nusabali

Sekeluarga 13 Jiwa Tinggal di Gubuk Beratap Alang-alang

  • www.nusabali.com-sekeluarga-13-jiwa-tinggal-di-gubuk-beratap-alang-alang

Kehidupan Ketut Tunggu dengan keluarganya di Banjar Lebah, Desa Sukadana, Kecamatan Kubu, Karangasem memprihatinkan. Mereka sebanyak 13 jiwa tinggal berdesak-desakan di satu gubuk.

AMLAPURA, NusaBali

Di gubuk yang telah bocor itu, Ketut Tunggu bersama istri, 9 anak, dan 2 orangtua kandungnya tidur tanpa tikar dan selimut. Selaku kepala keluarga, Ketut Tunggu sehari-hari hanya sebagai buruh pecah batu galian.

Dari 9 anak-anak I Ketut Tunggu, hanya dua yang sekolah, itu pun dibiayai orang lain sebagai bapak angkat. Satu anak masih balita, selebihnya membantu sang ayah jadi buruh di galian C sebagai tukang kosek pasir dengan upah Rp 5.000 per truk. Mereka tinggal di sebuah gubuk beratap alang-alang yang telah keropos dan bocor, hanya berdinding spanduk bekas. Pada malam hari mereka tidur kedinginan. Jika hujan, bocor di beberapa bagian.

Mereka tidur atas galar (anyaman bambu) tanpa tikar dan tanpa selimut. Dapur dan tempat tidur jadi satu bangunan. Ada dua gubuk yang terpisah dengan dapur juga untuk tempat tidur. Gubuknya berlantai tanah. Agar tidak kebanjiran, bangunan gubuk menggunakan tiang mirip rumah panggung. Dari sejumlah anggota keluarga itu, ada yang mengenakan baju ada yang tidak, walau mengenakan baju rata-rata bajunya telah lusuh.

Melihat kehidupan satu keluarga tinggal di gubuk reot, I Made Olan dari Komunitas Taman Hati Bali menggalang donasi. Sementara sudah ada 58 donatur dengan uang tunai yang terkumpul Rp 15,35 juta. Olan juga berkoordinasi dengan relawan Komunitas Peduli Bali, I Gede Wirya. Mereka berdua tengah berjuang agar keluarga Ketut Tunggu memiliki rumah layak huni. Sebab Ketut Tunggu memiliki lahan. “Kami telah menyalurkan bantuan awal untuk keperluan anak-anak sekolah dan sembako, sehingga kebutuhan pokok terpenuhi. Langkah berikutnya berencana membangun rumah tinggal. Hanya saja masih mengumpulkan bantuan agar cukup digunakan membangun rumah,” jelas Made Wirya, Minggu (28/7).

Ketut Tunggu bersyukur dapat bantuan sembako dan bantuan untuk anak-anaknya yang masih sekolah. “Selama ini saya tidak berpikir menyekolahkan anak. Saya hanya buruh tak mampu membiaya mereka sekolah,” ungkap ayah sembilan anak ini. Terpisah, Perbekel Desa Sukadana I Gede Suardana mengatakan, salah satu relawan Komunitas Peduli Bali telah berkoordinasi untuk membangun bedah rumah. “Hanya saja kami belum sempat menengok kondisi keluarga miskin itu, kami mengapresiasi bantuan itu untuk warga kurang mampu di Desa Sukadana,” ungkap Gede Suardana. *k16

Komentar