nusabali

Diam-Diam Produksi Madu Bali ‘Dikirim’ ke China

  • www.nusabali.com-diam-diam-produksi-madu-bali-dikirim-ke-china

DENPASAR, NusaBali - Potensi sektor pertanian dan perkebunan Bali, yang peluang  ekspornya tinggi tidak sebatas  buah-buahan antara lain manggis, durian dan salak. Tetapi juga madu. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, namun pasar China  ‘menunggu’ madu budidaya petani Bali,  khususnya dari Kabupaten Jembrana.

“Kuota banyak, sampai 18 ton pertahun. Tetapi kita hanya mampu mensuplai antara 2-3 ton, dengan 3 sampai 4 kali pengiriman” ujar I Made Dwi Sumadi Putra  yang akrab dipanggil Dek Ong,  pembudidaya lebah madu dari Jembrana, Minggu (5/11). Selain itu, lanjutnya,  permintaan madu di pasar lokal juga harus dilayani.

Karena volume ekspor yang masih terbatas itulah, petani belum bisa ekspor sendiri. Namun atas nama (under name) eksportir lain.

“Nitip ‘nitip’ pada teman eksportir di Jawa,” ucap Dek Ong, yang asal Banjar Samblong, Desa Yeh Sumbul, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.

Dek Ong menuturkan  budidaya lebah madu secara intensif dilakukan sejak pandemi, tahun 2020.

“Karena dampak pandemi, banyak orang terpaksa pulang kampung, akibat pandemi,” ungkapnya. Di satu pihak madu, salah satu jenis asupan yang dicari untuk meningkatkan immune tubuh.

Sebelumnya, mencari madu lebah  memang sudah  dilakukan kalangan warga. Caranya manual, ‘memburu’ ke tengah hutan. Karena itu  hasilnya tidak maksimal.

“Tiyang (saya)  kumpulkan teman- teman, agar mengajak untuk budidaya” ungkapnya.

Timing pas, saat pandemi Covid-19 banyak orang terpaksa kembali ke desa, karena diistirahatkan atau dirumahkan perusahaanya. Budidaya lebah madu, diharapkan bisa membantu penghasilan. Apalagi madu salah satu asupan yang dibutuhkan banyak orang. 

“Itu awalnya,” terang Dek Ong yang juga Kelian Subak Abian Buana Kerta, di Banjar Samblong, Desa Sumbul, Mendoyo ini.  Lebah yang dibudidayakan adalah apis mellifera dari Australia.

Berawal dari  itulah kini  budidaya lebah madu menyebar di subak-subak  di desa-desa di Kecamatan Mendoyo. Selain di Yeh Sumbul, juga di desa-desa lainnya. Diantaranya   Desa Yeh Embang,  Mendoyo serta yang lain. Saat ini ada sekitar 600 kotak koloni  budidaya.

Salah satu kendala dalam budidaya adalah ketersediaan pakan alami. Untuk mengatasinya, petani  kadang ‘mengembalakan’ lebah mereka ke kawasan hutan sekitar atau perkebunan. Sedangkan musim kemarau seperti belakangan ini tak pengaruh. Malah sekarang sedang musim panen madu. “Kalau hujan baru lebah tak bisa ‘kerja’,” ucap Dek Ong.

Dia  menuturkan, budidaya lebah madu mendapat suport dan binaan dari Pemkab Jembrana, pihak terkait. “Dari Pak Bupati, Polres, Kodim 1617 Jembrana, BRI. Juga dari Apindo(Asosiasi Pengusaha Indonesia)Bali,” paparnya.

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Apindo Bali, I Nengah Nurlaba, mengiyakan budidaya lebah madu di Jembrana, khususnya di Mendoyo, salah satu binaan Apindo. “Ya, itu kan bagian dari program Apindo, yakni pemberdayaan dan peningkatakan UMKM,” ujarnya dihubungi terpisah. K17.

Komentar