nusabali

Jadi Ajang Lepas Rindu Antar Sahabat Setelah Terpisahkan Pandemi Covid-19

Rumah Paros Gianyar Gelar Pameran Virtual 86 Karya Seni Rupa ‘SahabArt’

  • www.nusabali.com-jadi-ajang-lepas-rindu-antar-sahabat-setelah-terpisahkan-pandemi-covid-19

Pameran ini dimaksudkan untuk merayakan indahnya persahabatan seraya memaknai bekerja dan berkarya di rumah pada masa pandemi Covid-19.

GIANYAR, NusaBali
Dampak dari pandemi Covid-19 terasa di hampir semua sendi kehidupan. Tak terkecuali para seniman, khususnya para perupa. Mereka yang biasa bergaul antar sesama seniman kini terpaksa berjarak dan tak saling bertemu. Demikian juga mereka yang biasa menggelar pameran maupun berpartisipasi dalam berbagai festival, kini harus berdiam diri untuk sementara waktu. Namun tak ada kata ‘tidak’ bagi ruang-ruang kreatif seniman. Seperti yang dilakukan Rumah Paros di Banjar Palak, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Rumah seni dan kreatif ini menggelar pameran seni rupa secara virtual bertajuk ‘SahabArt’ (Sahabat Seni) yang diikuti 86 orang dan juga 86 karya seni rupa, terdiri dari sejumlah seniman dan berbagai profesi. Seniman yang juga pemilik Rumah Paros, I Made Dharma Susila yang beken disapa Made Kaek, mengatakan pameran ini dimaksudkan untuk merayakan indahnya persahabatan seraya memaknai bekerja dan berkarya di rumah pada masa pandemi Covid-19 ini.

Seniman yang juga pemilik Rumah Paros, I Made Dharma Susila alias Made Kaek. -IST

Pameran virtual ini juga mengadopsi pemikiran sederhana tentang hubungan kemanusiaan, yakni menjunjung rasa persahabatan yang telah banyak melahirkan interaksi serta membuahkan jejaring kerja yang positif dan kreatif.

“Di masa pandemi kami tidak lagi leluasa bisa bertemu, berdiskusi, berjabat tangan, apalagi cipika-cipiki, kami pun memilih untuk mengobati kerinduan dengan pameran bersama secara virtual,” kata Made Kaek saat ditemui di Rumah Paros, Sabtu (27/6).

Pameran yang didukung Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini dibuka pada Senin 22 Juni 2020 lalu dengan pengantar oleh Gubernur Bali, Wayan Koster dan Kadis Kebudayaan Bali, Wayan Kun Adnyana melalui kanal Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Para sahabat Paros diberikan kebebasan berkarya di atas kanvas berukuran 30 x 30 cm yang kini bisa dinikmati di akun Facebook dan Instagram @sahabartparos. Bisa pula disaksikan secara langsung di Rumah Paros, tentu dengan protokol kesehatan ketat seperti yang ditentukan oleh pemerintah.

“Kami juga menyediakan katalog elektronik yang menyajikan seluruh karya dengan prolog oleh bli Dewa Made Palguna, Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2003-2008 dan 2015-2020 dan bisa diakses melalui link bio IG kami,” kata Kaek.

Menurut Kaek sejawat seniman yang ikut dalam pameran ini, yakni Made Wianta, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Dewa Putu Kantor, Wayan Kun Adnyana, Djaja Tjandra Kirana, Mangu Putra, Wayan Redika, Suklu, Made Wiradana, Ipong Purnama Sidhi dan seniman asal Swiss Stephan Spicher.

Kemudian seniman Wayan Suja, Galung Wiratmaja, Polenk Rediasa, Dewa Ratayoga, Nyoman Wijaya, AA Putu Oka Astika, Huda Fauzan, Made Duatmika, I Gede Jaya Putra, Nyoman Sani, Loka Suara, Teja Astawa, IB Sutama, Made Aswio Aji, Putu Eni Astiarini, Made Dwipayana, Ketut Sugantika Lekung, Wayan Upadana, Wayan Jana, Gde Ngurah Pandji, Wayan Wijaya, Nyoman Winaya.

Perupa lainnya adalah Made Karyana, Dewa Made Virayuga, Wayan Diana,Wayan Suardika Putra, Made Warjana, Putu Edy Asmara, Nyoman Ari Winata, Anthok Sudarwanto, Listya Wahyuni, Nengah Sujena, Made Palguna, Wayan Aris Sarmanta, Made Somadita, Made Gunawan, dan Uuk Paramahita.

Selanjutnya adalah Atmi Kristiadewi, Wayan Wirawan, Pande Alit Wijaya Suta, Made Alit Suaja, Wayan ‘Doel’ Sunadi, Ketut Jaya ‘Kaprus’, Romi Sukadana, Wayan Arnata, V. Dedy Reru, Sudarna Putra,  Ketut Endrawan, Nyoman Wirata, Putu Sudiana ‘Bonuz’, Made Mahendra Mangku, Dollar Astawa, Putu Wirantawan dan Nyoman Sujana Kenyem.

Selain itu juga diikuti oleh arsitek Popo Danes, budayawan Jean Couteau dan Putu Suasta, Konsul Kehormatan Italia Pino Confessa, dokter Kardi Neka, penyair Warih Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta, jurnalis Putu Fajar Arcana, Wayan Juniarta, dan Ema Sukarelawanto, fotografer Anom Manik Agung, Murdani Usman, dan Ulung Wicaksono, Drh Yudha Bantono, pegusaha Handy Saputra, pegrafis Ayip Budiman (alm) dan SR Alwy, ilustrator Monez, serta kartunis Jango Pramartha dan IB Martinaya.



Made Kaek menambahkan kerinduan para sahabat untuk segera bertemu dan mengalirkan energi dengan berjabat tangan mustahil bisa dilakukan lagi. Pada titik inilah pameran virtual ‘SahabArt’ diharapkan mampu meretas keberjarakan tersebut.

“Mari kita rayakan persahabatan seraya menyongsong harapan ke depan dengan spirit adaptasi baru, di era kernormalan baru,” katanya. Bagaimana respons masyarakat terhadap pameran ini? "Respon masyarakat sangat bagus, cuma kita memang membatasi pengunjung sesuai protokol pemerintah untuk kunjungan di lokasi," jelas Made Kaek. Pameran di Rumah Paros dibuka mulai pukul 10.00 Wita sampai pukul 16.00 Wita dan berlangsung hingga 22 Juli 2020 mendatang. Sementara kunjungan di media sosial juga cukup bagus. Ditambahkan pula, khusus pameran karya lukis kali ini seluruhnya tidak ada yang dijual. *nvi

loading...

Komentar