nusabali

‘Kebus Bara, Makeplag, Makeplug’

  • www.nusabali.com-kebus-bara-makeplag-makeplug

KENDATI sudah tiga tahun di Jakarta ngempu cucu, Ketut Nari selalu mengikuti perkembangan Bali, tanah tumpah darahnya.

Dia merasa tak cukup mengikuti berita-berita lewat medsos. Agar lebih yakin, ia berlangganan e-paper media arus utama. Namun kadang ia merasa itu belum cukup juga, sehingga ia sering melakukan video call dengan karibnya, Nyoman Wangi.

Sepekan terakhir saban hari Nari menelepon Wangi. Biasanya dipilih saat sang cucu tidur siang, atau malam ketika seisi rumah istirahat. Cuma, ia harus ngomong bisik-bisik, menahan diri jangan sampai tertawa kalau ada yang lucu-lucu mereka percakapkan.

Yang mereka omongkan sepekan terakhir adalah kebakaran di tempat pembuangan akhir sampah di Suwung, Denpasar Selatan. Nari meminta Wangi datang ke tempat kejadian, membuat video. “Kan rumahmu di Sidakarya kurang satu kilo dari Suwung.”

Wangi sungguh-sungguh datang ke TKP, membuat video saat api berkobar, asap membubung, dan pemadam kebakaran luar biasa sibuk menjinakkan api yang tak kunjung padam. Saban hari Wangi membuat video dan mengirimkan ke Nari. Tentu Nari heran, bagaimana bisa gunungan sampah itu terbakar berhari-hari.

“Apa penyebabnya, Wangi?”

“Cuaca kebus baang, Nari. Jakarta kan panas, kebus? Di Bali juga. Kalau lama-lama di luar kita seperti sampah-sampah itu, ikut terbakar. Hahaha.”

Ketut Nari, pensiunan guru SD berkisah, di Bali ada saat-saat tertentu cuaca memang panas membara. Sejak lama begitu, sehingga untuk cuaca gerah orang Bali punya istilah: ongkeb. Panas tidak selalu berarti ongkeb. Matahari menyengat garang di bulan-bulan Juni-September, tidak menyebabkan ongkeb. Berdiri di luar di bulan-bulan itu kulit tersengat terik panas matahari, tapi kalau berteduh di bawah pohon atau di dalam rumah, tidak ongkeb, malah nyaman. Apalagi kalau malam, terasa sejuk, karena rentang perbedaan suhu siang dan malam di musim kemarau memang tinggi.

Tapi bulan-bulan selepas September, orang Bali acap mengalami cuaca kebus baang, sering juga disebut kebus bara, artinya sangat panas. Acap diartikan sebagai panas tak terkatakan. Cuaca di luar sangat panas, dan di dalam rumah ongkeb. Di mana-mana panas, sumuk, gerah, ongkeb, suka bikin kepala berdenyut-denyut pening, dan orang-orang gampang batuk-batuk. Biasanya di Bali cuaca seperti ini sangat terasa di bulan Desember, sering sampai Februari. Baru saat Nyepi di bulan Maret suhu menurun.

Di bulan Desember, disebut sasih kaenem, karena cuaca kebus bara,  banyak orang sakit, imun turun. Orang Bali menyebut sasih kaenem ini bulan gering, banyak orang terkapar, yang acap dikaitkan saat jitu kekuatan desti (ilmu hitam) menyerang. Karena itu upakara pecaruan digelar di Pura Desa, dan warga memohon berkah tirta dan daging suci untuk disajikan di gerbang rumah dan pekarangan sebagai penolak bala.

Sasih kaenem, bulan Desember, ketika hari-hari kebus bara, orang-orang menyelenggarakan upacara penolak bala, mohon keselamatan. Banyak desa yang hingga kini masih punya kepercayaan mengarak penari sanghyang atau barong, pratima, keliling desa sebagai penolak bala. Agar warga terlindungi dari bencana dan malapetaka, tidak terserang wabah muntah berak, misalnya.

“Tetanggaku yang bekerja menjadi driver online mengaku kepalanya seperti hendak makeplag ketika berkendara di jalan padat lalu lintas, saking panasnya hari,”  ujar Wangi kepada Nari. Makeplag bahasa Bali berarti meledak.

“Ah, bisa jadi ini tanda-tanda alam, petunjuk zaman. Bukankah Sidakarya itu dekat gunung sampah yang terbakar, seperti gunung makeplug,” jawab Nari. Makeplug bahasa Bali berarti meletus.

Menurut Nari kekacauan diawali oleh orang-orang yang meledak-ledak, makeplag, kemudian mereka berantem, ribut, riuh, seperti gunung makeplug. “Kita harus hati-hati, Wangi.”

Wangi tertawa cekikikan mendengar firasat Nari.

“Lho, kok ketawa? Ini serius. Cuaca panas bisa merembet ke situasi sosial memanas, apalagi menjelang pemilu, ekonomi sulit, cari duit seret. Orang-orang uring-uringan, gampang tersinggung dan marah-marah. Situasi tak hanya makeplag, bisa makeplug.”

Wangi menutup mulut agar tidak keterusan tertawa, mendengar Nari mengaitkan ongkeb dan pemilu. Ia tak mau berdebat, cuma menjawab pendek. “Ya… iyaaa… iyaaa…!” 7

Aryantha Soethama
Pengarang

Komentar