nusabali

Dua Wartawan Tembus Kursi KPID Bali, Komisi I Titip Siaran Lokal di Prime Time

  • www.nusabali.com-dua-wartawan-tembus-kursi-kpid-bali-komisi-i-titip-siaran-lokal-di-prime-time

DENPASAR, NusaBali
Uji kelayakan dan kepatutan Calon Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bali 2021-2024 oleh Komisi I DPRD Bali, Senin (30/8), resmi menetapkan 7 nama terpilih.

Dari 7 nama tersebut, 2 orang di antaranya adalah wartawan senior, yakni I Wayan Suyadnya dan I Gede Agus Astapa. Komisi I DPRD Bali titip siaran lokal di prime time.

Gede Agus Astapa adalah wartawan senior yang sempat gabung di Kompas Dewata TV dan dua kali periode menjadi Komisioner Komisi Informasi (KI) Provinsi Bali (2012-2016, 2016-2021). Sedangkan Wayan Suyadnya adalah wartawan senior yang kini Pemimin Redaksi Media Bali.

Dihubungi NusaBali seuasi mengikuti uji kelayakan di Gedung DPRD Bali, Niti Mandala Denpasar, Senin kemarin, Agus Astapa belum mau menyatakan hasil seleksi sebagai hasil final. Namun, sesuai dengan visi misinya sebagai calon, Agus Astapa menyatakan kalau dipercaya sebagai komisioner, siap membawa kemajuan lembaga penyiaran di era digitalisasi.

"Kita ingin terciptanya lembaga penyiaran yang informatif, edukatif, menghibur, sebagai kontrol sosial dengan mengangkat nilai kearifan lokal menuju Bali Era Baru," Agus Astapa.

Pria asal Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng ini pun menegaskan ketika ditugaskan nanti, persoalan siaran lokal Bali yang selama ini masih ditempatkan pada jam-jam tayang tidak prime time (jam utama) di televisi nasional, akan menjadi fokus utama yang akan dicarikan solusinya bersama komisioner dan stakeholder terkait.

"Lembaga penyiaran itu harus mengadopsi kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia), untuk kepentingan umum, adil untuk kesejahteraan masyarakat," tegas Afus Astapa yang sempat dua kali periode menjabat sebagai Ketua KI Provinsi Bali.

Sementara, Wayan Suyadnya menegaskan ketika terpilih sebagai Komisioner KPID Bali, dirinya akan kedepankan harmonisasi dalam dunia penyiaran. "Saya  menyukai filsafat tetua dahulu dalam berbagai pesannya, yang selalu mengedepankan harmonisasi, Tri Hita Karana, hidup harmonis, kegotong-royongan, segilik seguluk sampranaya salulung, sabayantaka, asah, asih, asuh. Dalam dunia penyiaran pun diperlukan semangat itu," tegas Suyadnya.

Menurut Suyadnya, masyarakat telah luka oleh pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, sehingga jangan lagi menumbuhkan luka yang lain. "Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat (KPID Bali) harus bersama-sama menciptakan keharmonisan dalam dunia penyiaran,” katanya.

“Tak bedanya dengan lembaga pers, lembaga penyiaran kita khususnya yang lokal, seperti hidup segan mati tak mau. Kita semua harus paham dan peduli dengan semua itu, perlu menciptakan rasa memiliki, kita semua sebaiknya menjadi bagian dari penyiaran itu sendiri," lanjut pria asal Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem ini.

Ditanya soal motivasi mendaftar sebagai calon Komisioner KPID Bali, Suyadnya mengatakan pekerjaan menjadi wartawan sangat beririsan dengan dunia penyiaran. "Selama ini, kita sering mengikuti dan mengkritisi KPI guna mendorong lembaga itu bermanfaat bagi kita semua. Mengkritisi dari tampak luar saja tidaklah cukup. Maka, begitu ada kesempatan mendaftar, saya ikut, karena ingin maksimal mendorong KPI menjadi lembaga yang bermanfaat."

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Bali, Nyoman Adnyana, mengatakan tantangan KPID Bali ke depan adalah dunia digitalisasi dalam dunia penyiaran. Untuk kepentingan masyarakat Bali, ada hal yang harus diperjuangkan, yakni penempatan siaran lokal Bali dalam prime time. Tidak seperti selama ini, siaran lokal ditayangkan dalam jam orang sedang tidur.

“Karena selama ini siaran lokal Bali di televisi nasional masih ditayangkan saat dini hari, kita sedang mimpi, siapa yang nonton? Ini pekerjaan rumah yang kita titip kepada KPID Bali," pinta politisi senior PDIP asal Desa Sekaan, Kecamatan Kintamani, Bangli ini. *nat

Komentar