuki pura saat menstruasi atau datang bulan, dilarang menaiki bangunan suci apalagi sampai berswafoto dengan pakaian yang tidak sopan.

Foto: Salah satu pohon yang dikeramatkan umat Hindu di Tabanan, menjadi daya tarik wisata. -SURYADI

Wisatawan juga diwajibkan menghargai dan menghormati kearifan lokal masyarakat Bali, mulai dari tradisi, sendi, prosesi upacara dan upakara, serta adat istiadat, termasuk wajib memuliakan dan menghormati kesucian pura, pratima, dan simbol-simbol keagamaan yang berada di Bali.

Kenak mengajak seluruh umat Hindu di Bali untuk tidak terlena dengan keadaan saat ini. Sosialisasi harus terus dilakukan kepada masyarakat maupun para wisatawan khususnya wisatawan asing agar kasus penodaan tempat suci di Bali dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Saya percaya pelanggaran itu tidak mungkin zero, tetapi kita harus berusaha untuk mengurangi semaksimal mungkin,” ujarnya.

Salah satu yang disayangkan PHDI Bali tahun ini, yakni kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oknum warga saat Hari Raya Nyepi di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Meski demikian PHDI Bali, kata Kenak, tidak akan melakukan intervensi terhadap kasus yang hingga saat ini tengah ditangani pihak kepolisian.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi kembali pada perayaan Nyepi tahun depan jajaran pengurus PHDI Bali bersama para sulinggih telah melakukan pertemuan guna membahas pelaksanaan Hari Raya Nyepi tahun depan yang waktunya akan berdekatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

“Nyepi ini kan awal bulan yang dekat dengan Hari Raya Kuningan. Biasanya pertemuan kita adakan Januari, di awal Desember sudah kita putuskan. Kita sudah buat imbauan antisipasi dari kejadian tahun kemarin (tahun ini, Red),” ungkap Kenak sembari menambahkan pada pertemuan tersebut juga disepakati pembentukan Tim Pengkaji Penetapan Status Pura.

Bertepatan tahun politik, Kenak juga mengajak umat Hindu untuk mampu menahan diri, menjadikan momentum saat ini untuk memperkuat toleransi. Kenak mengingatkan umat Hindu untuk menjaga kesucian pura dengan tidak melakukan aktivitas politik praktis seperti kampanye di area pura. Selain karena melanggar undang-undang tentang Pemilu, hal tersebut merupakan tindakan yang tidak etis dilakukan di tempat ibadah.

Meski demikian PHDI Bali menyerahkan sepenuhnya mengenai hal tersebut kepada masing-masing pengempon pura. “Jangan sampai kita pecah karena beda pilihan,” ingatnya.

Memasuki pergantian tahun, Kenak mengingatkan umat Hindu untuk tetap berpedoman pada filosofi Tri Hita Karana, menjaga keharmonisan dengan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Mahakuasa, alam, dan sesama manusia. “Akhir tahun ini momentum yang sangat tepat buat kita untuk merefleksi diri apa kekurangan yang harus diperbaiki, kelebihan kita yang harus dipertahankan,” pesannya.7 cr78.

Komentar