nusabali

Pipa Air di Kuta Selatan Diperbaiki, Kembali Mengalir Malam Ini

  • www.nusabali.com-pipa-air-di-kuta-selatan-diperbaiki-kembali-mengalir-malam-ini

MANGUPURA, NusaBali.com – Warga di daerah Kuta Selatan akhirnya akan kembali mendapat pasokan air bersih. Pasalnya, hampir sepekan, mereka tak mendapat pasokan air bersih karena kerusakan pipa di Bypass Ngurah Rai, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali.

Direktur Teknik PDAM Tirta Mangutama, Made Suarsa menerangkan petugas dari Perumda Air Minum Tirta Mangutama telah melakukan proses perbaikan sejak Senin (5/6/2023) pagi.

Ditanya soal penyebab lamanya proses perbaikan itu, Suarsa menjelaskan kronologi kejadian yang dimulai pada Rabu (31/5/2023), pipa yang memang bocor awalnya sudah diganti sepanjang 10 meter.

Namun pada Kamis (1/6/2023), begitu dialiri air ternyata pipa belum dapat berfungsi mengaliri air. Setelah pihaknya mengecek kembali ke lokasi, ternyata terlihat kembali ada kebocoran di sisi lain pipa. Sehingga pada saat eksekusi  Jumat (2/6/2023) lalu, pihaknya kembali mengalami kendala perbaikan dikarenakan air pasang laut dan bertepatan dengan bulan Purnama.

“Dari hari saat bulan Purnama itu kami menunggu air surut karena tidak bisa kami kerjakan. Lalu pada hari ini, Senin (5/6/2023) air sudah surut dan mulai kami kerjakan sejak pagi hari,” terang Suarsa saat dikonformasi pada Senin (5/6/2023) sore.

Hingga kini, proses perbaikan diterangkan Suarsa sudah selesai sampai 80 persen. Ia pun berharap, pada pukul 21.00 Wita mala mini, perbaikan telah selesai dan air dapat kembali mengalir. Namun, jika alam berkata lain dan tiba-tiba air laut kembali pasang, maka perbaikan kata Suarsa akan dilanjutkan besok, Selasa (6/6/2023) pagi.

Soal upaya selanjutnya yang akan dikerjakan, Suarsa menyebutkan pihaknya sudah merencanakan relokasi di tahun 2022, selanjutnya tahun 2023 ini akan dilakukan eksekusi relokasi pipa.

“Langkah yang dilakukan, saat ini akan kami lakukan proses pemindahan atau relokasi pipa ke atas persis di sebelah jembatan. Tetapi masih di tahap kajian, karena kami perlu membuat tiang penyangga. Karena panjang pipa itu di atas 100 meter dan biayanya pun tidak main-main di atas Rp 10 M, namun itu sudah masuk ke rencana induk,” terangnya.

Pihaknya pun saat ini masih mengkaji jembatan penyangga untuk pipa saluran air. Suarsa juga mengungkapkan pihaknya tidak ingin tergesa-gesa melakukan relokasi. Ia akan melakukan pengkajian secara detail, sehingga nantinya tidak menimbulkan masalah baru dikemudian hari. Suarsa membeberkan, pengerjaan relokasi itu akan direncanakan selesai pada bulan September atau Oktober.

“Jadi kami ingin sekali buat, sudah selesai. Sehingga menjadi solusi yang baik dan tahun ini adalah relokasi. Kalau sudah jadi tiang penyangganya, pipa baru kami sambungkan. Saat koneksi itu pun tidak memerlukan waktu lama, sebelum musim hujan harus sudah selesai. Karena kami takutkan kalau saat musim hujan belum selesai dan terjadi bocor, kami tidak hanya berkejaran dengan air laut tetapi juga dengan air hujan,” jelasnya.

Namun, selama relokasi pipa tersebut, Suarsa menyebutkan tidak akan kembali terjadi pemberhentian pasokan air bersih ke masyarakat. Sebab, teknis relokasi nanti, tiang penyangga akan dibuat terlebih dahulu dan selanjutnya pipa akan dipasang.

“Setelah akan koneksi harus dimatikan aliran airnya. Tetapi saat koneksi pipa saja ini tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai sehari. Dimatikan hanya pada saat penyambungan titik pipa yang dipotong dengan pipa yang baru. Mungkin nanti saat relokasi akan kami jelaskan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sementara, soal pasokan air bersih kepada masyarakat yang terdampak, Suarsa mengungkapkan jika pihaknya telah menyalurkan air tangki gratis ke daerah Kuta Selatan, Ungasan, Nusa Dua, dan Pecatu. Selama pasokan air bersih terhenti, petugasnya pun dikatakan dia selalu berjaga selama 24 jam untuk membantu masyarakat.

“Sudah kami berikan air tangki gratis ke masyarakat yang terdampak. Tetapi mereka harus antre karena kami hanya memiliki 4 mobil tangki. Air ini khusus untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat bukan untuk usaha,” tutupnya. *ris

Komentar