nusabali

Jembrana Nihil Stok SAR

  • www.nusabali.com-jembrana-nihil-stok-sar

Di Gilimanuk, ada balita yang wajahnya tergigit kuluk, beruntung hasil laboratorium negatif rabies.

NEGARA, NusaBali

Tingginya kasus gigitan kuluk (anak anjing) positif rabies di Jembrana ternyata tak didukung ketersediaan Serum Anti Rabies (SAR) bagi korban gigitan risiko tinggi. Stok SAR di Kabupaten Jembrana kosong. Pada awal tahun 2017 ini, petugas menemukan 5 kuluk positif rabies yang menggigit 22 orang di tiga banjar berbeda.  

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana, dr I Putu Suasta, mengatakan, kekosongan stok SAR terjadi sejak September 2016 lalu. Pihaknya sempat memiliki sisa 4 vial SAR yang sudah kedaluwarsa per 31 Agutus 2016, sehingga tidak bisa digunakan kembali. Sebelum terjadi kekosongan SAR, Dinas Kesehatan Jembrana sudah menganggarkan pengadaan SAR melalui APBD tahun 2016, namun SAR sulit didapatkan, sehingga anggarannya menjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA). “SAR kosong. Tahun ini kita anggarkan lagi, tetapi belum ada barangnya,” terang dr Suasta, Jumat (10/3).

Kekosongan SAR diyakininya tidak hanya terjadi di Jembrana. Tetapi terjadi di seluruh Indonesia. Padahal, SAR yang harganya sangat mahal, mencapai Rp 1,5 juta per vial ini, menjadi satu-satunya penyelamat nyawa korban gigitan rabies risiko tinggi. Gigitan risiko tinggi itu meliputi bagian bahu ke atas, serta ujung jari kaki maupun kaki yang menjadi titik simpul saraf. “Pemerintah ada menujuk salah satu perusahaan farmasi milik BUMN sebagai distributor resmi SAR di Indonesia. Tetapi mungkin karena sulit mendapat pasokan, kami di daerah juga kesulitan mendapatka SAR,” ujarnya.

Dijelaskan, produksi SAR sangat berbeda dengan VAR (Vaksin Anti Rabies). SAR didapat dari luar negeri, diproduksi melalui proses penyuntikan virus rabies pada objek tubuh manusia atau tubuh kuda, sebelum kemudian diambil serumnya. Sementara VAR, diproduksi cukup dengan menggunakan objek cairan virus rabies yang telah dilemahkan. “Kalau VAR masih ada stok. SAR ini yang sulit didapatkan. Kami sudah mengusahakan mendapatkan SAR,” tambahnya.

Normalnya, sambung dr Suasta, satu orang korban gigitan rabies risiko tinggi memerlukan sampai 4 vial SAR. Pada gigitan normal, virus rabies yang menyebar lewat saraf membutuhkan waktu dua minggu sampai di otak. Sedangkan pada gigitan risiko tinggi, virus rabies sudah sampai di otak kurang dari 14 hari. Mekanisme pemberian SAR juga harus pada gold periode (hari pertama digigit atau masimal hari kedua). Jika lewat dari dua hari sejak menerima gigitan rabies risiko tinggi, maka SAR tidak akan berfungsi, kemungkinan korban bisa diselamatkan sangat kecil.

Dikatakan, dari 22 warga tergigit kuluk positif rabies pada bulan Fabruari dan awal Maret 2017 tidak ada masuk kategori gigitan risiko tinggi. Tetapi, kasus rabies ini sangat mengkhwatirkan dengan nihilnya SAR. Apalagi tren temuan kasus rabies belakangan ini cenderung ditemukan pada kuluk, yang biasa sering diajak bercanda pemiliknya. Pemilik kuluk positif rabies ada kemungkinan menjadi korban gigitan risiko tinggi. dr Suasta mengatakan, ada balita di Kelurahan Gilimanuk yang wajahnya tergigit kuluk. Beruntung kuluk tersebut negatif rabies.

dr Suasta mengimbau warga untuk menekankan antisipasi, khususnya menghindari kontak atau gigitan Hewan Penular Rabies (HPR). Begitu juga dengan warga yang memelihara HPR diharapkan memberikan perhatian lebih, baik dengan memberikan vaksin dan tidak dilepasliarkan. Jika terjadi gigitan, bagian luka harus segera dibilas bersih menggunakan deterjen, sehingga mengurangi risiko virus. “Korban gigitan HPR harus segera ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan,” imbau dr Suasta. * ode

Komentar