nusabali

'Sulap' Limbah Jadi Aneka Barang Kerajinan

Luh Rusmiati, Warga Desa Sudaji, Buleleng

  • www.nusabali.com-sulap-limbah-jadi-aneka-barang-kerajinan

SINGARAJA, NusaBali
Luh Rusmiati,42, warga Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng. Dia adalah seorang perajin anyaman yang memanfaatkan limbah kertas dan bungkus kopi bekas. Limbah diajadikan pelbagai bentuk kerajinan tangan.

Di sebuah bangunan serba guna pada halaman rumahnya, sejumlah bahan yang diperlukan untuk membuat kerajinan sudah sedia. Mulai dari kertas bekas yang sudah dipotong. Ada juga kertas yang sudah dilinting. Beberapa linting kertas itu dikerjakan oleh kakak ipar Rusmiati.

Di atas meja dan di mini art shopnya tampak dipajang sejumlah hasil karya. Mulai dari alas gelas yang mungil, keranjang parsel berbagai ukuran, keranjang serbaguna, tempat cucian, dulang, bokor, kalung hingga tas unik yang cantik dan apik.

Perempuan lajang ini mengaku memulai usahanya dalam bidang anyaman sejak tahun 2017 silam. Saat itu dia masih menjadi guru les privat di Denpasar. Waktu luangnya pun diisi dengan membuat berbagai jenis anyaman. “Awalnya hanya mengisi waktu saja. Karena saya memang suka buat keterampilan tangan,” ucapnya, Jumat (25/3) siang.

Kemampuan dan ketelatenannya membuat kerajinan tangan menjadi berkembang. Rusmiati pun mengembangkan produk dan anyamannya dengan belajar secara otodidak melalui youtube. Tidak punya guru khusus atau ikut pelatihan. Hasil karyanya itu lalu dipamerkan di akun media sosial pribadinya. Lambat laun, banyak yang menginginkan. Bahkan Rusmiati sempat bekerja sama dengan art shop besar yang mengirim karyanya hingga ke luar negeri.

“Kalau dulu tahun 2018 itu sempat ramai peminat. Saya titip barang di art shop dan dari art shop dikirim ke luar negeri. Saat itu ramai order alas gelas. Tetapi karena pandemi mulai sepi dan tahun 2020 saya fokus pulang ke Buleleng,” kata Rusmiati.

Dari sejumlah produk yang dihasilkan dijual dari harga Rp 5.000 hingga Rp 700.000. Sejauh ini yang paling diminati adalah keranjang untuk parcel. Saat ini dia pun bekerjasama dengan pengusaha UMKM di Buleleng. Selain pemasaran secara online dan dari mulut ke mulut. Orderan keranjang parcel biasanya ramai menjelang hari raya besar keagamaan.

Rusmiati mengaku sejauh ini tak kesulitan mendapatkan bahan baku. Kertas-kertas bekas didapat dari sumbangan guru, sekolah hingga keponakannya yang bekerja di instansi pemerintahan.

Untuk menjaga stok barangnya tetap tersedia, Rusmiati rutin berproduksi setiap harinya, meski tidak ada orderan. Kini sejumlah produknya sudah memiliki label GL yang merupakan singkatan Gegaen Lima (Kerajinan Tangan). Dalam satu hari produksi, dia dapat menghasilkan 10 buah keranjang parcel.

Untuk mempercepat pengerjaan anyaman, Rusmiati meminta bantuan kepada kakak dan keluarga perempuannya untuk melinting kertas. Mereka pun diupah sesuai dengan kinerja. Setelah selesai dilinting, akan diberikan warna dasar. Setelah kering Rusmiati akan mulai menganyam. Berbagai pola anyaman dia pelajari dari menonton tutorial di youtube saja.

“Saya ketemu anyaman yang pas dan bagus menurut saya setelah melakoni ini dua tahun. Bagaimana cara menyambung yang halus, termasuk pola anyaman,” imbuh dia. Setelah selesai di anyam, hasil kerajinan tangan itu kembali akan dipoles cat dan dipernis lalu dikeringkan.

Sentuhan akhir ini disebut Rusmiati membuat hasil karyanya tahan lama dan juga cukup kuat jika diisi beban. Cara pemeliharaannya pun cukup sederhana. Debu yang menempel cukup dibersihkan dengan kuas halus. Sedangkan jika kena air hanya perlu di lap dan diseringkan. “Kalau kena air tidak apa-apa kok asal jangan direndam,” katanya.

Di balik ketekunan berkarya, Rusmiati berharap dapat menginspirasi masyarakat lain, khususnya dalam memanfaatkan limbah di sekitar untuk barang bernilai ekonomis. *k23

Komentar