nusabali

Upacara Wanara Laba Sambut Pujawali Pura Pulaki

Ribuan Kera Dikeramatkan sebagai Pengikut Setia Dang Hyang Nirartha

  • www.nusabali.com-upacara-wanara-laba-sambut-pujawali-pura-pulaki

SINGARAJA, NusaBali
Sejumlah bahan makanan mulai dari buah-buahan, umbi, telur mentah  hingga bunga gumitir disiapkan dalam  kotak di jaba Pura Pulaki.

Tidak berapa lama kemudian ribuan ekor kera mendekat, mengambil satu per satu makanan yang memang disiapkan untuk hewan yang berhabitat di sekitar pura.

Pangempon pura di wilayah Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng sedang menggelar Upacara Wanara Laba, rangkaian Pujawali pada Soma Wage Dukut, Senin (10/10).

Kelian Pangempon Pura Pulaki Jero I Nyoman Bagiarta mengatakan upacara Wanara Laba memang upacara rutin setiap Pujawali Pura Pulaki yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Selain itu Wanara Laba juga digelar saat Tumbek Uye (hari suci pemuliaan hewan menurut kepercayaan Hindu).

"Upacara Wanara Laba ini diawali dengan persembahyangan bersama pagi hari, setelah itu baru persiapan pemberian makanan kepada wanara. Sehari sebelumnya makanan-makanan wanara ini disiapkan OPD Pemkab Buleleng dan beberapa dari pamedek, "ucap Bagiarta.

Menurut Bagiarta, kera yang hidup di sekitar Pura Pulaki populasinya sudah mencapai 4.000 ekor. Pangempon pura pun menyiapkan makanan kera setiap hari secara rutin. Penyediaan pakan kera di Pura Pulaki bersumber dari dana punia, lelaban pura, sewa pedagang dan parkir. Anggaran tersebut dikelola pangempon untuk tetap menjaga populasi kera yang dikeramatkan pangempon.

Keberadaan kera di sekitar Pura Pulaki dijelaskan Bagiarta tidak terlepas dari perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha dari Jawa ke Bali. Ternyata dalam perjalanan suci Dang Hyang Nirartha dari Jawa ke Bali sempat ada perjanjian dengan pasukan wanara. Saat itu Dang Hyang Nirartha dalam perjalanannya ke Bali sempat kehilangan arah di tengah hutan lebat. Hingga akhirnya bertemu dengan seekor wanara yang akhirnya menunjukkan arah sampai ke Bali.

Jasa wanara tersebut pun lalu diberi penghargaan oleh Dang Hyang Nirartha dengan perjanjian akan menjadikan wanara sebagai pasukan pengiring dan berjanji tidak akan menyakiti wanara. “Sejak saat itu wanara yang ada di Pulaki ini dipingitkan. Karena ada sabda barangsiapa yang menyakiti wanara akan berdampak pada dirinya sendiri. Karena dipingitkan tidak ada yang boleh mengambil, berburu bahkan menabrak wanara dan ditinggalkan begitu saja,” ungkap  mantan Perbekel Desa Kalisada, Kecamatan Seririt, Buleleng ini.

Hal dan kejadiaan mistis pun disebut Bagiarta sering terjadi. Sejumlah masyarakat yang melanggar pantangan (menyakiti kera), pasti datang kembali ke Pura Agung Pulaki untuk memohon maaf secara niskala.  Jro Bagiarta mencontohkan pengendara yang tidak sengaja menabrak wanara dan ditinggalkan begitu saja, ada yang dihantui rasa ketakutan hingga mengalami sakit dan rasa panas. Namun setelah dimohonkan air suci setelah permohonan maaf tersebut, sakit yang dialami sembuh dengan sendirinya.

Seekor anak wanara juga sempat ditangkap dan dibawa ke luar Bali oleh oknum yang ingin memelihara monyet. Namun tak berselang lama, anak wanara ini diantarkan kembali dan dilepasliarkan di habitatnya. Hal mistis yang sering terjadi, saat ada wanara yang mati dengan wajar di sekitar pura. Situasi akan mendadak sepi. Ribuan wanara akan menaiki gunung Pulaki nampak seperti melakukan ritual. Tetapi pengempon pura tak pernah menemukan bangkai wanara secara fisik.

“Kalau ada wanara yang mati pasti mendadak di sekitar pura ini sepi. Kami pangempon pura percaya hal itu, " tutup Bagiarta. *k23

Komentar