nusabali

Anak Masih Rentan Jadi Korban Kejahatan

  • www.nusabali.com-anak-masih-rentan-jadi-korban-kejahatan

SINGARAJA, NusaBali - Anak-anak di Kabupaten Buleleng masih rentan menjadi korban kejahatan. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Buleleng mencatat ada sebanyak 15 kasus kejahatan terhadap anak sepanjang bulan Januari hingga Mei 2024. Dari total belasan kasus tersebut, kekerasan seksual masih mendominasi.

Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengungkapkan, anak rentan menjadi korban tindak kejahatan lantaran secara fisik dan psikologis dianggap lemah. Peran orang tua dan orang dewasa di sekitar anak menjadi faktor paling berperan penting untuk menghindarkan anak menjadi korban maupun pelaku kejahatan.

Ia membeberkan, sepanjang lima bulan terakhir ada 15 kasus kejahatan terhadap anak, di antaranya 3 kasus pemerkosaan, 2 kasis perbuatan cabul, 5 kasus persetubuhan terhadap anak, 1 kasus trauma psikis, 1 kasus anak berhadapan dengan hukum, 1 kasus pencemaran nama baik, dan sebanyak 6 kasus perubahan perilaku.

Menurut Riang Pustaka, masih maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak, sebagian besar di antaranya terjadi karena kurangnya perhatian orangtua kepada anak. Dengan kesibukan orang tua, terkadang mereka tidak ada waktu untuk anak mereka. Selain itu, faktor ekonomi juga disebut bisa mempengaruhi terjadinya kejahatan tersebut.

“Saat kami telusuri, orang tua anak tersebut broken home, dirawat oleh kakeknya. Atau orang tuanya bekerja dan anaknya tidak diawasi. Kadang ibunya buruh, bapaknya buruh, dengan anak itu jarang berkomunikasi. Mempercayakan anak bisa melakukan sendiri sehingga  mulai dengan pergaulan, terpapar gadget. Korban jadinya mereka,” terang dia, dikonfirmasi Jumat (24/5).

Riang Pustaka menyebut, pengentasan kasus kejahatan seksual ini harus dilakukan sejak dini. Selain melakukan sosialisasi kepada orang tua juga perlu adanya sosialisasi menyasar anak-anak. Pemberian sosialisasi sejak dini dilakukan, agar nantinya ketika mereka menjadi orang tua bisa memberikan waktu untuk mendengarkan cerita dari anak mereka.

“Sebenarnya kami latih anak agar tau kelak jadi orang tua bagaimana. Karena orang tuanya itu tidak mengetahui berkomunikasi dengan anak yang benar. Seolah-seolah dengan bekerja mendapatkan penghasilan itu sudah cukup. Yang paling penting, walaupun kita capek begitu di rumah quality time itu yang paling penting,” kata dia.7 mzk

Komentar