nusabali

Mitos Penyatuan Dua Jiwa Sarat Makna

Pesan Cinta Dewa Semara dan Dewi Ratih

  • www.nusabali.com-mitos-penyatuan-dua-jiwa-sarat-makna
  • www.nusabali.com-mitos-penyatuan-dua-jiwa-sarat-makna

Dewa Semara atau Dewa Kama dengan Dewi Ratih adalah mitologi yang dibuat untuk menyampaikan pesan, bahwa jiwa laki-laki (maskulin) dan jiwa perempuan (feminim) selalu ada pada diri setiap manusia.

DENPASAR, NusaBali

Cinta barangkali jadi konsep yang paling sulit digambarkan dengan kata-kata. Tidak terbatas pada cinta erotik, cinta bisa jadi jauh melampaui sebatas nafsu birahi.

Bicara tentang cinta di Bali, tidak bisa terlepas dari kisah yang banyak disampaikan para tetua. Kisah asmara antara Dewa Kama dan Dewi Ratih bahkan masuk ke dalam bilah-bilah ritual Hindu dan seni di Bali. Kisah kasih keduanya tercatat dalam Kakawin Smaradahana. Puisi Jawa kuno ini dibuat oleh Mpu Dharmaja pada sekitar abad ke-12.

Budayawan Bali I Gede Anom Ranuara menyebut kisah cinta Dewa Semara atau Dewa Kama dengan Dewi Ratih adalah mitologi yang dibuat untuk menyampaikan pesan bahwa jiwa laki-laki (maskulin) dan jiwa perempuan (feminim) selalu sudah ada pada diri setiap manusia. Kedua 'jiwa' tersebut dibutuhkan oleh setiap manusia agar bisa menjalani hidupnya dengan baik dan berdaya guna.

"Itu dibutuhkan dalam beraktivitas, kapan kita butuh power untuk maskulin kapan kita butuh power untuk feminim. Karena tidak mungkin dalam hidup ini feminim semua atau maskulin semua. Artinya, kedua unsur ini harus dibangkitkan, itulah harapan dari sebuah kehidupan itu sendiri," ujar Anom Ranuara kepada NusaBali, belum lama ini.

Cerita kedua sejoli, Sang Hyang Semara Ratih, sendiri berpusat pada terbakarnya Dewa Semara atau Dewa Kama yang menjalankan tugas membangunkan Dewa Siwa yang sedang melakukan tapa semadi. Dewa Siwa akhirnya marah besar karena dibangunkan oleh Dewa Kama dan dengan kekuatannya membakar Dewa Kama hingga menjadi abu.

Niat Dewa Kama sejatinya baik. Membangunkan Dewa Siwa untuk memberitahu bahwa kerajaan surga sedang dikepung oleh para raksasa. Dan, hanya Dewa Siwa yang mampu mengalahkan para raksasa tersebut.

Nasi sudah menjadi bubur. Dewa Kama telah tewas terbakar. Sang istri Dewi Ratih merasa kehilangan bukan main, dan akhirnya memohon kepada Dewa Siwa agar tubuhnya ikut dibakar bersama suaminya.

Singkat kisah, Dewa Siwa akhirnya sadar duduk persoalan sebenarnya setelah diberitahu sang istri Dewi Uma atau Dewi Parwati. Namun, Dewa Siwa tidak bisa menghidupkan kembali kedua sejoli Dewa Kama atau Dewa Semara dan Dewi Ratih. Dewa Siwa pun berjanji bahwa Dewa Kama dan Dewi Ratih akan 'hidup' selamanya di hati setiap insan manusia, laki-laki dan perempuan, yang telah sadar dengan swadharmanya.

"Kita tetap mengacu monodualistis yang ada di Hindu, yang dua itu satu, yang satu itu dua. Dalam puja Ardanareswari kita bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud laki-laki sekaligus perempuan. Semara Ratih itu sebenarnya ada di sana," ujar budayawan yang akrab disapa Guru Anom.

Lebih jauh dikatakan Guru Anom, wujud tunggal Dewa Semara dan Dewi Ratih, Sang Hyang Semara Ratih, dipuja dalam sejumlah ritual agama Hindu di Bali. Misalnya keberadaan sanggah Surya pada saat upacara perkawinan makala-kalaan (mabeakala) merupakan niyasa (simbol) stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Ratih.

Pada upacara pamakuhan dalam pendirian rumah baru (ngetok sunduk) juga diawali dengan persembahyangan kepada Sang Hyang Semara Ratih. Pun, dalam upacara matatah (potong gigi) di awal pelaksanaannya melakukan persembahyangan dan mohon air suci tirta kehadapan Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Ratih.

"Kenapa rarajahan Semara Ratih dimunculkan pada saat matatah, karena pada saat itu kita dianggap tahu jati diri kita dengan mengenal 6 unsur Sad Ripu. Ketika bisa merasa 6 unsur, itu adalah orang enten atau orang jagra, orang sadar dan tahu akan jati dirinya," kata budayawan asal Desa Adat Kesiman, Denpasar ini.

Guru Anom menuturkan, meskipun kisah Sang Hyang Semara Ratih berangkat dari sebuah mitologi, banyak nilai-nilai yang bisa dipetik manusia di zaman sekarang. Bahwa keseimbangan antara maskulinitas dan feminitas harus dijaga oleh setiap orang agar kehidupannya berlangsung baik.  

"Bagi anak-anak sekarang, mitologi dianggap cerita-cerita buatan. Tetapi ketika kita pakai logika maka akan mengerti maksudnya," tandas Guru Anom.*cr78

Komentar