nusabali

Arloji, Kacamata Hitam dan Foto Selfie Terakhir Ikut Dibakar

Prosesi Ngaben Korban Lift Maut, I Wayan Aries Setiawan Diiringi 2 Barung Baleganjur

  • www.nusabali.com-arloji-kacamata-hitam-dan-foto-selfie-terakhir-ikut-dibakar

Selain aktif berkesenian khususnya megambel, Wayan Aris Setiawan juga hobi olahraga Futsal, bahkan dari dua aktivitasnya ini, Aris kerap membawa pulang piala

GIANYAR, NusaBali
Prosesi Ngaben, salah satu korban kecelakaan lift maut Ayuterra Resort Ubud, I Wayan Aries Setiawan,23, berlangsung pada Sukra Paing Pahang, Jumat (8/9) siang. Arak-arakan Singa Merah dan Bade dari rumah duka Banjar Abiansemal, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar menuju Setra Adat Lodtunduh, diiringi 2 barung baleganjur.

Ratusan bahkan ribuan kerabat maupun teman-teman almarhum turut hadir mengantarkan Aris ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kepada keluarga berdasarkan hasil meluasin, Aris meminta arloji yang baru dibeli, kacamata hitam dan foto selfie terakhir di tempat kerjanya, Ayuterra Resort supaya dibakar bersama jasadnya.

Foto: Iring-iringan pengantar menuju ke setra. -NOVI ANTARI

"Dia punya arloji baru. Saat kejadian dia tidak pakai, ketinggalan di rumah. Sekarang diminta itu supaya dibawakan sama kacamata hitam. Cucu saya ini juga minta foto selfie terakhir di tempat kerjanya dibakar sama mayatnya," ungkap I Made Karya, kakek mendiang saat ditemui di sela prosesi ngaben. Dijelaskannya, prosesi ini disebut Sawa Prateka dengan tingkatan utamaning madya. Tahapannya setelah pembakaran jenazah dilanjutkan dengan nganyut ke laut sebelum tengah malam.

Di mata keluarga, Aris semasa hidup adalah sosok anak muda yang membanggakan. Selain aktif berkesenian khususnya megambel, Aris juga hobi olahraga Futsal. Bahkan dari dua aktifitasnya ini, Aris kerap membawa pulang piala. Begitu pula saat mencari pekerjaan, Aris terlalu mandiri. Padahal Aris bisa saja memanfaatkan relasi keluarga besarnya untuk kerja di bidang pariwisata, namun Aris memilih jalan hidupnya sendiri. Orangtuanya, Made Suarsa,49, dan Ni Wayan Sumastini,48, merupakan pekerja pariwisata di tataran manajemen. Sementara Made Karya sendiri merupakan tokoh terpandang di Desa Lodtunduh karena menjabat sebagai Bendesa Adat.

Belum lagi, Kapolsek Ubud Kompol I Made Uder diketahui masih ada hubungan darah dengan almarhum. "Cucu saya ini sedang energik-energiknya, sehat, ganteng, siapa sangka jalannya seperti ini. Terus terang saya berat sekali melepas dia," ungkapnya sembari mengelus dada. Hal yang membuatnya semakin sedih karena kepergian sang cucu tanpa firasat maupun mimpi buruk. "Tidak ada tanda-tanda apa. Kalau sempat mimpi gigi copot kan bisa kita membayangkan apa yang kira-kira terjadi, kalau orang Bali kan percaya itu. Makanya keluarga sangat syok," terangnya.

Pihaknya berharap musibah yang dialami cucunya ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kepada teman-teman cucunya, Made Karya mengucapkan terima kasih sudah datang untuk melayat turut mendoakan Aris. "Mudah-mudahan perjalanan cucu saya mendapat tempat sesuai dengan karmanya. Mudah-mudahan ke depannya tidak ada begini lagi," ujarnya.

Terpisah, Kakek misan almarhum, I Wayan Suharta mengatakan jenazah Aris dipulangkan dari RS Ari Canti Desa Mas, Kecamatan Ubud pada Kamis (7/9), sehari sebelum Ngaben. "Kemarin itu dari pagi prosesinya, memandikan jenazah, ngaskara. Hari ini puncaknya," jelasnya. Yang spesial pula, Pengabenan Aris diiringi 2 barung baleganjur. "Ada dari teman Aris di Sekaa Yowana Abiansemal dan baleganjur banjar," jelasnya.

Teman Aris di Sekaa Yowana, I Putu Arya Nadiarta mengenal sosok almarhum sebagai pemuda aktif. "Di sekaa ini, Aris nabuh kendang. Orangnya ramah, suka bercanda, aktif, hobi futsal juga," ujarnya. Para Yowana pun merasakan duka yang mendalam atas kepergian Aris untuk selamanya. Hal senada diungkapkan sahabat baik Aris, I Made Mertayasa,26. "Saya sudah anggap Aris itu adik, serasa seperti saudara sendiri. Kami sering ikut lomba. Saya nari Jauk, Aris yang mekendang," ujarnya.

Sepengetahuannya, Aris punya banyak teman. Sehingga saat mengantar ke peristirahatan terakhirnya ini, banyak temannya yang ikut megambel. Termasuk dirinya yang asal Padangtegal, Ubud. Bersama Aris, Sekaa Yowana Abiansemal ini telah menggarap dua tabuh baleganjur yang dinamai Tabuh Catus Pata dan Tabuh King. "Lagu baru yang kita garap bersama untuk Pangerupukan Nyepi tahun lalu. Aris di kendang," terangnya.

Seperti diketahui, tepat sepekan lalu Aris mengalami kecelakaan maut di tempat kerja Ayuterra Resort Ubud, Jumat (1/9) siang. Aris dan 4 rekan kerjanya, Sang Putu Bayu Adi Krisna,19, asal Banjar Kedewatan, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud; Ni Luh Supernigsih,20, asal Banjar Paneca, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan; Kadek Hardiyani,24, asal Banjar Teruna, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli; serta Kadek Yanti Pradewi,19, asal Banjar Dinas Beji, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng meregang nyawa saat menggunakan fasilitas tram lift Ayuterra Resort Ubud. Para korban informasinya, meluncur ke jurang bersama lift yang lintasannya miring itu. Tali sling lift berbahan baja diduga putus, sehingga lift beserta 5 karyawan terjun bebas ke arah jurang. Naas, 5 karyawan yang berada dalam lift ikut terpental. Dan Aris terlempar paling jauh sampai ke jurang dan dinyatakan meninggal di tempat. 7 nvi

Komentar