nusabali

Perkiraan Awal, Goa Misterius Dibangun Saat Masa Penjajahan Jepang

  • www.nusabali.com-perkiraan-awal-goa-misterius-dibangun-saat-masa-penjajahan-jepang

Kadis Bupar Buleleng, Nyoman Sutrisna, akui telah menginventarisasi 283 situs dan mendaftarkannya secara online untuk diajukan menjadi cagar budaya. Ratusan situs tersebut terdiri dari benda-benda kuno, batu, patung, sarkofagus, goa

Menurut Sunarya, goa-goa semacam ini yang diteliti dan diputuskan sebagai goa peninggalan penjajahan Jepang, banyak ditemui di Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan bahkan Kota Denpasar. Goa seperti ini diperkirakan dulunya dibuat sebagai benteng pertahanan tentara. Apalagi, jika dilihat dari lokasi goa misterius di Desa Suwug ini berada di areal Pura Lebah, yang lokasinya agak tersembunyi.

Goa-goa peninggalan zaman penjajahan Jepang, kata Sunarya, cenderung memiliki bentuk bangunan yang serupa dan sederhana. Di dalam goa biasanya tidak ada ditemukan benda atau ukiran yang berarti. Hal tersebut berbeda dengan goa-goa yang memang dibangun untuk kepentingan semedi dan ritual keagamaan. Goa sebagai tempat ritual biasanya dibuat dengan bentuk menyerupai rumah yang ada atap, tiang, dan pelipitnya, yang dipahat langsung di dinding goa.

Meski demikian, kata Sunarya, pihaknya belum berani memastikan secara konkret goa misterius di Desa Sueug ini. Sunarya meminta pihak desa dan Pemkab Buleleng untuk menunggu tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar yang nanti akan menghadirkan juga peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Balai Pelestari Nilai Budaya (BPNB).

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadis Budpar) Buleleng, I Nyoman Sutrisna, mengapresiasi respons cepat dari Balai Arkeologi Denpasar atas temuan goa misterius di Desa Suwug. “Kami berharap penelitian lebih lanjut terkait goa misterius ini bisa segera dilakukan, untuk mencari titik temu dan kejelasan sejarah yang terkandung di dalamnya,” harap Nyoman Sutrisna di lokasi goa misterius, Kamis kemarin.

Menurut Sutrisna, sejauh ini Pemkab Buleleng telah menginventarisasi 283 situs dan mendafarkannya secara online untuk diajukan menjadi cagar budaya. Ratusan situs tersebut terdiri dari benda-benda kuno, batu, patung, sarkofagus, dan goa. Situs-situs tersebut menunggu kajian dan penelitian lebih lanjut, untuk dinyatakan layak atau tidaknya menjadi cagar budaya.

“Nanti dikaji lagi berdasarkan syarat-syarat, misalnya usia harus lebih dari 50 tahun dan ketentuan lainnya. Yang pasti, kami daftarkan dulu 283 situs yang ditemukan di lapangan, sebagai kekayaan peninggalan sejarah yang dimiliki Buleleng,” tandas Sutrisna.

Sementara itu, Kelian Desa Pakraman Suwug, I Wayan Nawa, juga mengharapkan tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar segera turun melakukan penelitian, agar kepastian sejarah yang ada di goa misterius ini segera terungkap. Begitu pula tentang ada tidaknya keterkaitan goa misterius dengan Pura Lebah.

“Biar kami gampang menjelaskan nanti kepada masyarakat, makanya kami perlu bantuan dari ahli untuk mencari tahu kapan sebenarnya goa misterius ini dibuat? Ya, biar kami tidak bingung lagi, sehingga ke depannya kami bisa ambil langkah-langkah apa yang perlu dilakukan,” tegas Wayan Nawa.

Goa misterius di sebelah selatan Pura Lebah itu sendiri sebelumnya ditemukan tanpa sengaja oleh krama Desa Pakraman Suwug saat ngayah gotong royong bersih-bersih untuk pembuatan jalan lingkar, Kamis (27/10) lalu. Berselang empat hari kemudian, Senin (31/10), kembali ditemukan mulut goa kedua yang berjarak sekitar 25 meter di sebelah selatan goa misterius.

Gara-gara temuan dua goa misterius ini, Kasi Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Bidang Kebudayaan Disbudpar Buleleng, Kadek Widiastra, dua kali secara beruntun terjun ke lokasi. Sedangkan ahli sejarah dari Undiksha Singaraja, Dr Drs I Made Pageh, juga sempat terjun ke lokasi goa misterius, Selasa (1/11) siang.

Saat berkunjung hari itu, sejarawan Made Pageh langsung menelisik semua sudut Pura Lebuh. Habis itu, dia melihat secara seksama kondisi goa misterius yang baru ditemukan krama setempat. Made Pageh juga sempat masuk ke dalam goa yang mulutnya setinggi 1,8 meter dengan lebar 1,7 meter ini.

Dari hasil pengamatan Made Pageh, goa misterius yang di dalamnya ditemukan dua percabangan (ke arah barat daya dan arah tenggara) ini dirasakan ciri-ciri tembusan. Terutama, pada cabangan goa ke arah tenggara. Di sana, Made Pageh merasakan hembusan angin yang dipercaya berasal dari lubang lain di sekitar wilayah tersebut.

Berdasarkan cerita yang didapatnya dari Kelian Desa (Bendesa) Pakraman Suwug, I Wayan Nawa, ada dua kemungkinan terkait sejarah goa misterius ini. Salah satunya, goa misterius ini adalah peninggalan zaman kerajaan, yang digunakan sebagai tempat semedi (bertapa) oleh raja. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan sejumlah palinggih di Pura Lebah, yang bangunannya menganut sekte Waisnawa, zaman Raja Jaya Pangus, yang sempat berkuasa di Bali.  k23

Komentar