nusabali

Ratusan Peziarah Lakukan Tradisi Nyekar di Pemakaman Muslim Panjer

  • www.nusabali.com-ratusan-peziarah-lakukan-tradisi-nyekar-di-pemakaman-muslim-panjer
  • www.nusabali.com-ratusan-peziarah-lakukan-tradisi-nyekar-di-pemakaman-muslim-panjer

DENPASAR, NusaBali.com - Perayaan Hari Raya Idul Fitri selalu menyimpan tradisi menarik. Di momen penuh berkah ini, umat Islam tak hanya bersilaturahmi, tetapi juga memantapkan diri untuk kembali mendoakan dan berziarah ke makam sanak keluarga yang telah meninggal. Tradisi nyekar ini menjadi simbol rasa syukur dan doa bagi arwah keluarga tercinta.

Di Kota Denpasar, tradisi nyekar terlihat di Pemakaman Muslim Panjer, Jalan Waturenggong, Panjer, Denpasar Selatan. Ratusan peziarah memadati tempat ini sejak pagi hari setelah salat Id hingga menjelang Maghrib atau sore hari.

Muhammad Nurafik, 66, penjaga Pemakaman Muslim Panjer, menjelaskan bahwa tradisi ini berlangsung setiap tahun. Para peziarah datang untuk melepaskan rasa rindu dan mendoakan keluarga yang telah meninggal.

"Hari ini umat muslim merayakan hari kemenangan, maka mereka semua berbondong-bondong berziarah kepada keluarganya yang sudah meninggal," kata Nurafik yang sudah bertugas sejak tahun 2002.

Untuk memudahkan peziarah, di pintu masuk pemakaman, pihak pengelola sudah menyiapkan kuntum-kuntum bunga hingga air untuk keperluan nyekar di makam keluarga. Ini sengaja dibuat, untuk membantu para peziarah agar tidak perlu lagi menyediakan kebutuhan tersebut dari tempat tinggalnya saat hendak berkunjung ke tempat pemakaman.

Muhammad Nurafik, penjaga Pemakaman Muslim Panjer.

“Kami jual kebutuhan ini dengan harga yang terjangkau, dengan membayar Rp 5.000 saja, pengunjung sudah bisa dapat satu bungkus kembang dan 1 botol air,” kata Nurafik.

Peziarah yang datang tak hanya dari Denpasar, tetapi juga dari luar daerah seperti Jawa dan Sumatera. Pemakaman Muslim Panjer sendiri sudah ada sejak tahun 1950-an dan dikelola oleh Masjid An-Nur Jalan Diponegoro 192, Dauh Puri Klod.

Salah satu peziarah, Yulia Anjelika Anita Devi, mengatakan bahwa tradisi nyekar ini merupakan bagian dari ziarah ke makam suami, saudara, dan kedua orangtuanya.

"Suami saya baru 1 tahun lalu meninggal, sedangkan kakak saya baru 4 bulan lalu meninggal," kata Devi, warga Sesetan.

Di Hari Raya Idul Fitri ini, Devi bersama keluarga datang untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal. Tradisi nyekar menjadi momen untuk menunjukkan rasa syukur dan penghormatan kepada mereka yang telah mendahului.

Tradisi nyekar di Hari Raya Idul Fitri merupakan tradisi yang indah dan penuh makna. Ini adalah momen untuk kembali mengenang dan mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal, serta mengingatkan kita tentang kematian yang akan datang.*ol4



Komentar