nusabali

Kurban ‘Disembelih’ Gunakan Keris Pusaka Ida Bhatara Ratu Pande

Mapepada Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih

  • www.nusabali.com-kurban-disembelih-gunakan-keris-pusaka-ida-bhatara-ratu-pande

AMLAPURA, NusaBali - Upacara mapepada (mengupacarai beragam hewan kurban) untuk keperluan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Besakih Kangin, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem diselenggarakan pada Saniscara Wage Medangsia, Sabtu (23/3).

Sesuai tradisi, prosesi ‘penyembelihan’ secara niskala seluruh hewan kurban, digunakan keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande. Hal itu sebagaimana amanat yang tertera dalam buku Raja Purana Pura Besakih. 

“’Disembelih’ dalam artian, secara niskala, setelah roh kurban didoakan melalui puja sang sulinggih, arwahnya dikembalikan ke Sang Maha Pencipta,” jelas Jro Gede Sudarta, pamangku di Pura Pande Besakih, yang bertugas memegang keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande untuk ‘menyembelih’ kurban secara simbolis.

Sebelum ‘menyembelih’ kurban dengan keris pusaka, terlebih dahulu digelar prosesi yang dipuput Ida Pedanda Gede Nyoman Rai Tianyar dari Geria Menara, Desa/Kecamatan Sidemen.

Terlebih dahulu pangayah menghadirkan seluruh kurban, yang berasal dari unsur laut dan darat. Unsur laut diwakili seekor penyu, untuk darat terbagi dua kelompok, kurban berkaki dua seperti, ayam, unggas, bebek, angsa, yang merupakan hewan dilahirkan dua kali, yakni dari telur, kelompok itu disebut mantiga.

Sedangkan kurban berkaki empat, seperti 2 ekor kambing, seekor godel, 5 ekor kerbau, seekor anjing bang bungkem, kelompok tersebut disebut maarya.

Selanjutnya seluruh kurban diupacarai mabiakala, natab banten wewalungan, natab banten prayascita, natab banten pengulapan, natab banten pangambean, kemudian dilukat (diperciki tirta), lalu dipasangi kalpika dan karawista.

Prosesi selanjutnya, dikelilingkan tiga kali di areal Pura Penataran Agung Besakih. Iring-iringan mapepada itu diawali atribut suci berupa kober dan lontek, menyusul iring-iringan canang rawis, canang rebong, kemudian seluruh kurban dipersatukan. Saat itulah satu per satu kurban tersebut ‘disembelih’ secara simbolis gunakan keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande.

Foto: Mapepada wewalungan di Pura Penataran Agung Besakih di Banjar Besakih Kangin, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. -NANTRA

“Selanjutnya kurban disembelih secara fisik, nantinya kurban diolah untuk pelengkap upacara di Karya Ida Bhatara Turun Kabeh,” kata Jro Gede Sudarta.

“Semua kurban sebelum disembelih secara fisik, diberikan puja sulinggih, serta arwahnya nantinya diantarkan kembali kepada Sang Maha Pencipta. Kelak nanti menjelma naik derajatnya jadi manusia,” ujar Ketua I Panitia Karya Ida Bhatara Turun Kabeh I Gusti Mangku Jana.

Gusti Mangku Jana menjelaskan, kurban yang diolah dijadikan pelengkap upacara kemudian diwinangun urip, mengalami proses supat dan lukat, dibunuh dalam pengertian supat dan untuk peningkatan status. 

Kemudian seluruh kemasan banten yang telah ditata dilakukan upacara memben yang dipuput Ida Pedanda Gede Jelantik Sidemen dari Gria Kawan, Banjar Brahmana, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem. 

Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih berlangsung Radite Kliwon Pujut, Minggu (24/3) hari ini. Ida Bhatara nyejer selama 21 hari, upacara nyineb Redite Umanis Merakih, Minggu (14/4).

Bertindak sebagai pangrajeg karya (Ketua Panitia) Jro Mangku Widiartha, Yajamana Ida Pedanda Putra Tembau dari Geria Aan, Desa/Kecamatan Banjarangkan Klungkung, Ida Pedanda Gde Swabawa Karang Adnyana dari Gria Karang, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa dari Geria Kedatun Kawista, Desa Blatungan, Tabanan), dan Ida Dalem Semarapura dari Puri Agung Klungkung. 

Sedangkan wiku tapini (tukang banten berstatus sulinggih), Ida Pedanda Istri Kania dari Geria Kanginan, Banjar Brahmana, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Ida Pedanda Istri Karang dari Geria Suci, Banjar Brahmana, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, dan Ida Pedanda Istri Wayan Jelantik Dwaja dari Geria Jelantik, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling. 7 k16

Komentar