nusabali

Arus Peti Kemas Naik 1,15%

  • www.nusabali.com-arus-peti-kemas-naik-115

SURABAYA, NusaBali
Sejak Januari hingga akhir Oktober 2022 atau 9 bulan sepanjang 2022, subholding PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat jumlah arus peti kemas mencapai 8,2 juta teus.

Arus tersebut tercatat naik dari periode yang sama tahun lalu yang hanya 8,1 juta teus atau tumbuh rata-rata sekitar 1,15 persen.

Aktivitas arus peti kemas tersebut tercatat dari 15 terminal peti kemas dan 7 anak perusahaan yang dikelola oleh perseroan.

"Kami optimis dapat mencapai target arus peti kemas hingga akhir tahun 2022 yang telah ditetapkan oleh pemegang saham yakni sebanyak 11,65 juta teus," kata Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) Widyaswendra, dalam keterangan resminya seperti dilansir Kompas.com, Senin (24/10).

Arus peti kemas tersebut didominasi oleh peti kemas domestik yang tercatat mencapai 5,6 juta teus atau sekitar 69 persen.

Sementara untuk peti kemas luar negeri mencapai 2,5 juta teus atau sekitar 31 persen. Perseroan kata Widyaswendra terus berupaya meningkatkan arus peti kemas diantaranya dengan pengoperasian pelabuhan milik pemerintah melalui skema kerjasama pemanfaatan barang milik negara hingga menggandeng terminal untuk kepentingan sendiri.

"Kami sedang mengkaji pengembangan terminal peti kemas sebagai transhipment hub peti kemas internasional, karena posisi kita ada di jalur perdagangan dunia," jelasnya.

Menurut Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi, perlu dilakukan kajian yang menyeluruh bersama semua pihak termasuk pemerintah untuk mewujudukan transhipment hub peti kemas internasional.

Siswanto menilai Keberadaan ekosistem yang kuat mulai dari kemudahan bunker, lokasi berlabuh, sistem keuangan dan pembayaran, pemanduan dan penundaan kapal, dan hal lainnya sangat dibutuhkan untuk mewujudkan transhipment hub internasional.

Menurut dia, yang paling realistis untuk dilakukan adalah kontainerisasi untuk meningkatkan pertumbuhan arus peti kemas khususnya untuk wilayah timur Indonesia yang masih memiliki potensi cukup tinggi.

"Di wilayah timur masih berpotensi tinggi, utamanya berkaitan dengan hasil tangkapan laut atau perikanan, namun kita juga perlu perhatikan apakah pelabuhan yang ada di daerah sudah dapat mendukung bongkar muat peti kemas ataupun fasilitas berpendingin atau belum," ujar Siswanto. *

Komentar