nusabali

Dokar yang Tetap Bertahan di Kuta

  • www.nusabali.com-dokar-yang-tetap-bertahan-di-kuta

MANGUPURA, NusaBali - Kamarudin, seorang kusir dokar berusia 67 tahun, menjadi saksi hidup dari perubahan drastis dalam tren transportasi di Bali, terlebih setelah maraknya jasa transportasi online.

“Dulu sebelum Covid-19 dan sebelum ramai yang pakai jasa kendaraan online, saya bisa mendapat penghasilan Rp 300.000 atau lebih sehari. Sekarang, tidak seberapa,” tutur Kamarudin saat ditemui di Pantai Kuta, Kelurahan/Kecamatan Kuta, Badung pada Sabtu (25/11) sore.

Dari pantauan di lapangan, di depan Pantai Kuta terlihat beberapa dokar setia menunggu penumpang. Namun, jumlahnya tidak sebanyak dulu. Hanya lima dokar yang berharap masih ada orang yang mau memanfaatkan jasa mereka. Kusir dokar, mayoritas dari mereka telah memasuki usia sepuh, tetap gigih menjalankan pekerjaannya walaupun pamornya semakin meredup.

Kamarudin, yang telah bekerja sebagai kusir dokar selama 15 tahun, mengungkapkan bahwa pendapatan mereka saat ini mengalami penurunan drastis, terutama di bulan November. Pendapatan per hari hanya berkisar antara Rp 50.000 – Rp 100.000, bahkan ada hari di mana mereka tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

“Iya karena sekarang ini bulan November sepi, nanti ramai saat akhir atau awal tahun baru bisa dapat penghasilan lebih,” tambah pria asal Kepaon, Denpasar Selatan, yang juga dibenarkan oleh beberapa rekannya saat dijumpai di lokasi.

Menariknya, meskipun transportasi online telah merajalela, wisatawan mancanegara lebih sering memilih menggunakan delman daripada tamu lokal. Khususnya wisatawan dari Jepang, Korea, dan negara lainnya yang lebih memilih pengalaman unik dengan naik delman. Kamarudin menambahkan, satu delman maksimal hanya dapat mengangkut empat orang dan untuk penumpang yang berbadan besar, hanya dua orang yang dapat diakomodasi.

“Saat Covid-19 melanda, kami benar-benar tidak mendapatkan penghasilan, namun kami tetap bekerja. Kadang-kadang ada yang memberikan sedekah berupa nasi ke sini,” sebutnya. 

Kamarudin mengatakan bahwa sebelum pandemi Covid-19, kondisinya lebih baik, namun semenjak adanya layanan jasa transportasi online, jumlah penumpangnya berkurang drastis. Dia juga menuturkan bahwa sejak munculnya layanan transportasi online, mereka mengalami sepi penumpang dan membuat jalanan di sekitar Pantai Kuta menjadi lebih padat. Meskipun masih bertahan dengan menetap di tiga lokasi, yaitu di depan Pantai Kuta, Discovery Mall Bali, dan Pantai Legian, Kamarudin merasa bahwa jumlah kusir dokar di Kuta kini semakin berkurang.

“Meski tidak tahu angka pastinya, saya berharap, dengan menggeliatnya pariwisata ke Bali, hal ini bisa menjadi berkah bagi kami juga, agar kami bisa tetap hidup,” ujar Kamarudin penuh harap. 7 ol3

Komentar