nusabali

Kisah Pohon Mangga Kembar Penyelamat Warga dari Serangan Musuh

Menelisik Sisi Unik Pura Lemintang di Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal, Badung

  • www.nusabali.com-kisah-pohon-mangga-kembar-penyelamat-warga-dari-serangan-musuh
  • www.nusabali.com-kisah-pohon-mangga-kembar-penyelamat-warga-dari-serangan-musuh
  • www.nusabali.com-kisah-pohon-mangga-kembar-penyelamat-warga-dari-serangan-musuh
  • www.nusabali.com-kisah-pohon-mangga-kembar-penyelamat-warga-dari-serangan-musuh

Pada saat tertentu menjelang rahinan (hari suci), biasanya tercium aroma ramuan bahkan obat-obatan modern dari areal pura, seperti yang melakukan pengobatan

MANGUPURA, NusaBali
Jika hendak menyeberang dari Tabanan ke Denpasar via Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal, Badung, ada sebuah pura di persimpangan Jalan Rajawali, Banjar Badung, Desa Ayunan yang masih lestari dengan ukiran klasik, pohon mangga raksasa, dan telaga yang mengelilingi jaba sisi pura.
Pura ini bernama Pura Lemintang. Namanya mengingatkan pada nama Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang di Banjar Lumintang, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar. Benar, kedua pura ini memang masih berhubungan secara historis. Para pamaksan pura menyebut Pura Lemintang adalah pecahan dari induknya di Denpasar. 

Menurut cerita turun temurun yang diwarisi krama pamaksan Pura Lemintang di Desa Ayunan, berdirinya pura ini berawal dari era penjajahan di masa lalu. Tidak ketahui secara pasti pada abad ke berapa era yang dimaksud. Namun, Pura Lemintang dipercaya sebagai pura tertua yang ada di Desa Ayunan. Jero Mangku Pura Lemintang, I Wayan Wedana,57, menuturkan cerita para tetua menjelaskan bahwa saat pecah peperangan dengan penjajah di Denpasar, beberapa krama di Lumintang pergi menyelamatkan diri. Salah satu wilayah yang disinggahi adalah yang kini bernama Desa Ayunan. 

"Ketika Ayunan ini hendak diserbu musuh, dari kejauhan terlihat oleh musuh ada kobaran api di atas pohon mangga (poh) yang sekarang posisinya di jaba sisi. Dikira Ayunan ini sudah terbakar habis sehingga musuh tidak jadi mendekat ke sini," ujar Mangku Wedana ketika ditemui, Rabu (29/5). Untuk mengucap syukur dan penghormatan dari warga pelarian kepada taru poh (pohon mangga) kembar yang dianggap bertuah, lantas didirikan pura. Pura itu diberi nama Lemintang sebagai pengingat akan asal muasal mereka dari kawasan Lumintang saat ini yang kala itu berada di wilayah Gumi Lemintang. 

Buda Umanis Prangbakat, Rabu, 29 Mei kemarin adalah pujawali di Pura Lemintang Ayunan. Setiap pelaksanaan pujawali, selalu dilaksanakan memohon tirta ke Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang di Denpasar. Pura Lemintang Ayunan saat ini disebut tidak banyak berubah. Arsitektur bangunan pura, terutama palinggih inti, yakni Ida Ratu Gede Lemintang, Ida Ratu Nyoman, dan Ida Ratu Ngurah, serta kori agung. Ukiran jarang yang jadi kekhasan arsitektur masa lampau masih lestari hingga kini. 

Di samping itu, tarupoh gadang dan poh gading di jaba sisi pura yang menyelamatkan Desa Ayunan di masa lalu juga masih berdiri dan berbuah setiap musimnya. Pohon mangga ini, khususnya poh gading, dikeramatkan dan dipercaya memiliki penunggu, yaitu Ida Ratu Nyoman Sakti atau disebut pula Ida Ratu Niang. Di bawah taru poh gading terdapat palinggih Ida Ratu Nyoman Sakti. Di palinggih ini pula warga dari dalam dan luar desa hingga lintas kabupaten/kota mengucapkan permohonan terutama terkait masalah kesehatan dan kesuburan (keturunan). 

"Di jaba sisi itu juga adalah telaga atau kami menyebutnya Taman. Di sana terdapat ancangan (abdi) Ida Bhatara-bhatari di sini, yaitu I Kebo Dongol," imbuh Mangku Wedana. Telaga bertuah ini dulunya mengisi hampir setengah areal jaba sisi Pura Lemintang. Namun, kemudian diurug untuk membuat jaba sisi yang lebih luas dan menyisakan lebar 3-4 meter telaga yang mengelilingi sisi kiri, depan, dan kanan jaba sisi pura. Rupa ancangan yang menunggui telaga ini disebut beberapa kali menampakkan diri kepada orang yang memang memiliki kelebihan. Wujud Kebo Dongol ini dipercaya diabadikan dalam bentuk patung kepala kerbau yang berada di bawah palinggih gedong Ida Ratu Gede Lemintang. 

Selain ancangan berwujud kerbau, terdapat pula ular poleng (hitam-putih) yang kadang kala muncul di areal pura. Menurut seorang pengayah ditemui Rabu pagi di sela persiapan ritual pujawali, ular poleng ini muncul tidak menentu baik hari biasa atau saat pujawali. 

Sementara itu, Kelian Pamaksan Pura Lemintang, Kadek Abdi Putra Arysmawan,31, membeberkan pada masa tertentu menjelang rahinan (hari suci), tercium bau khas dari areal pura. Pria keturunan kelian pamaksan dari generasi ke generasi ini menyebut, ada aroma ramuan bahkan obat-obatan modern. "Hari-hari mapag (menjelang) rahinan atau hari keramat seperti kajeng kliwon itu ada bau obat-obatan dari areal pura, seperti ada yang melakukan pengobatan padahal kasat matanya tidak ada," ujar Abdi ketika dihubungi via telepon, Rabu sore. Meski bersifat pamaksan, yakni dikelola kelompok tertentu, orang dari berbagai wangsa dan warna turut menyucikan pura ini, terlebih yang doa permohonannya dikabulkan. 

Selain itu, krama pamaksan Pura Lemintang menyebar ke desa-desa tetangga lantaran faktor aksi pelarian di masa lalu. "Pamaksan kami saat ini beranggotakan 112 kepala keluarga (KK). Ini tidak dari Ayunan saja, menyebar ke Desa Blahkiuh, Bongkasa (Abiansemal), Carangsari (Petang), sampai ke Buleleng," imbuh Abdi. 7 ol1

Komentar