nusabali

Tekan DBD, Diskes Soft Release Nyamuk Wolbachia

  • www.nusabali.com-tekan-dbd-diskes-soft-release-nyamuk-wolbachia

DENPASAR, NusaBali - Uji coba pelepasan (soft-release) nyamuk 'Wolbachia' rencananya akan dilakukan pada bulan ini di dua lokasi di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng.

Untuk itu Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali akan mematangkan rencana tersebut dengan melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan, Rabu (13/9) besok.

Kepala Diskes Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom MKes mengatakan sebagai bentuk tindak lanjut dari pelaksanaan kegiatan World Mosquito Program (WMP) tentang Perluasan Pembelajaran Inovasi Teknologi Wolbachia untuk Penanggulangan Dengue di Provinsi Bali yang sudah dimulai pada November 2022 yang lalu, telah dibentuk Komite Penasihat Proyek yang disebut Bali Project Advisory Committee (BPAC).

Ia mengungkapkan, keanggotaan BPAC terdiri dari perwakilan WMP, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, pemangku kepentingan terkait, serta dari lembaga donor dan perwakilan masyarakat. Dalam hal ini  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali ditunjuk sebagai Ketua BPAC. "Komite tersebut antara lain bertugas mendukung pelaksanaan proyek, memberikan saran, memfasilitasi pelaksanaan, dan memastikan implementasi pemanfaatan teknologi Wolbachia di Provinsi Bali," jelas dr Anom, Senin (11/9).  

Dokter Anom menjelaskan, metode Wolbachia merupakan salah satu upaya dalam menurunkan kasus demam berdarah di Bali. Ia menyebut kasus demam berdarah di Bali selama ini termasuk yang paling tinggi di Indonesia. "Selama ini kita melakukan dengan cara konvensional, misalnya dengan fogging, dengan PSN (pemberantasan sarang nyamuk), yang selama ini kita anggap satu-satunya jalan dalam rangka mengendalikan penyakit DBD," ujarnya.

Dokter Anom menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti yang sudah disusupi bakteri wolbachia akan berinteraksi dan kawin dengan nyamuk Aedes aegypti lokal yang tidak membawa bakteri wolbachia. Keturunan mereka nantinya merupakan nyamuk Aedes aegypti yang memiliki bakteri wolbachia. Seiring berjalannya waktu diharapkan nyamuk Aedes aegypti yang membawa bakteri wolbachia akan mendominasi jenis nyamuk yang berada di wilayah yang diintervensi sebelumnya.

Nyamuk dengan bakteri wolbachia dapat melemahkan virus dengue yang biasanya hidup dengan nyamuk Aedes aegypti dan menyebar kepada manusia melalui gigitan nyamuk. Adanya bakteri wolbachia juga disebut dapat mengurangi usia hidup nyamuk Aedes aegypti.

"Metode ini sudah diujicobakan di Jogjakarta, mampu menurunkan 77 persen kasus dengue dan menurunkan 86 persen tingkat rawat inap karena dengue," kata dr Anom. Sementara itu Technical Advisor WMP Indonesia-Bali Dr Sang Gede Purnama SKM MSc menyampaikan soft realese nyamuk Wolbachia rencananya akan dilakukan pada bulan ini, yang akan dilanjutkan dengan rilis secara keseluruhan di 24 desa di Kota Denpasar dan 55 desa di Kabupaten Buleleng pada bulan November.

"Enam bulan kemudian sudah bisa kita evaluasi apakah terjadi penurunan kasus DBD," ujarnya. Ia menambahkan, sosialisasi sudah dilakukan kepada masyarakat setempat. Sang Purnama meyakinkan bahwa program nyamuk Wolbachia secara biaya sangat ekonomis. Akademisi kesehatan masyarakat Unud juga yakin metode yang dikembangkan oleh Monash University, Australia ini akan bisa dirasakan manfaatnya hingga bertahun-tahun yang akan datang.

Untuk diketahui, selain di Bali, lokasi uji coba metode Wolbachia saat ini juga dilakukan di lima daerah lainnya di Indonesia meliputi Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (NTT). Di Jogjakarta sendiri, sejak dimulai 2013, metode Wolbachia dilaporkan berhasil menurunkan 77 persen kasus DBD dan menurunkan 86 persen tingkat rawat inap karena virus dengue. 7 cr78  

Komentar