nusabali

Say No To Plastic Bags

  • www.nusabali.com-say-no-to-plastic-bags

Kampanye Satu Pulau Satu Suara Bersama Pemerintah Stop Pencemaran Sampah Plastik Di Laut.   

MANGUPURA, NusaBali
Sampah bukan lagi menjadi permasalahan baru di Indonesia maupun dunia. Masalah sampah kian besar, bahkan menurut data Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, ada sebanyak 9,85 milyar lembar sampah kantong plastik dihasilkan setiap tahunnya. Stop pencemaran sampah plastik harus getol disuarakan agar semua komponen mau tergerak.

Satu gerakan peduli sampah kembali dilakukan.  Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) kembali menyelenggarakan gerakan sosialisasi dan edukasi yang membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, terutama dalam memerangi pencemaran sampah plastik di laut. Kali ini, Pulau Dewata kembali menjadi tuan rumah untuk kampanye tersebut. Kegiatan dilaksanakan 24 Februari 2018, serangkaian memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), sekaligus sebagai upaya untuk mewujudkan Indonesia bersih dan bebas sampah pada tahun 2025.

Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) tahun ini semakin diperluas di lebih dari 100 lokasi di Bali dengan mengajak sekitar 25.000 orang partisipan. Sebab pada tahun 2017, aksi hanya dilakukan di 55 lokasi dengan 12.000 partisipan. Kampanye kali ini juga tidak hanya berpusat di Bali, namun juga mengajak partisipasi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Mereka melakukan kegiatan bersih-bersih secara bersama-sama di wilayah masing-masing. Aksi bersih-bersih dilakukan di berbagai tempat mulai dari darat, pinggiran sungai, hingga sepanjang pesisir pantai.

Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice), Melati Wijsen mengaku optimis Bali bisa menyusul keberhasilan Banjarmasin yang telah memiliki kebijakan larangan penggunanaan kantong plastik. Hal ini sangat mungkin diikuti pemerintah daerah khususnya di Bali karena dari segi teknologi dan masyarakat sudah siap menyukseskan agar Bali bebas sampah plastik.

“Tujuan aksi yang dilakukan Kampanye Satu Pulau Satu Suara ini adalah ingin melakukan sesuatu yang tidak hanya meningkatkan kesadaran mengenai masalah sampah plastik, namun juga ingin memberikan contoh bahwa organisasi, dunia usaha, desa dan individu juga menciptakan solusi masing-masing untuk mengurangi sampah plastik,” ungkapnya saat konferensi Pers ‘SAY NO TO PLASTIC BAGS: Kampanye Satu Pulau Satu Suara, Bersama Pemerintah STOP Pencemaran Plastik di Laut’, di kawasan Badung, Sabtu (24/2).   

Dikatakan, bahaya sampah plastik menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, akan mencemari lingkungan selama lebih dari 400 tahun. Dari 9,85 milyar lembar sampah kantong plastik yang dihasilkan setiap tahunnya, hanya 5 persen yang bisa didaur ulang dan sisanya menguasai hampir 50 persen lahan TPA. Untuk bisa terurai saja, plastik membutuhkan lebih dari 100 tahun. Itu baru di darat. Di Indonesia, sampah laut juga jadi masalah serius. Bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai negara kedua terbesar di dunia yang berkontribusi pada sampah yang masuk ke laut.

Permasalahan sampah plastik di laut, menurut aktivis Lingkungan sekaligus founder SustainableSuzy.com, Suzy Hutomo, perlu diatasi dengan adanya kebijakan pengelolaan sampah khususnya pengurangan sampah dari darat. Sebab 80 persen plastik di laut, kata dia, berasal dari kegiatan di darat. Menurut Suzy, masyarakat sudah seharusnya mulai mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah dan besahabat dengan Bumi. Suzy Hutomo sendiri telah mendirikan sustainablesuzy sebagai platform atau wadah yang berkaitan dengan pencapaian gaya hidup ramah lingkungan 'eco' dan berkelanjutan.

Sementara jajaran pemerintah juga sangat mengapresiasi aksi peduli sampah ini. Seperti Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Dr. Ir. Safri Burhanuddin DEA, misalnya, mengusulkan agar Bali bisa menjadi pelopor wilayah bebas sampah plastik. “Tugas pemerintah daerah adalah menyiapkan kebijakan terkait penanggulangan sampah dan juga menggandeng komunitas-komunitas yang memiliki komitmen Bersama agar Bali Bebas Sampah Plastik,” ucapnya.

Sedangkan aksi kampanye Satu Pulau Satu Suara yang dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 ini menurut Kasubsit sampah spesifik dan daur ulang, Direktorat pengelolaan sampah, Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK RI, Dr. Ir. Haruki Agustina, MSc., diharapkan bisa menjadi semangat dan motivasi untuk memerangi sampah secara bersama-sama. HPSN 2018 diharapkan menjadi momentum nasional, bahwa dalam pengelolaan sampah nasional khususnya sampah plastik diperlukan collaborative action dari berbagai pihak, seperti gabungan komonitas dan masyarakat.

Di sisi lain, Bappenas juga terus mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk memprioritaskan alokasi anggaran di sektor pengelolaan sampah plastik. Sebagai informasi, target pelayanan dan pengelolaan sampah yang akan dicapai dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah sebesar 100 persen, yang mencakup pengurangan sampah, penanganan sampah, dan pengomposan. “Kami sangat mendukung kampanye Satu Pulau Satu Suara yang memiliki semangat yang sama dengan pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah,” ujar Erik Armundito, S.T., M.T, PhD, selaku Direktorat Lingkungan Hidup Bappenas.

Aksi Kampanye Satu Pulau Satu Suara juga tidak luput mendapat perhatian artis dan musisi tanah air. Salah satunya adalah Hamish Daud, selebriti yang juga getol sebagai pemerhati lingkungan. Suami dari penyanyi Raisa Andriana itu menyadari kondisi laut saat ini semakin hari semakin memburuk, dan hal itu disebabkan oleh sampah plastik. Kondisi ini dinilai sangat merusak keindahan panorama laut dan perlahan mengurangi devisa negara dari sektor pariwisata. Bagi Hamish, membawa botol isi ulang kemanapun ia berpergian dan tidak lagi minum menggunakan sedotan plastik, adalah langkah sederhana untuk mengurangi sampah plastik.

“Sejak melihat dokumentasi dari pemakaian sedotan plastik yang berimbas buruk bagi lingkungan dan species laut, saya tidak pernah lagi memakai sedotan, apalagi jika sedang traveling,” ceritanya.

Menjaga lingkungan dari sampah plastik juga diserukan oleh salah satu personel Superman Is Dead, Eka Rock. Menurutnya, keberadaan, keindahan, kebersihan dan kelangsungan hidup Bali, adalah tanggung jawab bersama, terutama dalam menangani permasalahan sampah. “Jika bukan kita lalu siapa lagi. Responsible to care," kata Eka.

Sejumlah komunitas dan komponen masyarakat lainnya juga terlibat dalam kampanye ini. Misalnya I Made Gunarta, selaku Baga Palemahan (Komite Departemen Lingkungan Desa), Desa Pakraman Padangtegal Ubud. Menurut Gunarta, sampah harus dikelola mulai dari tingkat desa, dan peraturan-peraturan adat desa terkait pengelolaan sampah perlu diterapkan. Selain peraturan adat, pendekatan edukasi lingkungan menjadi kunci keberhasilan.

Hal senada juga diungkapkan Co-founder and Owner EcoBali, I Ketut Mertaadi. Dia mengungkapkan, pengelolaan limbah melalui pendekatan edukasi sangat penting, misalnya edukasi pemisahan sampah sesuai jenisnya. Di samping itu, sektor sarana dan prasarana pengelolaan limbah juga harus mendukung.

Selain komunitas, The Body Shop Indonesia juga mendukung kampanye positif Satu Pulau Satu Suara. Kampanye ini seirama dengan Back Our Bottle (BBOB) yang merupakan gagasan untuk mengelola sampah kemasan dari The Body Shop®. Gagasan ini menjadi komitmen The Body Shop® yang sejak tahun 2008 concern dalam permasalahan sampah khususnya kemasan sampah plastik yang mereka hasilkan. Kesadaran The Body Shop® terhadap sampah plastik sudah dilakukan sejak awal perusahaan ini berdiri.

Program BBOB tersebut sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, dengan mengajak pelanggan untuk mengembalikan kemasan kosongnya ke toko-toko The Body Shop®. Selama tahun 2017, sekitar 1,2 juta kemasan kosong The Body Shop® dikembalikan oleh pelanggan. Mereka pun mendapatkan reward.  Selain itu, “Protect the Planet" adalah pedoman The Body Shop® untuk melindungi planet Bumi dari ancaman kerusakan lingkungan. Dalam kampanye ini, The Body Shop® mengambil peranan untuk menginspirasi perusahaan lain bahwa perusahaan dapat ikut serta berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik dengan menerapkan konsep 'ethical and responsible business'.*

Komentar