nusabali

Usia 40 Tahun, Berharap Dosen-dosen Muda Ikut Termotivasi

Prof Dr I Wayan Edi Arsawan SE MM, Profesor Termuda Politeknik se-Indonesia

  • www.nusabali.com-usia-40-tahun-berharap-dosen-dosen-muda-ikut-termotivasi

Edi Arsawan diperkenalkan sebagai profesor termuda Politeknik se-Indonesia saat hadiri Forum Profesor Politeknik Negeri Indonesia di Semarang, Jateng 3-5 Agustus 2023 lalu

MANGUPURA, NusaBali
Politeknik Negeri Bali (PNB) kini memiliki 11 guru besar, 9 di antaranya dikukuhkan di Gedung Widya Padma pada, Selasa (3/10). Di antara guru besar yang dikukuhkan itu, sosok Prof Dr I Wayan Edi Arsawan SE MM mengundang perhatian. Pasalnya, pria kelahiran 1 Agustus 1982 ini bukan hanya menjadi profesor termuda di PNB, melainkan juga menjadi profesor termuda di Politeknik se-Indonesia. Saat menyandang gelar profesor, Edi Arsawan baru berusia 40 tahun 6 bulan.

Edi Arsawan merupakan dosen di PNB sejak tahun 2006. Ia meraih gelar doktor di Universitas Udayana pada tahun 2018. Dalam bidang keilmuannya, Edi Arsawan fokus pada manajemen sumber daya manusia, khususnya perilaku organisasi.

“Menjadi profesor di usia muda adalah anugerah. Saya tidak menganggap sebagai tantangan, tapi bagaimana saya harus berkinerja lebih baik lagi. Mensyukuri apa yang diberikan Tuhan dan mendarmabaktikan ilmu pengetahuan kepada kampus dan negara,” kata sosok berpembawaan kalem ini.

Ia pun mengaku memiliki tekad mencapai impian mengejar gelar profesor di usia muda. “Saya ingin mengubah stereotype profesor yang sepuh dan senior,” ujar Edi Arsawan yang sebelumnya memiliki cita-cita menjadi dokter forensik ini. Edi Arsawan merupakan pakar dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia. Ia telah menerbitkan puluhan artikel ilmiah di jurnal internasional berreputasi. Ia juga aktif dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, serta kolaborasi internasional.

Prof Edi Arsawan juga mengungkapkan harapannya agar dosen-dosen muda di Indonesia dapat termotivasi untuk mengejar gelar profesor.

Ia mengatakan bahwa menjadi profesor bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula hal yang mustahil. "Jadi guru besar banyak tantangan, syarat berat. Yang jelas dosen muda harus kuliah doktor dulu, meningkatkan kualitas penelitian mereka, membuat publikasi bagus, dan memenuhi syarat menjadi profesor," kata Edi Arsawan. Selain itu, Edi Arsawan juga menyampaikan pandangannya tentang tantangan dan peluang di Bali. Ia mengatakan bahwa Bali memiliki sumber daya manusia yang bagus, namun perlu ditingkatkan kualitasnya agar dapat bersaing di kancah internasional.

"Bali memiliki SDM bagus dan hebat, tapi pemetaan belum komplit. Ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan," kata Edi Arsawan. Ia pun mengingatkan jika di era 5.0 dan revolusi industri, bukan semata-mata bersaing dengan orang dari luar, melainkan juga hadirnya era AI (Artificial Inteligent). “Ini jangan dilihat sebagai tantangan, melainkan kolaborasi. AI dapat membantu pekerjaan kita,” ujarnya. Di balik kesuksesan Edi Arsawan, ada sosok istri yang selalu mendukungnya, yakni Dr Ni Putu Santi Suryantini SE MM.

Santi Suryantini mengatakan bahwa perjuangan suaminya untuk menjadi profesor sangat berat. "Dia dikategorikan Profesor Politeknik Termuda, tentu saja perjuangannya lebih berat dari orang biasa dan kerja keras," kata Santi Suryantini.

Santi Suryantini juga mengatakan bahwa suaminya adalah sosok yang sangat disiplin dan pekerja keras. Ia sering bekerja hingga larut malam untuk mengejar targetnya. "Orang kerja 8 jam, dia 15 jam, tidur 3 jam. sering sakit dan harus didampingi," kata Santi Suryantini yang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana ini.

Menariknya, pada bulan Agustus lalu, Santi Suryantini juga berhasil menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Brawijaya Malang. Ia menjadi lulusan terbaik S3 di Universitas Brawijaya Malang, pencapaian ini setara dengan pencapaian Edi Arsawan yang menjadi lulusan S3 terbaik di Unud, bahkan Edi Arsawan menyelesaikan studi S3 hanya dalam waktu 2 tahun 9 bulan.

Sebelumnya Edi Arsawan meraih gelar S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana pada tahun 2006, gelar S2 di Program Magister Manajemen Universitas Udayana pada tahun 2010, dan gelar S3 Program Doktor Manajemen Universitas Udayana pada tahun 2018.

Edi Arsawan sendiri diperkenalkan sebagai profesor termuda Politeknik se-Indonesia saat menghadiri Forum Profesor Politeknik Negeri Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, pada 3-5 Agustus 2023 lalu. Anak pertama dari 2 bersaudara ini juga mengajar di Thailand, Polandia, Jerman, Latvia, Georgia secara online. Sementara mengajar secara offline secara berkala dilakukan di Malaysia dan Timor Leste. Kepercayaan internasional ini diraihnya karena hasil-hasil risetnya inline dengan para peneliti Eropa. High index Scopus Edi Arsawan ada di angka 10. Sebagaimana diketahui Scopus adalah jurnal internasional bereputasi tinggi. “Secara keseluruhan saya sudah kolaborasi dengan 39 universitas seluruh dunia di 9 negara,” tuntas Edi Arsawan.

Adapun 9 guru besar Politeknik Negeri Bali (PNB) yang dikukuhkan pada Selasa kemarin, yakni Prof Dr I Nyoman Gede Arya Astawa ST MKom, Prof Drs Ida Bagus Putu Suamba MA PhD, Prof Dr Ir Putu Wijaya Sunu ST MT IPM ASEAN Eng, Prof I Dewa Made Cipta Sentosa ST MSc PhD, Prof Dr Ir I Made Rasta MSi, Prof I Nyoman Suamir ST MSc PhD, Prof Dr I Wayan Edi Arsawan SE MM, Prof Ni Made Ernawati MATM PhD, dan Prof Dr I Made Rai Jaya Widanta SS MHum. 7 mao

Komentar