nusabali

Serahkan KTA, PDIP Apresiasi Maruarar

Ganjar: Ini Politik Biasa Saja

  • www.nusabali.com-serahkan-kta-pdip-apresiasi-maruarar

JAKARTA, NusaBali - Kader PDI Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait atau biasa disapa Ara mengundurkan diri sebagai anggota PDIP, Senin (15/1) malam. Ara menyerahkan langsung KTA (Kartu Tanda Anggota) ke Wasekjen Utut Adianto di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro No 58, Jakarta Pusat. PDIP pun menerima pengunduran Ara tersebut.

"DPP Partai telah menerima laporan dari Pak Utut Adianto, bahwa Pak Ara Sirait telah mengajukan pengunduran diri dengan menyerahkan KTA Partai," ujar Hasto melalui keterangan tertulisnya. Hasto mengapresiasi pengunduran diri Ara dengan menyerahkan KTA partai secara langsung. "Menjadi anggota partai didasarkan pada prinsip kesukarelaan. Demikian halnya untuk tidak menjadi anggota, dapat mengajukan pengunduran diri," kata Hasto. Oleh karena itu, DPP PDIP menerima pengunduran diri Ara tersebut.

“Terlebih dengan kondisi Pak Ara sekarang yang sudah semakin berhasil sebagai pengusaha. Beberapa foto Pak Ara dengan pengusaha menunjukkan keberhasilan itu," jelas Hasto. Bagi Hasto, pengunduran diri tersebut sebagai bagian dari konsolidasi kader partai. "Mengingat pengunduran diri terjadi pada saat partai sedang berjuang untuk menempatkan kedaulatan rakyat sebagai hukum tertinggi di dalam menentukan pemimpin, dan sekaligus melakukan koreksi terhadap berbagai upaya yang mencoba untuk melanggengkan kekuasaan sampai harus terjadi pelanggaran etik berat oleh Anwar Usman melalui manipulasi hukum di MK," imbuh Hasto.

Diketahui Ara merupakan anak dari tokoh politik senior PDIP, Sabam Sirait. Sabam tercatat sebagai salah satu pendiri PDI yang kemudian menjadi PDIP. Selama menjadi kader PDIP, Ara pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDIP periode 2004-2009, 2009-2014 dan 2014-2019. Ara juga pernah menjadi ketua organisasi sayap PDIP, Taruna Merah Putih. Sementara mundurnya politisi senior PDI Perjuangan (PDIP), Maruarar Sirait mendapat tanggapan dari berbagai tokoh, termasuk dari Capres nomor urut tiga, Ganjar Pranowo. Ganjar menghormati keputusan Ara yang secara resmi mengundurkan diri dari PDIP. Ganjar pun tidak terlalu mempermasalahkan pengunduran diri tersebut. Bahkan, mantan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) itu menyebutnya sebagai ‘politik biasa saja’. Ganjar menyampaikannya usai menghadiri rapat Konsolidasi Akbar Bersama Tim Pemenangan Cabang (TPC), Caleg Partai Pengusung dan Relawan di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Batang, Jateng, Selasa kemarin.

"Saya kira itu haknya Ara untuk berpindah atau meninggalkan. Mungkin beliau punya agenda lain. Saya orang yang dekat dengan Ara,” ujar Ganjar dalam keterangan tertulisnya. Ganjar mengaku  sudah  menduga Ara akan mundur dari PDIP. Ganjar menyebut, kedekatan hubungan Ara dengan Presiden Jokowi, mungkin menjadi salah satu alasan di balik keputusannya itu. Terlebih saat debat capres, terlihat anaknya Ara sudah menggunakan baju bergambar capres lainnya.

“Oh, kalau Ara memang dekat dengan Pak Jokowi. Saya menduga mungkin mereka akan mendukung Pak Jokowi, karena waktu debat kemarin anaknya sudah ikut pakai baju paslon lain dan sudah berada di kelompok sebelah. Buat saya, tidak apa apa. Ini politik biasa saja,” ucap Ganjar.

Politikus senior Maruarar Sirait memutuskan keluar dari PDI Perjuangan setelah puluhan tahun menjadi kader partai berlambang banteng moncong putih itu. "Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Mega, Pak Hasto dan jajaran partai karena selama ini sudah mengizinkan saya berbakti melalui PDIP," ujar Maruarar usai mengunjungi kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Senin (15/1) malam. Ia berterima kasih kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto dan elite partai lainnya.

Keputusan keluar itu dari PDI Perjuangan itu diambil setelah Maruarar berdiskusi dengan orang terdekatnya. Setelah itu, Maruarar memutuskan untuk pamit dari PDI Perjuangan. "Saya doakan PDI Perjuangan tetap menjadi partai yang besar, memperjuangkan Pancasila, memperjuangkan kebenaran dan memperjuangkan keadilan," katanya.

Pria asal Medan, Sumatera Utara, itu beralasan meninggalkan PDI Perjuangan, salah satunya adalah mengikuti langkah politik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, ia tidak merinci apakah alasan itu adalah mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, tidak seperti PDI-P yang mengusung pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud Md. "Saya memilih untuk mengikuti langkah Pak Jokowi karena saya percaya Pak Jokowi adalah pemimpin yang sangat didukung oleh rakyat Indonesia," ucap Maruarar. 7 k22

Komentar