nusabali

Lengkap dengan Riasan Pentas, Pragina Drama Gong Antar Lembu Cemeng

Jelang Palebon Anak Agung Gde Raka Payadnya, Tokoh Perintis Drama Gong di Bali

  • www.nusabali.com-lengkap-dengan-riasan-pentas-pragina-drama-gong-antar-lembu-cemeng
  • www.nusabali.com-lengkap-dengan-riasan-pentas-pragina-drama-gong-antar-lembu-cemeng

Rombongan seniman ini lengkap merias diri seperti lakon pada drama gong, arak-arakan dikomandoi oleh pemeran Raja Buduh, Anak Agung Gde Agung Kartika.

GIANYAR, NusaBali

Lembu Cemeng yang disiapkan oleh Panglingsir Puri Langon Ubud Cokorda Ngurah Suyadnya untuk Palebon Anak Agung Raka Payadnya tiba di parkir sebelah barat Alun-alun Kota Gianyar, Rabu (14/12) pukul 12.00 Wita. Lembu Cemeng dengan nuansa hitam ungu berornamen ukiran ini diarak menuju Puri Abianbase. Lembu Cemeng ini secara khusus diantar oleh seniman lawas maupun seniman baru seni pertunjukan Drama Gong. Rombongan seniman ini lengkap merias diri seperti lakon pada drama gong. Dikomandoi oleh pemeran Raja Buduh, Anak Agung Gde Agung Kartika. Meskipun panas terik, para seniman tampak antusias berjalan kaki sepanjang 1 kilometer ke arah selatan mengantarkan Lembu Cemeng ke Puri Abianbase.

Pengantaran Lembu Cemeng turut diiringi oleh gamelan gong suling sehingga menarik perhatian masyarakat sekitar. Lembu ini nantinya akan digunakan dalam prosesi palebon Anak Agung Gde Raka Payadnya yang maestro drama gong. Sebelum tiba di Bale Budaya Gianyar, lembu berwarna hitam tersebut dibuat di Puri Langon Ubud. Proses pembuatannya pun cukup singkat, karena diameter lembu relatif sedang, yakni membutuhkan waktu tak lebih dari 10 hari.

Diarsiteki langsung oleh Cokorda Ngurah Suyadnya alias Cok Wah. Saat lembu rampung, lalu diangkut menggunakan truk. Dan, ketika tiba di Kota Gianyar, langsung diturunkan dari atas truk untuk diarak ke Puri Abianbase. Cok Wah saat ditemui pada acara kemarin mengatakan sejatinya jika konsisten dibuat, lembu tersebut hanya membutuhkan waktu 10 hari. Namun demikian, pihaknya telah melakukan persiapan sejak sebulan lalu. "Tidak ada kendala dalam pembuatannya, semuanya berjalan seperti yang diinginkan," ujar mantan anggota DPRD Gianyar ini.

Cok Wah mengatakan dia mempersembahkan lembu tersebut untuk prosesi pelebon mendiang Agung Raka Payadnya, karena memiliki kedekatan emosional. Selain itu, ada juga keponakannya yang menikah ke Puri Abianbase. "Tiyang pelajari mendiang memang tokoh luar biasa di bidang seni. Para seniman juga bergabung memberi support pada kegiatan ini," ujarnya.

Sementara seniman lawas Anak Agung Gde Agung Kartika mengaku terpanggil untuk mengantar kepergian seorang tokoh legendaris perintis Drama Gong di Bali. "Beliau seorang legenda untuk drama gong. Karena beliaulah drama gong terkenal. Yang awalnya drama klasik menjadi drama gong," jelas pembina seni Drama Gong di Kabupaten Gianyar ini. Bagi para seniman, Agung Raka Payadnya adalah guru besarnya seniman tari, khususnya drama gong.

"Menurut kami, beliau adalah guru besar kami," ujarnya. Sebagai persembahan khusus pada, Jumat (16/12) malam akan dipentaskan drama gong di Puri Abianbase. "Sekitar 30 seniman akan dilibatkan, baik lawas maupun junior," imbuhnya.

Palebon Anak Agung Gde Raka Payadnya, tokoh perintis drama gong akan berlangsung pada Saniscara Paing Warigadean, Sabtu (17/12) nanti. Saat pengarakan Bade Tumpang Sia dan Lembu Cemeng dari Puri Abianbase menuju Setra Adat Abianbase, Kecamatan Gianyar juga akan turut diiringi dengan pementasan drama gong. Rute yang ditempuh sepanjang 500 meter.

Seperti diketahui, Anak Agung Gde Raka Payadnya berpulang menuju sunialoka, Kamis (22/9) lalu pukul 11.45 Wita akibat infeksi paru-paru yang dideritanya. Beliau sempat dirawat selama 13 hari di Rumah Sakit Sanjiwani Gianyar. Sebelumnya, seniman besar itu menderita sakit parkinson dan rutin melakukan check up. Sementara almarhum sendiri telah diupacarai dalam upacara makingsan ring gni pada Jumat 23 September lalu. *nvi

Komentar