nusabali

Didiagnosa Gangguan Saraf, Sejak Balita Alami Kelumpuhan

  • www.nusabali.com-didiagnosa-gangguan-saraf-sejak-balita-alami-kelumpuhan

Derita Made Open Prasetya, Remaja asal Desa Bangbang, Tembuku

BANGLI, NusaBali

Sejak bayi, I Made Open Prasetya, 16, tidak bisa beraktifitas. Remaja asal Banjar Nyanglan, Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Bangli, hanya terbaring di tempat tidur. Makan pun harus disuapi karena tangan dan anggota badan tidak bisa digerakkan. Dokter mendiagnosa Open mengalami gangguan saraf sejak dilahirkan.

Sehari-hari, Open ditinggal bekerja oleh kedua orangtuanya. Ayah ibunya, I Nengah Pugra, 48, dan Ni Nengah Nasih, 45, bekerja sebagai buruh pembuat batu bata di wilayah Desa Temesi, Gianyar. Sementara kakak Open, Wayan Adi Pariadi juga maburuh di usaha percetakan di Gianyar. Open sehari-hari diurus oleh bibinya, Ni Wayan Suwinten, 46. Hanya saja Suwinten tidak mampu mengangkat Open sendirian sehingga, remaja itu jarang diajak keluar kamar. “Saya tidak mampu mengangkat ke kursi roda sendirian. Kalau ada yang bantu, sesekali diajak di halaman rumah,” ungkap Suwinten, Selasa (2/1).

Jika sudah saatnya makan siang, Suwinten yang menyuapi keponakannya. Hanya untuk mandi di sore hari, ia menunggu kedatangan orangtua Open dari bekerja. Kadang badannya dibersihkan di kamar saja. Dikatakan, tumbuh kembang Open tidak normal sejak balita. Paman Open, Ketut Laba, menambahkan, Open lahir normal, anggota badan lengkap, berat dan tinggi badan normal. “Open dilahirkan di praktik bidan swasta, tak jauh dari desa kami. Kemudian dia dirujuk ke RSUD Klungkung. Kata dokter, jika bayinya selamat kemungkinan tumbuhnya tidak normal karena gangguan saraf,” ungkap Laba.

Laba mengaku kaget dengan penjelasan dokter. Dugaan dokter benar adanya, pertumbuhan Open tidak seperti anak normal pada umumnya. Open sering mengalami kejang-kejang. “Sering kejang, biasanya diurut dengan minyak,” imbuhnya. Dikayakan, keluarga Nengah Pugra terdaftar sebagai keluarga kurang mampu sehingga menerima sejumlah bantuan dari pemerintah. Laba yang juga Bendesa Adat Nyanglan ini menambahkan, rumah yang ditempati kelurga Open ini sudah ada kerusakan. Atap rumah dari seng banyak berlubang, kayu mulai rapuh. Rumahnya yang terdiri dari tiga kamar ini lantainya tidak menggunakan keramik. *e

Komentar