nusabali

Tradisi Mapatung Kebo di Desa Pakraman Pandak Gede

  • www.nusabali.com-tradisi-mapatung-kebo-di-desa-pakraman-pandak-gede

Setiap enam bulan sekali berdasarkan perhitungan kalender Bali (210 hari), krama di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, menyembelih kerbau, saat penampahan Galungan, Anggara Wage Dungulan.

Berawal dari Pesta Rakyat Ratu Bali Raja Peni Tahun 1.360

TABANAN, NusaBali
Hanya saja, nampah kebo (menyembelih kerbau) ini sudah maju sehari yakni langsung saat Pangejukan, Soma Pon Dungulan. Seperti Senin (5/9), di Banjar Pakraman Batan Poh, krama setempat nampah kebo sebanyak dua ekor.   

Bendesa Adat Pandak Gede, I Gusti Gede Nyoman Ary Subawa, mengatakan krama yang mapatung kebo (kelompok beli kerbau) sembelih kerbau pilihan yakni berwarna hitam. Menurut kepercayaan turun temurun, kerbau hitam lebih suci dibandingkan kerbau warna lainnya. Tradisi nampah kebo berawal dari pesta rakyat di Kerajaan Tabanan yang berpusat di Desa Buahan, Kecamatan Tabanan. “Rakyat Tabanan saat itu bisa menikmati aneka kuliner. Salah satunya yang enak dendeng dan gulai kerbau,” tutur I Gusti Gede Nyoman Ary Subawa

Dikatakan, pesta rakyat serangkaian karya Ratu Bali Raja Peni pada tahun 1.360 itu berlangsung selama abulan pitung dina (42 hari, red). Krama Desa Pakraman Pandak sejak saat itu suka makan kerupuk, dendeng, dan gulai kerbau. Selanjutnya, krama belajar mengolah daging kebo dan setiap enam bulan sekali jelang Galungan, lahir tradisi mapatung kebo. “Sampai sekarang olahan dendeng kerbau dari desa kami sangat terkenal,” imbuhnya.

Ditambahkan, meski sebagian besar krama Desa Pakraman Pandak Gede mapatung kerbau, tradisi potong babi juga lestari. Daging babi diolah untuk dikonsumsi. Buat sarana upakara hanya untuk tingkatan dasar. “Yang potong ayam juga ada, jumlahnya sedikit,” terangnya. Dikatakan, Desa Pakraman Pandak Gede terdiri dari enam banjar adat yakni Banjar Adat Batan Poh, Banjar Adat Pangkung, Banjar Adat Belatung, Banjar Ada Saba, Banjar Adat Panti, dan Banjar Adat Taman Sari.

Hampir di seluruh banjar adat wewidangan (wilayah) Desa Pakraman Pandak ada yang potong kerbau. Mereka mapatung (berkelompok) atau beli kepada tukang jagal. “Biasanya per ponjok (bagian) rata-rata seberat 5 kilogram dengan harga Rp 300 ribu,” jelasnya. Tak ada sanksi bagi mereka yang tidak mapatung kebo sebab sifatnya sekaa demen (suka-suka). “Mereka yang tak mampu menghaturkan daging kerbau untuk banten menggunakan telor bebek,” imbuhnya. Salah seorang jagal asall Banjar Batan Poh, I Gede Made Nuriantara, 52, mengaku beli kerbau seharga Rp 20 juta di wilayah Negara. Khusus di Desa Pakraman Pandak Gede, tak ada yang pelihara kerbau. * cr61

Komentar