nusabali

Petugas Jumantik Hadapi Kendala di Lapangan, Masyarakat Diminta Beri Dukungan

  • www.nusabali.com-petugas-jumantik-hadapi-kendala-di-lapangan-masyarakat-diminta-beri-dukungan

DENPASAR, NusaBali.com - Petugas Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di Bali mengalami berbagai kendala dalam menjalankan tugasnya di lapangan. Padahal di saat bersamaan, demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di masyarakat.

Fakta ini disampaikan oleh Perwakilan Jumantik daerah dalam ‘Seminar Pemanfaatan Informasi Iklim BMKG untuk Antisipasi Kejadian DBD’ yang digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Selasa (30/4/2024).

Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya respon positif dari masyarakat saat dikunjungi para jumantik. Hal ini membuat kunjungan ke rumah-rumah untuk memantau jentik nyamuk menjadi terhambat.

Kendala lain yang dihadapi adalah terkait penyesuaian jadwal kunjungan. Jadwal yang dibuat tidak selalu sesuai dengan waktu pemilik rumah, sehingga petugas Jumantik kesulitan untuk masuk ke rumah dan melakukan pemantauan.

Menanggapi hal ini, Plt. Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr I Gusti Ayu Raka Susanti, mengimbau masyarakat untuk memberikan dukungan kepada petugas Jumantik.

"Jumantik merupakan garda terdepan dalam penanganan DBD di Bali," kata Raka Susanti. "Kehadiran mereka di rumah-rumah sangat membantu dalam penanggulangan DBD, memberikan edukasi, dan pemberian obat pembunuh jentik."

Raka Susanti juga menekankan pentingnya budaya menjaga lingkungan. Beliau berharap setiap individu dapat menjadi Jumantik di lingkungannya masing-masing, seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja.

"Harapannya adalah kebudayaan masyarakat yang peduli dengan lingkungan sekitarnya harus ada," kata dia. "Ini untuk menjawab permasalahan jumlah petugas Jumantik yang terbatas."

Dukungan dari masyarakat dan budaya menjaga lingkungan yang kuat diharapkan dapat membantu petugas Jumantik dalam menjalankan tugasnya dengan lebih efektif dan efisien, sehingga dapat menekan angka DBD di Bali.




Komentar