nusabali

Tangis Duka Melepas Hewan Kesayangan Layaknya Sanak Keluarga

Pasutri di Desa Kuwum, Mengwi, Badung Kelola Jasa Kremasi untuk Hewan Peliharaan

  • www.nusabali.com-tangis-duka-melepas-hewan-kesayangan-layaknya-sanak-keluarga
  • www.nusabali.com-tangis-duka-melepas-hewan-kesayangan-layaknya-sanak-keluarga

Tak hanya warga lokal Bali dan ekspatriat yang menetap di Bali, ada pula klien yang datang dari Jakarta dan daerah lain untuk mengkremasi hewan kesayangan mereka.

MANGUPURA, NusaBali
Prosesi kremasi untuk melepas kepergian kerabat yang sudah meninggal merupakan tradisi Hindu Bali yang disebut upacara ngaben. Namun, bagaimana jika yang diupacarai semacam ngaben ini adalah hewan peliharaan?

Fenomena jasa kremasi binatang peliharaan ini sedang naik daun belakangan ini. Layaknya keluarga, prosesi semacam ngaben untuk binatang ini sangat mirip dengan upacara ngaben pada umumnya. Mulai dari memandikan jenazah, kemudian pembakaran, dan kemudian abunya ditabur di sungai yang mengarah ke laut.

Jasa kremasi seperti ini bisa ditemui di Banjar Nyelati, Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Di daerah ini terdapat sepasang suami istri (Pasutri) bernama I Made Cakra,63, dan Wayan Kembar,63, yang sudah sejak lima tahun lalu menjalankan jasa kremasi binatang. “Awalnya kami menyewakan kompor mayat ke banjar-banjar. Kemudian pada tahun 2017, teman suami saya yang punya rumah sakit hewan menganjurkan untuk buka jasa kremasi binatang,” ujar Kembar ketika ditemui usai melayani seorang klien pada, Selasa (6/12) siang lalu.

Sejak saat itu, Kembar dan suaminya Cakra, membuka lahan di belakang rumah mereka dan menyiapkan kompor kremasi khusus binatang. Tempat kremasi ini kemudian diberi nama Cakrakembar Bali Pet Burial and Cremation. Cakrakembar sendiri merupakan gabungan nama dari Wayan Kembar dan suaminya I Made Cakra. Tidak hanya kremasi, di lahan tegalan tersebut pula terdapat tempat penguburan bagi klien yang meminta agar peliharaan mereka tidak dikremasi. Akan tetapi, karena lahan terbatas dalam kurun waktu dua tahun, belulang dari binatang peliharaan yang dikubur tersebut akan diangkat dan dikremasi untuk dilarung ke sungai.

Selama lima tahun berdiri, klien Cakrakembar berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya warga lokal Bali dan ekspatriat yang menetap di Pulau Dewata, ada pula klien yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta dan daerah lain di Pulau Jawa untuk mengkremasi hewan peliharaan kesayangan mereka.

Setiap ada klien yang datang, Kembar biasanya menyiapkan sesajen terlebih dahulu. Sesajen tersebut berupa canang sari, soda, dan rarapan atau makanan kesukaan binatang peliharaan yang akan dikremasi. Begitu klien sampai dengan jenazah peliharaannya, jenazah tersebut dimandikan dulu. Kemudian ditutup dengan kain kafan berwarna putih dan kuning serta ditaburi kembang.

“Klien itu biasanya saya ajak terlibat setelah selesai ditutupi kafan dan dikembangi. Memang kalau sudah namanya sayang, sudah seperti dianggap saudara peliharaannya itu, mereka menangis bahkan ada yang pingsan,” ungkap Kembar. Proses dari pengafanan menuju kremasi ini biasanya yang memakan waktu lantaran banyak dari klien itu diberikan kesempatan untuk mendoakan binatang peliharaan mereka sesuai keyakinan masing-masing.

Jeda ini memberikan kesan kesedihan mendalam kepada para klien Cakrakembar yang akhirnya membuat mereka sulit melepas kepergian binatang peliharaan mereka. Ditambah lagi, sepanjang prosesi, Cakrakembar menyetel audio angklung yang memang digunakan pada acara kematian di Bali.

Setelah kesedihan dan rintihan air mata klien sedikit mereda, Kembar dibantu sang suami Cakra dan menantunya I Made Darsana,43, melanjutkan ke proses pembakaran jenazah. Sebelum kompor dinyalakan, klien kembali diberikan kesempatan menabur bunga untuk terakhir kalinya. Sisa tulang dari binatang peliharaan klien ini kemudian dikumpulkan dan dihaluskan menjadi abu. Abu tersebut dimasukkan ke dalam kendi kemudian dibungkus lagi menggunakan kafan putih dan diikat dengan benang Tri Datu.

“Proses selanjutnya kami serahkan ke klien. Mau disimpan di rumah atau ditabur di laut, kami serahkan sepenuhnya kepada klien. Tetapi kalau klien mau kami selesaikan sepenuhnya, biasanya kami tabur di Tukad Yeh Sungi yang alirannya ada di pangkung (lembah) dekat sini,” jelas Darsana, ketika dijumpai pada kesempatan yang sama.

Meskipun diproses dan diupacarai secara Hindu, Cakrakembar membuka permintaan dari klien. Menurut Darsana, klien lokal yang beragama Islam biasanya meminta untuk tidak dikremasi melainkan dikubur saja. Ada pula sebagian dari klien yang beragama Kristen tidak ingin binatang peliharaan mereka dikremasi dengan alasan agar bisa dikunjungi atau berziarah di kemudian hari.

Bagi sebagian kalangan, mengkremasi binatang layaknya manusia ini mungkin terkesan aneh dan kurang masuk akal. Akan tetapi bagi klien Cakrakembar seperti Christophorus Dede Surya Ambara,25, dan I Made Sokawana,55, peliharaan mereka sudah selayaknya keluarga yang harus diantar pergi dengan layak.

Pemuda yang akrab disapa Bara ini datang ke Cakrakembar membawa seekor kucing berusia 3 bulan yang sudah membeku dan terbungkus plastik. Kucingnya itu bernama Luna dan baru diadopsi dan dipelihara sekitar satu bulan sejak berusia 2 bulan. Meskipun singkat, Bara mengaku banyak kenangan indah yang terukir selama merawat kuncing domestik berwarna putih itu.

“Dari emosi yang tersimpan bersama Luna ini, saya ingin mengantarnya dengan layak. Dari prosesi yang saya lihat tadi, saya puas karena sudah selayaknya kita sedang mengantar saudara yang berpulang. Dan itu yang saya butuhkan,” ujar Bara dengan lirih usai mengantar Luna pergi. Hal senada disampaikan Sokawana. Pria tiga anak ini bahkan tidak sungkan-sungkan menitikkan air matanya ketika mengantar anjing peliharaannya, Lunox, pergi. Kata Sokawana, Lunox sudah seperti anak keempatnya dan sangat menurut apa yang disuruh oleh keluarga.

“Selain sudah seperti saudara, saya memilih agar Lunox dikremasi karena biar dia diupacarai dengan layak. Bagaimana pun, dia juga makhluk hidup sama seperti kita manusia,” kata Sokawana. Menurut kakek satu cucu ini, mengkremasi Lunox sama halnya menjalankan Tri Hita Karana secara utuh, khususnya bagian palemahan atau menjaga keharmonisan dengan lingkungan. Lingkungan ini termasuk makhluk hidup yang ada di sekitar manusia seperti binatang peliharaan.

Sementara itu, kata Darsana selaku menantu Kembar dan yang membantu mengelola Cakrakembar, pihaknya tidak mematok biaya kepada kliennya. Namun, sebagian besar klien yang datang memberi di atas Rp 200.000 dan ada pula ditambah lebih setelah melihat proses kremasi yang dilakukan. “Mungkin mereka senang dan bahagia melihat binatang peliharaan mereka diperlakukan dengan layak, jadi ada yang menambahkan lebih. Ada pula yang menyadari diri sendiri bahwa misalnya anjingnya itu bobotnya besar, jadi disesuaikan sendiri oleh klien,” ucap Darsana.

Selain dari kalangan biasa, Cakrakembar sudah dua kali mengkremasi anjing milik keluarga dari pejabat di Kabupaten Badung. Untuk anjing yang kedua baru saja dikremasi pada akhir bulan November lalu. Selain binatang peliharaan biasa seperti anjing dan kucing, Cakrakembar pernah melayani klien dengan peliharaan yang unik-unik juga. Jasa kremasi binatang ini pernah mengkremasi burung hantu, ikan arwana, lohan, dan ular, serta binatang lain seperti kambing dan sejenisnya.

Saat ini Cakrakembar tidak hanya meladeni klien yang datang sendiri ke tempat kremasi tetapi juga menerima panggilan untuk menjemput jenazah anjing di jalan dan selokan dari wisatawan asing. Terkadang, Darsana juga sering menjemput jenazah anjing dan kucing dari beberapa rumah sakit hewan. *ol1

Komentar