nusabali

Permainan Megandu di Marga Dauh Puri, Tabanan, Menuju Warisan Budaya Tak Benda

  • www.nusabali.com-permainan-megandu-di-marga-dauh-puri-tabanan-menuju-warisan-budaya-tak-benda

Jika sawah tidak ada, maka Megandu tidak akan bisa dilakukan atau Megandu tidak akan ada. Karena seluruh alat-alatnya ada di sekeliling sawah.

TABANAN, NusaBali
Permainan tradisional Megandu tumbuh dan berkembang di Desa Adat Ole, Dusun Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan. Permainan ini tengah berproses menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Bali berikutnya. Permainan yang dimainkan di areal sawah ini memiliki nilai-nilai masih relevan dalam genggaman kalangan muda Bali. 

Permainan Megandu biasanya dimainkan di sawah dengan melibatkan 10 orang atau lebih. Alat permainan yang digunakan adalah bola kecil dari jerami dengan jumlah sebanyak anak yang ikut bermain.

Lalu di areal permainan tersebut ditancapkan tongkat di tengah-tengah arena. Kemudian dilengkapi dengan tali pelepah pisang. Bola-bola jerami tersebut kemudian diletakkan di dekat tiang.  

Permainan ini dimulai ketika ada seorang anak yang berjaga dengan memegang tali. Tugasnya adalah menjaga telur-telur tersebut dari anak-anak lainnya yang berusaha mengambil.


Megandu mengisahkan tradisi masyarakat agraris setelah masa panen di Desa Adat Ole, Dusun Ole, Desa Marga Dauh Puri. Desa Adat Ole juga merupakan lumbung beras bagi masyarakat. Dulu, setelah panen, anak-anak para petani di Banjar Ole datang ke sawah Megandu di tengah petakan sawah. Masyarakat setempat tidak mengetahui pencipta dari permainan ini, namun mereka hanya diwarisi oleh para leluhurnya dari generasi ke generasi.

Salah satu penggali dari permainan Megandu I Wayan Weda,65, mengaku sudah menyaksikan permainan Megandu sejak tahun 1968. Namun, pada saat itu dia tidak diizinkan terlibat sebagai pemain karena masih kecil. Seiring dengan perjalanan waktu, Weda yang harus menuntut ilmu ke kota, tidak tahu menahu dengan perkembangan permainan Megandu. Konon permainan itu jarang dilakukan oleh anak-anak.

Setelah diangkat menjadi guru pada 1980 di SMPN 3 Tabanan, dia mengajar seni budaya termasuk permainan tradisional. Dia mulai menggali permainan tradisional yang ada di Tabanan. Pada tahun 1983, dia menggali permainan Megandu pada pemuka desa, almarhum Wayan Gerda. Setelah mendapat data yang cukup, dia kemudian mempraktikkan kepada anak-anak yang langsung disaksikan oleh almarhum Wayan Gerda. 

Meski telah dirasa cukup, Megandu tidak dimainkan karena belum memiliki komunitas anak-anak. Setelah bertugas sebagai guru di desanya, dia kemudian mendirikan Sanggar Wintang Rare pada 1995 yang khusus untuk memperkenalkan permainan tradisional pada anak-anak yang suka dengan permainan tradisional. Weda yang selalu memiliki kesempatan mementaskan permainan tradisional dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) kemudian membawa Megandu ke festival seni terbesar di Bali. 

Pada 1998, Permainan Megandu dipentaskan pertama kali dalam ajang PKB. Dalam pentas ini melibatkan pemain wanita dengan iringan musik serta penataan busana pentas. Megandu yang dilakukan setelah rekontruksi itu sedikit beda dari aslinya. Jika dulu Megandu hanya dilakukan oleh anak-anak pria tanpa baju, namun dalam pentas diisi dengan penataan busana dan iringan, sehingga menjadi sajian yang menarik. Demikian seterusnya, kalau Megandu dipentaskan, baik di atas panggung ataupun di sawah.

Setelah Megandu dipentaskan dalam ajang PKB, permainan Megandu kembali booming. Permainan ini sering diundang untuk mengisi acara penting, khususnya terkait dengan dunia anak. Bahkan, sempat diperkenalkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan dalam rangka memasukan muatan lokal dalam dunia pendidikan khususnya siswa SD. Tak hanya itu, kedua sanggar ini kemudian menggelar Festival ke Uma (ke sawah) sejak 2017.

Foto: Tim ahli WBTB memverifikasi permainan Magandu, 23 Mei 2023. -IST

Dua komunitas (sanggar seni) di Desa Adat Ole yang selalu menjaga dan melestarikan permainan yang mungkin satu-satunya ada di Desa Adat Ole. Kedua Sanggar itu adalah Wintang Rare (didirikan 1995) dan Buratwangi (berdiri 2004) yang fokus pada seni tari, tabuh, musik dan sastra. 

Pada 23 Mei 2023 lalu, Direktur Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan verifikasi terhadap permainan tradisional Megandu. Verifikasi dilakukan oleh Tim Ahli WBTB Indonesia, Totok Sucipto bersama Direktorat Perlindungan Nebudayaan Kemendikbudristek, Saki Adimaputra dan Alwanhadi langsung di Desa Adat Ole. 

Totok Sucipto mengatakan, setelah berdialog dan tanya jawab secara langsung kepada maestro, tokoh masyarakat serta pelaku, maka dalam permainan Megandu itu ada pelestarian berantai atau ada efek domino. Artinya, permainan megandu sangat erat kaitannya dengan kelestarian sawah. 

Dijelaskan, jika sawah tidak ada, maka Megandu tidak akan bisa dilakukan atau Megandu tidak akan ada. Karena seluruh alat-alatnya ada di sekeliling sawah, utamanya jerami. Kalau tidak ada sawah, maka jerami tidak akan ada, maka Megandu juga hilang. Kalau megandu bolanya diganti dengan bola plastik, maka itu juga akan lain lagi. “Mungkin beda rohnya, makanya perlu kita catat aslinya seperti apa, dan inilah yang dilestarikan,” katanya. 

Totok menambahkan, pada dasarnya permainan tradisional memiliki banyak sekali nilai dan makna yang tersirat di belakangnya. “Megandu memiliki nilai kebersamaan, kecepatan, ketepatan, daya tahan tubuh kalau dilihat dari olahraga. Kemudian kejujuran, pembangunan karakter juga bagus. Nah, ini keunggulannya,” ujarnya.7cr78

Komentar