nusabali

Kisah Duka Keluarga Korban Penyakit Gangguan Ginjal Akut yang Anaknya Meninggal Dunia

Begitu Tiba-tiba, Rumah Masih Penuh Kenangan Sang Anak

  • www.nusabali.com-kisah-duka-keluarga-korban-penyakit-gangguan-ginjal-akut-yang-anaknya-meninggal-dunia

Kadiskes Bali Dr dr I Nyoman Gede Anom MKes mengungkapkan saat ini belum ada lagi pasien baru AKI di Bali, sebelumnya kasus AKI di Bali meningkat pada bulan Agustus dan September total ada 17 pasien.

DENPASAR, NusaBali

Raut wajah duka mendalam masih terlihat jelas dari wajah Putu Yanti Oktaviani,32. Lebih dari sebulan lalu putri satu-satunya meninggal dunia setelah sempat mengalami gejala gangguan ginjal akut atau acute kidney injury (AKI). Setelah sekitar dua pekan mengalami sakit, putrinya yang juga merupakan anak ketiganya menghembuskan napas terakhir di RSUP Prof dr IGNG Ngoerah pada 17 September lalu sekitar pukul 19.00 Wita.

Di hadapan awak media yang menemuinya di kediamannya di daerah Peguyangan, Denpasar Utara, Yanti berusaha menjelaskan kronologis sampai anaknya Komang Dyra Bulan Kayana yang berusia satu tahun, menjalani perawatan intensif di RSUP Prof Ngoerah. Ia menyampaikan anaknya pertama kali mengalami demam pada 1 September 2022. Suhu tubuhnya bahkan mencapai lebih dari 40 derajat celcius.

Yanti kemudian membawa anaknya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Denpasar dan mendapatkan resep obat sirup penurun panas (paracetamol). "Dikasih paracetamol sirup (generik) saja waktu itu, tapi saya lupa produsennya," ungkap Yanti. Selang dua hari panas anaknya kembali normal dan mulai bisa beraktivitas seperti biasanya. Namun, dua hari kemudian atau tanggal 6 September 2022 panas tubuh anaknya kembali meningkat.

Bulan kembali mengalami demam. Ia pun kembali dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Denpasar, namun berbeda dengan rumah sakit yang dikunjungi beberapa hari sebelumnya. Meskipun panasnya 'hanya' 38,8 derajat celcius Bulan harus menjalani opname di rumah sakit, pasalnya volume dan frekuensi air kencingnya jauh berkurang. Pada saat itu hasil laboratorium menunjukkan fungsi ginjal atau Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) berada pada angka 35 mL/mnt per 1,73 m2.

Padahal normalnya angka LFG di atas 90 mL/mnt per 1,73 m2. "Badannya mulai agak bengkak pada waktu itu," sebut Yanti yang didampingi suaminya. Keesokan harinya Bulan dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah dan ditangani IGD Anak. Fungsi ginjalnya terus melorot hingga 7 mL/mnt per 1,73 m2. "Pada saat itu dibilang MIS-C (Multisystem Inflammatory Syndrome in Children)," ucap Yanti. Kondisi tersebut mengakibatkan Bulan harus menjalani cuci darah. Karena rumah sakit belum memiliki mesin cuci darah untuk anak di bawah tiga tahun, Bulan harus  menjalani cuci darah lewat prosedur CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis).

Selepas menjalani CAPD dalam beberapa hari kondisi Bulan kembali terlihat membaik. Air kencing juga mulai keluar lagi. Meskipun angka LFG masih sangat rendah 7,5 mL/mnt per 1,73 m2. Bahkan pada saat itu Bulan yang dirawat di ruang intensif (ICU) direkomendasikan menempati kamar pasien biasa di ruang Cempaka. "Sudah mau makan, panas nggak ada, kalau sebelumnya minta digendong saja," ujar Yanti yang seorang ibu rumah tangga ini.

Namun pada tanggal 15 September 2022 kadar Haemoglobin (Hb) Bulan dikatakan menurun. "Hb-nya turun 7 g/dL, normalnya kan 10,5 g/dL," ucap Yanti. Dokter pun merekomendasikan transfusi darah. Namun keesokan harinya kondisi Bulan semakin parah, ditandai dengan adanya sesak napas. Dari sana dokter kembali melakukan transfusi darah kedua. Dan selanjutnya menempatkan Bulan di ruangan PICU (Pediatric Intensive Care Unit) menggunakan ventilator.

Kondisi Bulan terus menurun. Pada tanggal 17 September 2022 dini hari sekitar pukul 02.00 Wita dokter mengatakan saluran cerna Bulan mengalami pendarahan. Pada malam hari pukul 19.00 Wita Bulan menghembuskan napas terakhir. Dokter pada saat itu mendiagnosis penurunan fungsi jantung hingga 30 persen. Yanti sampai saat ini masih belum percaya kehilangan anak bungsunya untuk selamanya. Kehilangan anaknya dirasa begitu tiba-tiba. Rumah, ujarnya, penuh kenangan bersama Bulan.

Dia pun berharap penyebab ganguan ginjal akut yang merenggut nyawa anaknya segera bisa jelas penyebabnya. "Semoga bisa cepat diketahui penyebabnya, nggak sampai ada yang sakit lagi," ucap perempuan asal Negara, Jembrana ini. Seperti diketahui Kementerian Kesehatan saat ini terus mendalami penyebab penyakit gagal ginjal akut atau acute kidney injury (AKI). Kementerian Kesehatan sejauh ini mengatakan gangguan ginjal akut ini disebabkan cemaran zat kimia etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada obat sirup.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom MKes, mengungkapkan Bali belum menerima kiriman antidotum AKI, obat penawar penyakit gangguan ginjal akut atau acute kidney injury (AKI). "Bali belum dapat, karena obatnya masih terbatas di Kemenkes. Sementara dikirim ke daerah yang sedang merawat pasien gangguan ginjal akut anak," ujar dr Anom ketika dihubungi NusaBali, Rabu kemarin.

Dia menyampaikan sampai saat ini belum ada pasien baru AKI di Bali. Sebelumnya kasus AKI di Bali meningkat pada bulan Agustus dan September. Total ada 17 pasien yang dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah selama periode tersebut. Meskipun dua pasien disebut rujukan dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan jumlah kematian lebih dari 50 persen atau sebanyak 11 kematian.

Sementara itu pada bulan Oktober jumlah pasien AKI jauh menurun. Hanya satu pasien yang dirawat di RSUP Sanglah dan saat ini sudah diperbolehkan pulang menjalani rawat jalan. dr Anom menambahkan, jika nantinya Bali sudah mendapat jatah obat penawar pihaknya akan langsung mendistribusikan ke RSUP Prof Ngoerah sebagai satu-satunya rumah sakit di Bali yang bisa menangani pasien gangguan ginjal akut pada anak-anak.

"Nanti kalau dapat, langsung kami distribusikan ke RSUP Prof Ngoerah Sanglah," kata dr Anom. Seperti disampaikan Kemenkes obat penawar AKI, jelas dr Anom, akan diberikan secara gratis kepada pasien. Di sisi lain, dr Anom menyampaikan tim surveilans AKI di Bali telah bekerja untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya kasus AKI baru di masyarakat.

Selain itu tim surveilans juga melakukan pendataan kepada seluruh pasien AKI sebelumnya, termasuk obat-obat saja yang pernah dikonsumsi sebelum mengalami gejala gangguan ginjal akut. Namun demikian dr Anom masih enggan menyampaikan perkembangan hasil kerja tim surveilans. "Karena sifatnya rahasia, semua dilaporkan ke Kemenkes. Nanti selanjutnya Kemenkes yang meneliti hasilnya, karena yang kita laporkan adalah jenis obat yang dikonsumsi selama perawatan," sebutnya. *cr78

Komentar