nusabali

Padangbai Tutup 16 Jam, Gilimanuk Waspada

BBMKG: Cuaca Ekstrem Akibat Siklon Tropis 91S

  • www.nusabali.com-padangbai-tutup-16-jam-gilimanuk-waspada

AMLAPURA, NusaBali - Aktivitas di Pelabuhan Padangbai, Banjar Melanting, Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem mendadak krodit.

Terjadi antrean sejak, Rabu (13/3) malam pukul 20.00 Wita. Dua dermaga juga ditutup selama 16 jam. Kondisi ini terjadi akibat gelombang tinggi di Selat Lombok. Dermaga baru dioperasikan kembali pada, Kamis (14/3) pukul 12.00 Wita. Tak hanya di Padangbai, kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem juga dilakukan pihak Pelabuhan Gilimanuk di Selat Bali.

“Kita sempat lakukan penutupan dermaga karena gelombang tinggi di Selat Lombok mencapai 2,5 meter,” ujar pejabat Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaraan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Padangbai, I Made Budha, di ruang kerjanya, Kamis (14/3).

Budha menambahkan, kapal pertama yang diberangkatkan pasca penutupan dari Pelabuhan Lembar, yakni KMP Rodhita pukul 07.00 Wita dan bersandar di Dermaga I Pelabuhan Padangbai pukul 12.00 Wita. Menyusul kapal yang bersandar di Dermaga II Pelabuhan Padangbai KMP Wihan Bahari. Sesuai ramalan cuaca dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Denpasar, cuaca di Selat Lombok baik di Selat Lombok bagian utara maupun selatan dengan kecepatan angin 6-30 knot per jam, dan tinggi gelombang berkisar 1,25 meter-2,5 meter.

Atas dasar itulah, sebanyak 27 fast boat juga dilarang beroperasi, karena sangat riskan. Sehingga seratusan wisatawan yang hendak berwisata ke Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok  Utara, NTB beralih dari Dermaga Rakyat Desa Padangbai menuju Pelabuhan Padangbai menunggu kapal ferry berangkat. Kondisi ini tentu saja menyebabkan antrean.

Rata-rata penumpang antre sejak Rabu (13/3) pukul 18.00 Wita, belum dapat giliran berlayar. “Kami telah mencari tahu dari para nakhoda kapal, dapat informasi gelombang di Selat Lombok tingginya hingga 2,5 meter,” katanya.

Tampak antrean di parkir Pelabuhan Padangbai, truk-truk besar yang memuat barang kebutuhan sehari-hari. Hanya saja antrean tidak sampai ke luar pelabuhan, masih bisa dikendalikan petugas Polsek Kawasan Pelabuhan Padangbai di bawah kendali Kapolsek Kompol AA Ngurah Agung.

Seorang sopir truk box, Sumono mengaku antre sejak Rabu (13/3) pukul 18.00 Wita untuk nyeberang ke Lombok. “Saya sudah antre sekitar 18 jam, belum dapat giliran naik kapal,” kata Sumono, yang mengaku datang dari Surabaya ini, Kamis kemarin.

Untuk diketahui dari 27 kapal yang selama ini dioperasikan di Pelabuhan Padangbai, 3 kapal masuk dok, yakni KMP Nusa Penida, KMP Nusa Sakti milik PT PM SP Ferry, dan KMP Salindo Mutiara I milik PT Gerbang Samudra Sarana. Sementara itu cuaca ekstrem juga menghantui penyeberangan lintas Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Jembrana di Selat Bali. Dari penyelenggara pelabuhan pun meminta para nahkoda serta pengusaha kapal untuk lebih waspada selama melakukan pelayaran. Menyikapi potensi cuaca ekstrem ini, Unit Pelabuhan Penyeberangan (UUP) Kelas II Gilimanuk mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor AL 202/8/105/UPP GMK-2024 tentang Himbauan Terhadap Kapal Berlayar Pada Cuaca Ekstrem. SE yang diterbitkan per Kamis kemarin ini di antaranya ditujukan kepada para nakhoda, keagenan dan operator kapal di Pelabuhan Gilimanuk, termasuk para pemilik dan operator boat wisata di Labuan Lalang.

Ada 4 poin yang ditekankan dalam SE tersebut. Pertama, nakhoda diwajibkan tetap memantau kondisi cuaca dan kapalnya sebelum mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Kedua, setiap pemberangkatan kapal agar dapat dipastikan stabilitas kapal positif dengan penempatan muatan yang memperhitungkan stabilitas kapal dan kendaraan yang dimuat di atas kapal dengan cara diikat atau lashing sesuai ketentuan cargo securing manual.

Ketiga, kapal-kapal yang di dalam pelayarannya mendapati cuaca buruk, diminta agar segara berlindung di tempat yang aman dengan ketentuan kapal harus tetap siap digerakkan. Kemudian poin terakhir, melakukan pemantauan atau pengecekan terhadap kondisi kapal untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan apabila terjadi kecelakaan kapal agar segera berkoordinasi dengan Syahbandar setempat.

Pengawas Satuan Pelayanan Pelabuhan Gilimanuk, I Made Ria Fran Dharma Yudha, Kamis kemarin mengatakan SE dari pihak UPP Gilimanuk itu menindaklanjuti surat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tanggal 13 Maret 2024 perihal Peringatan Dini Gelombang Tinggi. Dari prakiraan BMKG, ada potensi cuaca ekstrem yang dapat membahayakan penyeberangan di Selat Bali. "Kita tetap waspada," ujarnya.

Menurut Yudha, untuk cuaca di Selat Bali dalam beberapa hari terakhir ini memang kurang bersahabat. Namun kondisi cuaca buruk itu belum sampai kembali memasuki kategori ekstrem sehingga aktivitas penyeberangan masih normal. "Saat ini belum ada penundaan. Tetapi kalau nanti menghadapi cuaca ekstrem, harus ditunda," ucap Yudha.

Sedangkan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat dan para pelaut mengenai potensi gelombang tinggi di Perairan Selatan Bali. Putu Agus Dedy Permana, Prakirawan di BBMKG Wilayah III Denpasar, mengkonfirmasi bahwa Siklon Tropis 91S telah menyebabkan gelombang laut yang tinggi di Perairan Selatan Bali. Berdasarkan pantauan model gelombang, diperkirakan ketinggian gelombang mencapai 3,5 meter di wilayah tersebut.

Agus menerangkan, terbentuknya bibit Siklon Tropis 91S berada di Samudera Hindia bagian tenggara, selatan Jawa tepatnya di sekitar 14.6 LS dan 110.4 BT dan Bibit Siklon Tropis 94S terpantau di Laut Timor bagian selatan, tenggara NTT tepatnya di sekitar 12.5 LS dan 128.8 BT secara tidak langsung berdampak pada peningkatan kecepatan angin di wilayah Bali serta potensi peningkatan tinggi gelombang laut.

“Berdasarkan pantauan model gelombang diperkirakan terdapat gelombang laut mencapai 3,5 meter di Perairan Selatan Bali dan juga berdasarkan pengamatan cuaca di Bali terpantau kecepatan angin maksimum harian yang mencapai 23 knot di Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai yang terjadi pada 13 Maret 2024,” jelas Agus saat dihubungi, Kamis pagi kemarin.

Dijelaskan Agus, dampak dari peningkatan kecepatan angin ini antara lain adalah potensi hujan disertai petir atau kilat serta angin kencang di sebagian besar wilayah Bali. BBMKG juga mengingatkan tentang potensi tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter atau lebih, terutama di Laut Bali, Selat Bali, Selat Badung, Selat Lombok, Perairan selatan Bali, dan Samudera Hindia selatan Bali hingga Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan update model terakhir dari BBMKG, kondisi cuaca ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. Namun, Agus menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan update secara berkala kepada masyarakat. Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa kejadian ini disebabkan oleh fenomena bibit siklon tropis, yang merupakan fenomena skala regional. Fenomena seperti ini berpotensi terjadi tidak hanya selama bulan Maret tetapi juga dalam periode bulan Desember hingga Maret.

“Bulan-bulan yang berpotensi tinggi terjadi siklon tropis di wilayah selatan Indonesia yaitu bulan Desember hingga Maret,” tambahnya. Saat ini, lanjut Agus wilayah Bali masih berada dalam puncak musim penghujan, dan BBMKG Wilayah III Denpasar mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan mempersiapkan langkah-langkah pencegahan terhadap dampak yang mungkin timbul akibat kondisi cuaca ekstrem ini.

“Untuk saat ini masih masuk dalam puncak musim penghujan dan ke depannya akan kami pantau terus,” pungkasnya. Sebagai informasi, berdasarkan pemetaan, wilayah yang berpotensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat, yaitu Buleleng, Gianyar, Klungkung, Jembrana, Bangli dan Badung pada tanggal 14 Maret 2024. Sedangkan untuk 15 Maret 2024 diprediksi terjadi di daerah Buleleng, Karangasem, Tabanan, Bangli, Klungkung dan Gianyar. Untuk tanggal 16 Maret 2024 didaerah Buleleng, Karangasem dan Klungkung. Kemudian, wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang pada tanggal 14-16 Maret yaitu sebagian besar wilayah Bali, Pesisir utara dan Selatan Bali. 7 k16, ode, ol3

Komentar