nusabali

Sarkopenia Penyakit Penurunan Massa Otot pada Lansia

Malas Beraktivitas dan Kurang Protein Salah satu Pemicunya

  • www.nusabali.com-sarkopenia-penyakit-penurunan-massa-otot-pada-lansia

DENPASAR, NusaBali - Sarkopenia menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai pada orang lanjut usia.

Penyakit penurunan pada massa, kekuatan dan fungsi otot ini salah satunya dipicu karena malas beraktivitas.

Hal itu terungkap dalam diskusi ‘Ngobrol untuk Sehat dengan Gaya Asyik’ alias ‘Ngusik’ yang digelar RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Kamis, (25/4), pukul 13.00 wita.  Kasus penyakit Sarkopenia dibedah habis dalam diskusi yang  dimoderatori dr. Eni yuliani, Sp.G.K, dengan narasumber dr. Agustinus I Wayan Harimawan, MPH, Sp.GK. 

Dalam diskusi, menurut Agustinus Harimawan, Sarkopenia di Indonesia berkisar mulai dari 9,1 persen hingga 59 persen. Pada tahun 2020, terdapat 9,92 persen (26,82 juta) penduduk Lansia di Indonesia dan di tahun 2045 jumlahnya diperkirakan mencapai hampir seperlima dari total penduduk Indonesia. “Sarkopenia meningkatkan risiko cedera, keterbatasan fisik, dan bahkan kematian pada populasi lanjut usia. Manusia pada umumnya akan kehilangan massa otot sebanyak 3 sampai 5 persen setiap 10 tahun setelah usianya di atas 30 tahun.” ungkap dokter spesialis gizi klinik itu.

Agustinus Harimawan menjelaskan penyakit Sarkopenia sebuah kondisi yang terjadi ketika tubuh kehilangan massa, kekuatan, serta fungsi otot. Penurunan massa dan fungsi otot ini terjadi karena adanya bentrok proses katabolisme (penghancuran) dan anabolisme (pembentukan) di dalam sel otot. Penurunan kebutuhan energi pada lansia, sekitar 5 persen pada rentang usia 40-59 tahun, 10 persen pada usia 60-70 tahun, dan lebih dari 20 persen pada usia di atas 70 tahun. Namun, resistensi anabolik terhadap protein membuat kebutuhan protein naik menjadi sekitar 1,2 gram per kilogram berat badan.

Tidak ada gejala khusus yang menandakan Sarkopenia. Namun, ketika massa otot mulai menurun, seorang lansia biasanya akan lebih mudah lelah. Perubahan fisiologis pada lansia memengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi, seperti penurunan produksi air liur, gigi yang tanggal, penurunan asam lambung, dan penurunan penyerapan vitamin B12. Ini dapat menyebabkan masalah seperti kesulitan menelan, kesulitan mengunyah, peningkatan risiko anemia, dan penurunan rasa lapar.

“Selain itu, perubahan psikologis juga memengaruhi pola makan lansia, seperti perasaan keterasingan, kesulitan ekonomi, dan gangguan psikologis lainnya. Ini dapat menyebabkan penurunan nafsu makan atau pola makan yang tidak sehat,” ucap Agustinus Harimawan. 

Faktor-faktor yang berkontribusi pada Sarkopenia meliputi penurunan kadar hormon, kurangnya aktivitas fisik, dan kurangnya asupan protein. Seringkali, lansia tidak menyadari bahwa kehilangan massa otot dapat mengurangi kemandirian mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Menanggapi tantangan ini, pendekatan yang holistik diperlukan. Agustinus menekankan pentingnya kombinasi antara latihan resistensi dan asupan protein. “Latihan resistensi, seperti angkat beban ringan, dapat membantu membangun dan mempertahankan massa otot. Sementara itu, asupan nutrisi dan protein yang cukup penting untuk mendukung proses pembentukan dan pemeliharaan otot. Maka sejak muda rajin lah melatih massa otot agar terbiasa sampai tua,” ujar Agustinus Harimawan. cr79

Komentar