nusabali

Sarana Upacara Pantang Gunakan Daging Babi, Bisa Nunas Jodoh-Keturunan

Melihat Keberadaan Pura Pucak Pengungangan di Desa Adat Batusesa, Candikuning, Baturiti, Tabanan

  • www.nusabali.com-sarana-upacara-pantang-gunakan-daging-babi-bisa-nunas-jodoh-keturunan

Sejarah berdirinya Pura Pucak Pengungangan ini dikaitkan dengan perjalanan Ida Rsi Madura di Bali atas petunjuk Rsi Markandeya sekitar tahun 1.300 Masehi

TABANAN, NusaBali
Kabupaten Tabanan banyak memiliki keberadaan pura unik dan sakral. Salah satunya Pura Pucak Pengungangan di Desa Adat Batusesa, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Selain sejarah dan kesakralannya, dari sisi niskala Pura yang statusnya Kahyangan Jagat ini dipercaya sebagai tempat nunas jodoh, keturunan hingga tamba (obat).

Tak sulit mencari keberadaan Pura Pengungangan. Lokasinya berdekatan dengan objek wisata The Bloom Garden, sekitar 1 kilomoter arah ke selatan. Jika dari arah kota Tabanan lebih dekat melalui jalur Jatiluwih-Senganan, tembus di Desa Bangli lurus ke arah utara. Sedangkan dari arah Denpasar bisa melalui jalur wisata Kebun Raya Bali ke arah barat.


Sejarah berdirinya Pura Pucak Pengungangan ini dikaitkan dengan perjalanan Ida Rsi Madura di Bali atas petunjuk Rsi Markandeya sekitar tahun 1.300 Masehi. Kala itu dia membawa pasukan sekitar 800 orang menuju Bali untuk melakukan pertapaan dan membangun tempat suci terutama di kawasan Danau Beratan. Kelian Banjar Batusesa I Made Sucika didampingi Pamangku Pura Pengungangan mengatakan sejarah berdirinya Pura memang tidak ditemukan prasastinya.

Namun diketahui terbentuknya Pura Pengungangan berawal dari perjalanan Ida Rsi Madura ke Bali sesuai dengan kaitan sejumlah lontar. "Perjalanan beliau (Rsi Madura) diawali dari arah utara sampai sempat menetap di Banyuatis, Buleleng di wilayah Kayu Putih. Hingga ke Tamblingan sampai seputaran Danau Beratan," jelasnya, Minggu (26/11).

Namun saat perjalanan mereka di Bali diganggu cuaca ekstrem yang menyebabkan pasukan banyak sakit karena kedinginan saat membuka permukiman di daerah Danau Beratan. Akhirnya Rsi Madura pun berjalan ke selatan daerah Batusesa untuk bersemedi memohon kehangatan kepada Dewa Tri Murti. "Dengan semedi itu cuaca pun menjadi hangat dan banyak prajurit sembuh. Sehingga tempat semedi itu pun diberi nama Pura Pucak Pengungangan," bebernya.

Menurut dia Pura Pengunggangan diempon oleh dua desa adat, yakni Desa Adat Batusesa dan Desa Adat Abang. Pujawali di Pura ini bertepatan dengan Anggarakasih Dukut nyejer selama tiga hari. Uniknya lagi di Pura Pengungangan pantang menggunakan daging babi sebagai sarana bebantenan. Itu tertera dalam lontar yang dikaitkan dengan sejarah berdirinya Pura Pengungangan. "Bahkan jualan makanan berbahan daging babi di sekitar Pura juga tidak boleh. Karena itu sudah tertera dalam lontar," ungkap Sucika.


Selain itu sisi uniknya ini Pura Pengungangan dipercaya sebagai tempat nunas jodoh dan nunas keturunan. Hal itu berdasarkan sejumlah pengalaman pamedek termasuk Jero Mangku Pura setempat memohon keturunan sentana laki-laki dikabulkan. "Ini juga berdasarkan kepercayaan. Selain itu di Pura ini stananya Siwa Pasupati Padukuhan yang dikenal memang untuk memohon tamba (obat)," terang Sucika.

Sedangkan terkait jodoh, Sucika sendiri yang membuktikan. Bahwa dia sempat sakit dalam sebulan bolak balik rumah sakit. “Saat itu bapak saya sauh atur (berdoa), yen seger ajak ngalih anak luh ke Jawa, (kalau sembuh kamu cari istri ke Jawa),” terang Sucika. Dijelaskan sekian bulannya benar saja ada dua perempuan yang berasal dari Pulau Jawa nangkil ke pura tersebut. Salah satunya beberapa bulan bertemu di tempat lain. “Berselang waktu, akhirnya kita jadian lima bulan ikatan pacaran langsung kami menikah,” tandasnya. 7 des

Komentar