nusabali

Sulap Tukad Yeh Sungi Jadi Kolam Renang Telaga Tirta Nadi

Kreativitas Kelompok Sadar Wisata di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Tabanan

  • www.nusabali.com-sulap-tukad-yeh-sungi-jadi-kolam-renang-telaga-tirta-nadi

Objek baru berupa kolam renang Telaga Tirta Nadi di Tukad Yeh Sungi dipadukan dengan wisata spiritual, yang memanfaatkan Pancoran Solas sebagai tempat malukat. Pancoran Solas warisan leluhur itu letaknya berdampingan dengan kolam renang

TABANAN, NusaBali

Inilah destinasi wisata baru di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Tabanan. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Selanbawak sulap Tukad Yeh Sungi, yang berlokasi di Banjar Selanbawak Kaja, menjadi kolam renang yang diberi nama ‘Telaga Tirta Nadi’.

Menariknya, objek wisata baru berupa Telaga Tirta Nadi di Tugad Yeh Sungi ini juga dipadukan dengan wisata spiritual, yang memanfaatkan Pancoran Solas sebagai tempat malukat (mandi suci). Pancoran Solas warisan leluhur tersebut letaknya berdampingan dengan kolam renang Telaga Tirta Nadi.

Ada tiga bagian dalam kolam renang Telaga Tirta Nadi yang dibuat Pokdarwis Desa Selanbawak untuk bisa dinikmati wisatawan. Ujung utara kolam diperuntukkan buat balita dan anak-anak, sementara di posisi tengah kolam untuk kaum remaja, dan ujung selatan kolam buat orang dewasa.

Air yang digunakan dalam kolam ini tidak dicampur bahan kimia (kaporit), melainkan memanfaatkan air beji Pancoran Solas. Praktisnya, air di kolam ini tanpa harus dikuras, karena dibuat mengalir setiap saat.

Pantuan NusaBali di lapangan, Selasa (27/4) siang, sejumlah warga tampak berdatangan ke kolam renang Telaga Tirta Nadi di Tukad Yeh Sungi tersebut. Mereka berenang di posisi kolam sesuai pembagian berdasarkan kategori kelompok usia: anak-anak, remaja, dewasa.

Ketua Jejaring Pokdarwis Kabupaten Tabanan, I Ketut Aryana, menerangkan kolam Telaga Tirta Nadi di Tukad Yeh Sungi, Desa Seloanbawak baru diresmikan, 25 April 2021 lalu bertepatan rahina Umanis Kuningan pada Radite Umanis Kuningan, Minggu (25/4). Sejak dibuka, kunjungan langsung ramai. Bahkan, yang berkunjung banyak dari luar Kabupaten Tabanan.

Belum ada penetapan tiket masuk ke Telaga Tirta Nadi di Tukad Sungi. Pihak pengelola juga belum menghitung, berapa rata-rata kunjungan per hari. “Yang jelas, sejak mulai dibuka pas Umanis Kuningan, punia yang masuk mencapai Rp 900.000 per hari," ungkap Ketut Aryana, Selasa kemarin.

Menurut Ketut Aryana, ide awal dibuatnya Telaga Tirta Nadi di Tukad Sungi ini berdasarkan sejumlah referensi. Salah satunya, karena Tukad Yeh Sungi terbelah menjadi 2 bagian, di mana aliran air yang ke kanan relatif kecil debitnya, sehingga banyak warga yang membendung secara manual.

Dari situ, sebelum pandemi Covid-19 muncul rencana membuat kolam permanen di aliran air yang kecil. "Kebetulan, di sungai yang aliran airnya kecil tersebut ada anjungan, sehingga digagas untuk bikin kolam," jelas Aryana.

Selanjutnya, diusulkan bantuan ke tingkat kecamatan untuk mendapat biaya pembangunan kolam. Gayung bersambut, pihak kecamatan merealisasikan bantuan, sehingga dibuatlah Telaga Tirta Nadi ini. "Untuk itu, kami sangat berterima kasih kepada pemerintah yang sudah mendorong dan membantu dari segi anggaran," kata Aryana.

Sementara itu, terkait dengan tiket masuk untuk bisa menikmati wisata baru Telaga Tirta Nadi di Tukad Yeh Sungi, sampai saat ini belum ditetapkan. Menurut Aryana, saat ini sifatnya baru berupa donasi seikhlasnya. Donasi diberlakukan karena kawasan belum ditata sempurna, toilet pun belum rampung.

Aryana menyeb utkan, ke depan kawasan Telaga Tirta Nadi ini terus akan dikembangkan oleh Pokdarwis Desa Selanbawak dan bekerja sama dengan Sekaa Teruna di Banjar Selanbawak Kaja. Pengembangan wisata ini akan dipadukan dengan wisata spiritual Pancoran Solas. Pasalnya, selama ini pengunjung Pancoran Solas selalu ramai, utamanya wisatawan Eropa.

Menurut Aryana, pengembangan wisata di sini tidak sebatas mengandalkan wisata kolam dan Pancoran Solas. Rencananya, Pokdarwis Desa Selanbawak juga akan mengembangkan wisata tubbing di sepanjang 200 meter alur Tukad Yeh Sungai. "Nantinya kalau sudah banyak wisatawan datang, mungkin akan dibentuk desa wisata dengan dukungan seluruh pihak," harap Aryana. *des

Komentar