nusabali

Nyenukan, Pembawa Tegen-tegenan Berpakaian Poleng

Serangkaian Ngenteg Linggih di Pura Penataran Banda, Desa Saba

  • www.nusabali.com-nyenukan-pembawa-tegen-tegenan-berpakaian-poleng
  • www.nusabali.com-nyenukan-pembawa-tegen-tegenan-berpakaian-poleng

GIANYAR, NusaBali - Krama Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar melaksanakan upacara Nyenukan pada Redite Wage Kuningan, Minggu (3/3). Upacara ini cukup langka, hanya dilangsungkan jika ada upacara skala besar atau tingkat utama. Bendesa Adat Banda, I Wayan Balik, mengatakan upacara nyenukan digelar serangkaian karya Ngenteg Linggih, Padudusan, lan Tawur Balik Sumpah di Pura Penataran Banda. Upacara ini pernah dilaksanakan sekitar 25 tahun silam.

“Tahun ini sejumlah bangunan rampung diperbaiki. Pratima Ida dalam wujud Ratu Ayu dan Ratu Gede Barong juga selesai diperbaiki atau ngodakan,” ujar Wayan Balik. Rangkaian upacara sejak bulan Februari dimulai dengan tawur balik sumpah pada Sukra Kliwon Sungsang, Jumat (23/2). Dilanjutkan dengan Melasti pada Penampahan Galungan, Anggara Wage Dungulan, Selasa (27/2). Puncak karya pada Wraspati Umanis Dungulan, Kamis (29/2). “Majenukan menjadi rangkaian akhir karya ageng ini bersama nanti ada upacara nyegara gunung dan ngelungkar setra,” jelas Wayan Balik. 


Dalam upacara majenukan ini, anak-anak Desa Saba berhias dengan payas Bali madya. Mereka mapeed, berjalan kaki menuju Pura Dalem yang jaraknya kurang lebih 200 meter. Para remaja secara berkelompok mengenakan pakaian adat warna merah, putih, kuning, hitam, dan poleng sembari membawa tegen-tegenan berisikan aneka buah, umbi-umbian, tebu, dan lainnya. PKK membawa jauman yang isinya semua jajan basah, “Ini sebagai ucap syukur karena upacara telah berlangsung lancar,” ujar Wayan Balik.

Ciri khas upacara ini adalah adanya dialog antara yajamana (pimpinan upacara) dengan pembawa tegen-tegennan yang berpakaian serba merah, putih, kuning, hitam, dan poleng. Warna ini sebagai simbol Dewata penguasa arah mata angin, timur, selatan, barat, utara, dan tengah. “Dialognya menggunakan bahasa Kawi sehingga upacaranya sakral,” jelas Wayan Balik. Bendesa Adat Banda mengucapkan terima kasih dan permakluman kepada pengguna jalan karena telah mendukung kelancaran upacara. Memasuki Jalan Pantai Saba wilayah Desa Adat Banda, selama upacara ada pengalihan lalu lintas. “Kami mohon permakluman karena harus melakukan pengalihan lalu lintas untuk kelancaran upacara,” jelas Wayan Balik. 7 nvi

Komentar