nusabali

Berkaca Kejadian Ratusan Babi Mati di Desa Bila, Pengusaha Ternak Diajak Jalin KIE

  • www.nusabali.com-berkaca-kejadian-ratusan-babi-mati-di-desa-bila-pengusaha-ternak-diajak-jalin-kie

SINGARAJA, NusaBali - Kasus kematian ratusan ekor ternak babi mati di PT ABS yang terletak di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng.

Dinas Pertanian (Distan) Buleleng mengajak pengusaha ternak babi dalam skala besar maupun kecil agar selalu berkoordinasi sehingga kejadian tersebut dapat cepat ditangani cepat dan dicegah lebih dini.

Distan Buleleng mengajak para pengusaha untuk mengambil langkah Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).  Pelaku usaha ternak babi di Buleleng tetap memperhatikan kebersihan kandang babi dan dibantu dari petugas menyemprotkan disinfektan. Selain itu, tidak lupa memberikan asupan vitamin yang harus rutin vaksinasi langsung ke hewan ternak.

"Ternak babi baik dalam skala besar atau kecil agar selalu berkoordinasi dengan Distan Buleleng. Jika terjadi hal seperti ini lagi dapat di komunikasikan lebih lanjut sehingga tidak sampai terjadi kematian dalam skala besar," harap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Made Sumiarta, Minggu (7/5) siang. 

Saat ini, sesuai dengan monitoring rutin yang dilakukan Distan Buleleng belum ada laporan kematian ternak dari peternak babi baik skala besar dan skala kecil. "Ternak babi Bali yang merupakan sektor andalan dalam penjualan keluar daerah.  Jangan hanya karena penyakit ini menjadikan pengiriman dalam daerah atau keluar bisa terhambat," jelasnya.

Kata Sumiarta, kematian babi milik perusahaan PT ABS tersebut terjadi secara bertahap mulai dari bulan Januari hingga April. Dari empat bulan itu, total ada kematian 400-an ekor babi dari total 1.300 ekor babi yang dimiliki perusahaan tersebut. "Sisa babi telah dijual karena kondisinya dinyatakan masih layak untuk dikonsumsi," ungkap Sumiarta.

Sebelum kejadian kematian ternak babi, dari pihak perusahaan mengaku sempat membeli bibit babi dari luar daerah Buleleng. Setelah dipelihara, babi-babi itu tersebut mengalami proses adaptasi seperti halnya pengenalan pakan dan kondisi kandang. Dalam proses situ, ternyata babi tersebut mengalami diare, dan tidak nafsu makan sehingga mengalami kematian.

"Kematian babi itu diindikasikan dengan virus Hog Kolera atau dikenal dengan Classical Swine Fever (CSF). Sekarang di kandang sudah tidak ada babi yang dipelihara karena dari pihak perusahaan masih takut terjadi seperti kejadian bulan kemarin," beber Sumiarta. 

Diberitakan sebelumnya, ratusan babi ternak milik PT ABS di Desa Bila, Kubutambahan, Buleleng, dilaporkan mati mendadak. Dari sekitar 1.500 ekor babi yang ada di perusahaan itu, sekitar 400-an di antaranya mati. Sebanyak 250-an ekor babi mati dari periode bulan Januari hingga Februari. Kemudian disusul 150-an ekor babi yang mati sepanjang bulan Maret. 

Kepala Pelaksana PT ABS, Made Suyasa menyatakan, penyebab kematian babi tersebut, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan dokter hewan perusahaan disebabkan karena virus HC (Hog Colera) serta perubahan cuaca. Sebanyak 1.100 ekor babi sisanya yang masih sehat telah dijual oleh pihak perusahaan.

Bangkai babi yang mati tersebut langsung dikremasi sesuai dengan prosedur dari Dinas Peternakan.  Tujuannya untuk mematikan virus yang ada di bangkai babi. Lokasi pembakaran bangkai, di tempat khusus yang masih satu area dengan lokasi kandang. Pihak perusahaan saat ini melakukan sterilisasi dan pembersihan kandang. Kandang juga dikosongkan sementara hingga dua bulan ke depan.

Pihaknya juga enggan menyebutkan nominal kerugian perusahaan yang ditimbulkan akibat kematian babi-babi tersebut. Dirinya pun membantah informasi mengenai jumlah babi yang mati di perusahaannya mencapai ribuan ekor. Jumlah tersebut menurutnya jika dihitung total babi yang ada di Kubutambahan. "Bukan di kandang kami saja, mungkin di peternak tradisional juga. Takutnya ini jadi preseden buruk untuk peternak di bawah," ujar Suyasa. 7 mzk

Komentar