nusabali

Menata Hati, Menemukan Rasa dan Jati Diri

  • www.nusabali.com-menata-hati-menemukan-rasa-dan-jati-diri

Sudah hampir tiga pekan Ajang Bali Mandara Mahalango digelar. 

Gamelan Suling Gita Semara 

DENPASAR, NusaBali
Selama pekan demi pekan karya-karya inovatif dari seniman-seniman muda diperlihatkan. Termasuk Gamelan Suling Gita Semara dari Banjar Tengah Kangin, Peliatan, Ubud, Gianyar. Mereka tampil membawakan alunan suling di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali, Selasa (1/8) malam.

Sejumlah karya dipersembahkan pada pementasan malam itu, diantaranya Sanghyang Sekar, Rare Angon, Rare Jenar, Bulan Kepangan (Dongeng Malam Indah), Hredaya, Kendang Mebraya dan Jaya Baya. Karya-karya ini di aransemen sekaligus komposernya oleh I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa dan I Kadek Juliantara. Sementara koreografernya I Made Putra Wijaya dan Adi Saputra Siput. 

Pementasan mereka diberi judul ‘Nata Hati’. Me-Nata Hati, menurut konseptor pertunjukan, I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa, adalah sebagai sebuah jalan untuk menemukan pengalaman tentang rasa dan juga jati diri. Hati, ketika diibaratkan dengan lentera dan sinar di dalam lentera menjadi bagian yang tidak berfisik. “Lentera ibarat badan kasar sedangkan sinar, menjadi ruh daripada lentera,” terang Pacet, sapaan akrabnya. 

Menurut Pacet, sama halnya dengan kehidupan ini, setiap benda maupun makhluk hidup memiliki ruhnya sendiri. Ketika seseorang mampu untuk menghayati lebih dalam, maka selanjutnya digunakan sebagai sebuah proses menjalani kehidupan. “Semuanya bermuara pada sebuah pengalaman hidup yang menuntun kita lebih dalam untuk memasuki sebuah pengalaman tentang Rasa,” katanya

Hal yang sama berlaku juga dengan perilaku berkesenian, yang akan hambar tanpa berkarya. Karena bagi seorang seniman, karya adalah ruhnya, dan juga sebagai sebuah pernyataan atas kehidupannya. 

Pacet mengatakan, benang merah dari karya-karya yang ditampilkan adalah tentang sebuah siklus perjalanan kehidupan dari anak-anak hingga beranjak dewasa. Dimana pada fase dewasa, manusia akan berada pada tanggung jawab sosial yang lebih tinggi. 

Dijelaskannya, gamelan suling berjudul Sanghyang Sekar merupakan konsep keyakinan mengawali aktifitas dengan doa. Kemudian gamelan suling Rare Angon mengawali fase kehidupan manusia yang dimulai dengan masa anak-anak. Pada masa ini adalah masa anak-anak bermain. Rare Angon identik dengan bermain layang-layang. Lalu perlahan anak-anak akan memiliki kepekaan terhadap alam. Kepekaan ini dituangkan dalam karya Rare Jenar. 

Lebih lanjut karya Bulan Kepangan menggambarkan kehidupan permainan tradisional anak-anak di pekarangan rumah dengan diawali dongeng Sang Kala Rau yang memakan Dewi Ratih. Ini merupakan dongeng dari Bali yang menceritakan terjadinya gerhana bulan. Sementara itu, Karya Herdaya menggambarkan fase remaja, dimana anak-anak yang beranjak umur mulai menggunakan hatinya untuk menjalani kehidupan, atau lebih kepada kedalaman hati seorang manusia dewasa. Kemudian pada karya bertajuk Kendang Mebraya sekaa suling Gita Semara menceritakan bagaimana pada fase ini, setelah beranjak dewasa. 

"Berikutnya adalah karya berjudul Jayabaya yang mengisahkan fase 'bahaya'. Bahaya yang dimaksud setiap masalah yang dihadapi oleh anak yang sudah beranjak umurnya menjadi dewasa. Pada fase ini manusia sudah bisa menemukan solusi dalam setiap masalahnya," ungkapnya.

Sementara lahirnya kesenian yang dianut manusia, khususnya Bali pun disinggung dalam karya yang berjudul Ngapat atau Sasih. Pada bagian ini, semua pertanian dan isi alam mulai bermekaran. Dari sana kemudian melahirkan kesenian rakyat seperti janger, kecak, genjek dan kesenian lainnya. *in

Komentar