nusabali

Pembelian Kebo dari Hasil Jimpitan

Tradisi Mapatung Kebo di Desa Banjar, Buleleng

  • www.nusabali.com-pembelian-kebo-dari-hasil-jimpitan

Krama di lingkungan Pura Tengah, Banjar Dinas Munduk, Desa/Kecamatan Banjar, Buleleng, merayakan Galungan dengan tradisi mapatung (menyembelih hewan  secara berkelompok) kerbau atau kebo.

SINGARAJA, NusaBali
Seperti untuk Galungan pada Buda Kliwon Dungulan, Rabu (19/2) lalu, ada kelompok warga di lingkungan tersebut mapatung kebo.

Tradisi tersebut dimulai dengan mengumpulkan uang oleh para anggota jauh-jauh hari, dikenal dengan istilah jimpitan. Uang jimpian ini digunakan untuk membeli kerbau untuk disembelih. Tak ada yang tahu, kapan tradisi tersebut dimulai.

Warga setempat menduga mapatung kebo ini awalnya hanya spontanitas warga untuk menyambut hari kemenangan dharma melawan adharma. Kakikat dari tradisi nampah kebo tersebut adalah sebagai wujud ucapan syukur atas limpahan anugerah dari Ida Sanghyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

“Ini (mapatung kebo) sudah mentradisi. Karena kami selalu lakukan setiap Galungan. Tetua kami sudah melakukan hal ini,” ujar Korodinator Kelompok Ida Komang Astika, Sabtu (15/2). Dia mengatakan, hewan kerbau yang disembelih, dibeli swadaya dengan mengumpulkan sejumlah uang dari anggota dengan sistim  jimpitan.

Jelas dia, seluruh anggota mengumpulkan uang Rp 600.000 per enam bulan. Pengumpulan uang jimpitan ini sejak enam bulan sebelum Galungan. Pembayarannya pun tidak ketat. Anggota bisa membayar setiap hari dengan hitungan Rp 3.000 – Rp 4.000 atau membayar per minggu atau sebulan. Masing-masing anggota kelompok akan menerima satu tanding (satu bagian) daging kerbau. Kelompok mulai akan nampah kebo (menyembelih kerbau, Red) pada Hari Panyajaan Galungan Senin (17/2).

Uang hasil jimpitan kelompok itu dikelola bersama. Setelah uang terkumpul sepekan jelang Galungan biasanya sejumlah anggota kelompok mencari ternak kebo ke beberapa desa, seperti ke Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng. Kerbau ini untuk disembelih. Uang yang terkumpul dari jumlah anggota dibelikan kerbau. Harga seekor kerbau dewasa berkisar Rp 20 juta – Rp 30 juta.

Ida Komang Astika menambahkan, seorang anggota kelompok mapatung kebo ini minimal membawa pulang 2- 3 kilogram daging kerbau, untuk dipakai merayakan Galungan. Daging kerbau yang didapatkan dari hasil jimpitan tersebut diolah sesuai dengan selera masing-masing, Antara lain untuk dibuat lawar, komoh, sate, gorengan atau dendeng pada Hari Peenampahan Galungan.

Ida Komang Astika juga  menuturkan bahwa tradisi nampah kebo dengan sistem jimpitan adalah untuk meringankan beban warga saat menyambut Hari Raya Galungan. Karena di hari raya seperti itu warga memerlukan banyak dana untuk membeli berbagai kebutuhan hari raya. Mulai dari perlengkapan upacara sampai dengan kebutuhan perayaan untuk bahan masakan.

“Nampah kebo dengan jimpitan ini cukup meringankan. Karena jelang hari raya ada berbagai kebutuhan yang harus dibeli. Dengan adanya jimpitan ini setidaknya kami bisa terbantu dari segi keuangan. Karena kalau beli bersama itu tidak terasa, dengan iuran yang relatif ringan setiap harinya. Apalagi sekarang harga daging di pasar sedang meningkat,” tegasnya.*k23

loading...

Komentar